Thursday, 28 September 2017

Kehidupan Hanya Seperti Tiga Hari

“Mau berapa lama hidup di dunia?”

Pertanyaan diatas mungkin terasa aneh. Sebab kita tak ada yang tahu satupun bakal meninggalkan dunia. Tapi sepertinya kalau ditanya tentang tinggal berapa lama singgah disuatu tempat, tentu pertanyaan itu akan mudah dijawab. Dunia yang kita singgahi ini, menurut Hasan Al-Bashri, Ulama Besar Tabi’in, adalah seperti tiga hari saja.
Kenapa hanya tiga hari?

Mari kita telusuri jawabannya.
Beliau berkata, “Dunia itu ada tiga hari. Hari kemarin sudah berlalu apa yang ada di dalamnya, adapun hari esok, boleh jadi engkau tidak mendapatkannya, adapun hari ini milikmu, maka beramal-lah engkau di dalamnya.”

Hari pertama: Hari kemarin
Apa yang telah berlalu akan menjadi hari kemarin. Hari yang sulit, pedih, susah, dan hari yang penuh ketidaksukaan akan menjadi hari kemarin. Gembira, cinta, senang suka cita dan hari yang berbunga-bunga pun akan menjadi hari kemarin. Hari pertama ini bisa menjadi sejarah bagi kita. Ia juga menyimpan misteri yang bila dipecahkan akan keluar hikmah dan pelajaran untuk kita.
Seorang penyair berkata:
Yang lalu telah berlalu, dan harapan itu masih gaib
dan engkau pasti punya waktu di mana engkau harus ada
Jangan sampai hari yang lalu menjadikan kita susah bergerak. Hari yang lalu tetap pergi dan tak kembali.  Karena tidak ada yang dapat mengembalikan waktu yang terus berputar. Maka ubahlah hari kemarin menjadi sebuah renungan dan pelajaran agar tidak terperosok pada lubang yang sama.
Namun bila sebelumnya melewati hari yang indah dan senang, maka kedepannya bisa menjadi acuan agar hari selanjutnya dibuat lebih indah dan menyenangkan.

Hari kedua: Hari Esok
Esok adalah hari yang misterius. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok. Perkara esok merupakan hal ghoib. Berbagai rencana matang yang telah disiapkan untuk esok hari, bisa jadi kandas ditengah jalan. Atau tidak ada rencana sama sekali saat itu, tiba-tiba sudah berada di suatu tempat yang didambakan.
Coba kalau mau, kita masuk rumah sakit yang pasiennya sakit karena kecelakaan.  Tanya satu persatu, apakah sehari sebelumnya mereka tahu kalau akan terjadi seperti itu, dan akhirnya tergolek lemah di ranjang? Pasti jawabannya tidak. Bahkan sampai orang bunuh diri pun bisa saja  gagal, meski sudah persiapan dengan sangat baik dan matang.

Itulah “ajaibnya” hari esok. Segala taqdir berjalan pada esok ini. Tapi juga tidak akan meninggalkan sebab musabbab. Karena tidak ada api kecuali didahului asap.
Hari esok pun bisa saja tidak kita miliki. Siapa tahu kematian lebih cepat dari datangnya esok hari.
Dari hari kedua ini, manusia terbagi menjadi dua. Manusia optimis dan manusia pesimis.
Manusia optimis adalah manusia yang melihat masa depan dengan tatapan semangat dan melangkah maju tanpa memikirkan hal-hal buruk yang bisa jadi akan menimpa. Manusia optimis hanya fokus pada tujuan pencapaiannya. Kekurangan fisik dan materi tak menjadi halangan. Karena ia memandang selama ada kemauan, pasti ada jalan.
“where there is a will there is a way”
Begitu kata pepatah.
Manusia Pesimis adalah manusia yang melihat masa depan dengan pandangan yang suram. Selalu memikirkan perkara buruk yang dikhawatirkan menimpanya. Terlalu banyak pertimbangan dalam setiap langkah. Melangkah kekiri khawatir terjebak. Melangkah kekanan khawatir ditipu. Melangkah kedepan khawatir menyesal. Akhirnya manusia seperti ini diam ditempat. Tidak ada perkembangan dalam hidupnya. Takut menghadapi kemajuan. Padahal orang berkembang dan maju selalu bersinggungan dengan perihnya kegagalan. Kalau orang optimis selalu mengatakan, “setiap kesempitan pasti ada peluang”. Tapi orang pesimis mengatakan, “semua peluang sudah tertutup”.
Pepatah melayu bilang, nak atau tak nak. Kalau nak seribu daye. Kalau tak nak seribu dalih.
Artinya, “Mau atau gak mau. Kalau mau seribu usaha, Kalau gak mau seribu dalih (alasan)

Itulah hari esok, yang bisa mengubah karakter pribadi seseorang dalam menjalani hidup.

Hari ketiga: Hari ini
Hari ini adalah milik kita. Kehidupan yang sesungguhnya, dan anugerah yang harus kita syukuri dengan beramal kebaikan didalamnya. Tidak ada yang dapat merebut hari ini dari kita. Maka beramallah, karena kesempatan hanya pada hari ketiga ini. Taruh semua rasa malas yang biasa memperdaya kita. Jadikan setiap gerak Lillah, untuk Allah, agar apa yang kita lakukan berbuah keberkahan. Sebab Dia jugalah yang memudahkan urusan dunia kita sampai kita mendapatkannya.
Hari ketiga ini yang bisa mengubah hari pertama menjadi baik. Masa lalu yang buruk lambat laun berangsur baik disebabkan keputusan hari ini. Jangan sampai hari yang Allah berikan, kita sia-siakan dengan melakukan hal yang tak bermanfaat. Sebab itu akan mempengaruhi masa kedepan kita.

No comments:

Post a Comment