Sunday, 25 February 2018

Jalani, Nikmati, Syukuri Hidupmu, Karena Kamu Berhak Untuk Bahagia


Kita punya hak untuk bahagia. Ya, kita berhak mendapatkannya. Sebab bahagia tak menjadi hak orang tertentu. Pun tak perlu syarat materi, yang terkadang menjadi sumber malapetaka.

Bagi orang yang bersyukur, bahagia itu sederhana. Sesederhana mengolah rasa dalam menyikapi hidup. Dan bagi orang yang bersabar, bahagia itu cukup simpel, sesimpel mereka dalam menghadapi masalah hidup. Dan bahagia terbentuk bukan dari ketiadaan masalah disekitar kita. 

Tetapi lahir dari masalah dan bagaimana cara mengatasinya. Sebenarnya kata kuncinya adalah, “Jalani, Nikmati, Syukuri”. Dan kata kunci itulah yang menjadi judul sebuah buku karya pak Dwi Suwiknyo.

Dalam kehidupan yang sementara ini, tidak sedikit menemukan sesuatu yang membuat hati ini terasa teriris. Ada saja hal yang menggoyahkan ketenangan dan kedamaian diri. Padahal kalau ingin paham hakekat hidup, tentu tidak pernah sepi dari musibah dan cobaan. Kita hanya perlu menerima apa yang telah terjadi.

“Memang sudah seharusnya hidup kita ini ada pahit-pahitnya”. (hal 70)

Ya. Pasti kita akan menemui rasa pahit dari hidup. Kalau hidup terus-terusan enak dan lancar, justru tidak ada seninya. Seperti film yang dari awal sampai akhir tidak ada konfliknya. Bagaimana rasanya nonton film kayak gitu? Tentu sangat membosankan. Begitu juga dengan hidup. Justru perlu ada pahitnya agar tahu manisnya bahagia setelah menemui kesulitan.

Banyak saya temukan kata-kata nasehat didalam buku ini yang seperti mengingatkan saya supaya enjoy dalam menikmati hidup. Hampir disetiap pembahasanpun sering klop dengan kejadian yang pernah saya alami.

Dari situ kemudian saya merenung sejenak, apa iya, saya sudah menikmati, mensyukuri dan menjalani hidup ini dengan bahagia?
Sebab rasanya terlalu sia-sia jika hidup tak bisa bahagia meski kebutuhan sudah tercukupi. Maka dari itu,
“Mari kita belajar bahagia dengan menjalani peran kita masing-masing, menikmati apa yang sudah menjadi kewajiban kita, dan mensyukuri segala sesuatu yang telah Allah amanahkan kepada kita”. (hal 51)

Saya tipe orang yang mudah berpikir negatif kalau mendapati hal yang tidak enak dihati. Namun setelah difikir lagi, pikiran negatif itu tumbuh dari diri sendiri dan bisa jadi orang lain tidak berfikir demikian sebagaimana yang saya fikirkan.

Tersebab itulah saya biasa memantrakan diri jika mendapati sesuatu yang tidak saya senangi, baik yang datang saat di perjalanan, atau saat bersama teman kerja atau juga bersama pasangan dengan “sabar, sabar, sabar”. Pada saat kerjaan dikantor banyak dan segera ingin selesai saja, saya tanamkan diri dengan “jangan terburu-buru, jangan terburu-buru”.

“Apa yang kita kerjakan sangat dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan sangat dipengaruhi oleh kata-kata yang tersimpan (tertanam) di dalam pikiran.” (hal 101)
Ternyata cukup ampuh menanamkan energi positif pada diri dengan ucapan itu. Kata-kata yang mungkin menurut orang lain sepele tapi memiliki kekuatan yang menguatkan hati dan mempertahankan mood yang baik di setiap aktifitas.
Maka, dari pada berfikir dari hal yang tidak-tidak, baiknya disetting pikiran kita pada yang positif saja.

“Hati-hati, apa pun yang kita pikirkan akan sangat memengaruhi mood dan memengaruhi kualitas aktifitas (hidup) kita.” (hal 250)

Dan bila teman kerja, atasan atau bahkan pasangan hidup saya telah melakukan sesuatu yang menyakiti hati, saya berusaha untuk tidak membenci orangnya, tapi cukup benci saja perilakunya.

“Jika ban mobil kempis, tamballah bannya, jangan buang mobilnya. Jika ada satu kesalahan saudaramu, maafkanlah, nasihatilah, jangan orangnya yang dibenci”. (hal 124)

Bagi saya, sayang sekali jika langsung memutuskan untuk membenci orangnya. Sebab dari situ peluang untuk menasehati akan tertutup rapat. Memang tidak mudah sekedar membenci pelakunya tanpa orangnya. Tapi itulah cara yang baik demi memelihara mata rantai kebaikan.

Saya kemudian menemukan Quote menarik.
“Pandang kesuksesan orang lain itu sebagai motivasi, bukan iri hati” (hal 152)
Kalimat ini yang ingin terus saya lakukan. Saya yang masih terbilang jauh dari mahir menulis, sangat butuh motivasi dari mana saja, termasuk melihat karya orang lain yang sukses menembus penerbit besar. Bagi saya karya-karya yang berjajar di rak buku baru adalah kesemangatan tersendiri. Dan itu bisa menaikkan motivasi saya agar segera menyusul menelurkan karya sebagaimana yang saya impikan.

Kalau sekedar diirikan justru tidak baik untuk hati. Iri hanya akan menyesakkan hati setiap ada orang yang sukses. Bagaimana kalau setiap hari mendapati orang sukses, bisa-bisa jantung makin sesak dan terkena serangan jantung. kan repot. Hehehe.

Saat pertama kali saya mulai menulis, rasanya ingin segera cepat bisa dan menguasai teknik menulis dengan baik. Tulisan saya ingin dijadikan renungan untuk orang lain dan menjadi wasilah perubahan hidup seseorang menjadi lebih baik. Setiap menulis motivasi saya seperti itu. Hingga kemudian saya mencoba mengirim tulisan ke website Islam yang ratingnya cukup tinggi. Alhamdulillah diterima. Senang sekali rasanya bisa berbagi walaupun tidak dapat apa-apa.

Naik lagi saya mencoba untuk mengirim naskah ke Majalah Islam yang biasa menjadi langganan bulanan saya. Berkali-kali saya kirim tidak pernah dimuat. saya kecewa, kenapa kok tidak diterima. Namun saya berusaha menghibur diri, mungkin butuh proses yang cukup panjang agar bisa menembus majalah yang saya inginkan.
“Tidak ada masalah kita ingin cepat sukses. Namun akan beda halnya dengan kita pengin cepat-cepat sukses. Yang perlu kita tumbuhkan ialah kesadaran bahwa sukses tanpa pondasi yang kuat itu sama artinya dengan membangun rumah mewah dengan pondasi yang rapuh.” (hal 196)

Bisa jadi saat saya diterima langsung dan berhasil tulisan saya menembus majalah, mudah tinggin hati dan pengin dipuji serta ingin diakui orang yang bisa menulis. Dan penolakan naskah saya sangat mungkin juga karena kwalitas tulisan masih belum layak untuk disajikan kepada pembaca.

Dan naskah yang tidak terima itupun bagi saya menjadi pelajaran untuk meningkatkan skil agar lebih cakap lagi dalam mengemas tulisan dengan baik dan benar. Benar saja. Sekitar 3 tahunan setelah itu, barulah saya sering mengirim naskah ke redaksi majalah. Tak lama kabar gembira itupun tiba. Tulisan saya sudah bisa dinikmati oleh pelanggan majalah itu. Memang prosesnya cukup lama, tapi waktu yang panjang itu menjadi latihan untuk mental saya sekaligus meningkatkan kwalitas tulisan supaya enak dibaca, terlebih orang bisa mengambil lebih banyak manfaat.

Saat saya dirudung masalah dalam pekerjaan, disitu saya terkadang perlu melihat orang yang pekerjaannya jauh lebih susah dibanding saya. Seperti kedua teman saya yang harus keluar kantor mengirim barang dan mencari agen-agen sejabodetabek. Sedangkan saya hanya didepan computer melayani costumer via online. Dari situ saya kemudian menikmati kembali pekerjaan saya dan bisa maksimal melakukan amanah yang dipercayakan kepada saya.
“Berfikir positif dan selalu bersyukur. Ingat, bisa jadi diluar sana banyak sekali orang yang menginginkan pekerjaan (Posisi) seperti kita saat ini. Jangan lupa tersenyum”. (hal: 223)
Ya benar. Saya menjadi bersyukur saat melihat orang disekitar saya yang pekerjaannya cukup merepokan dibanding saya. Bisa jadi mereka menginginkan posisi seperti saya ini. Padahal sebelum saya menjadi seperti itu ya dulunya sama seperti mereka. Hampir tiap hari kerjanya diluar.

Mungkin orang lain menganggap pekerjaan saya ini bukan hal yang luar biasa. Tak ada yang spesial, hanya menerima pelayanan siapa saja yang ingin membeli Al-Qur’an. Tapi bagi saya ini adalah istimewa. Sejak dulu saya ingin bekerja di sebuah penerbitan.
Ingin tahu bagaimana isinya penerbit. Bagaimana proses dari hanya sebuah naskah mentah, menjadi buku yang layak dipasaran. Itu saya dambakan bertahun-tahun sebelumnya.
“Apa yang kita anggap biasa-biasa saja, bisa jadi bagi orang lain sangat berharga. Begitu juga apa yang orang lain anggap biasa-biasa saja, bisa jadi bagi kita justru sangat beharga.” Hal 157.

Buku bercover merah dan setebal 259 halaman ini, seolah mengoreksi sisi kehidupan kita yang membuat kita jauh dari kata bahagia. Bagi saya penulis yang dengan gaya tulisan seperti mengobrol biasa sesama teman di warung kopi, telah mampu memaparkan dengan detail masalah yang sering muncul dan bagaimana harus bersikap. Dan yang menariknya adalah dalam beberapa pembahasan menyelipkan kisah sebagai contoh dari pemaparan yang dijelaskan.

Terakhir, Buku ini layak bagi kita yang ingin memperbaharui cara menemukan kebahagiaan yang terselip pada akfitifitas kita. Mau karyawan swasta, buruh, pengajar, ibu rumah tangga, pengusaha, OB, satpam dll. cocok untuk memiliki buku ini.

Tak perlu tunggu kaya kalau ingin bahagia. Sebab nyatanya tak semua orang kaya bahagia. Tapi jalani saja peran kita, nikmati apa yang sudah ditakdirkan untuk kita, dan syukuri anugerah yang telah Dia berikan.
“Kebahagiaan adalah anugerah dari-Nya yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sehat”. (hal 154)





2 comments:

  1. Reviewnya keren, Mas. Berasa baca bukunya beneran nih aku hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe ... Lebih enak baca bukunya Yang pasti. .
      Makasih mbak udah ninggalin jejak . Udah lama gx da yang komen soalny . .Hehehe

      Delete