Sunday, 16 July 2017

Surat Tulang Dari Khalifah


Pada masa khalifah Umar bin Khattab, Mesir berada dibawah gubernur Amr bin Ash. Kehidupan gubernur ini begitu mewah. Pernah suatu ketika ia terbetik untuk membangun masjid besar didekat istananya. Tanpa butuh waktu lama, ia eksekusi idenya tersebut. Namun terhalang dengan gubuk reot milik seorang yahudi yang sudah tua.

Tanpa basa basi, Amr bin Ash hendak membelinya. Tapi si yahudi bersikeras tidak mau menjual rumah satu-satunya itu. Amr bin Ash tidak kehabisan akal. Ia menawarkan harga lebih tinggi, bahkan dua belas kali lipat dari harga normal. Lagi lagi si yahudi tetap pada pendiriannya.

Dengan rasa kesal, Gubernur Mesir tersebut menggusur rumah reot yang telah lama tinggal diarea itu. Dengan lelehan air mata, si yahudi hanya bisa menyaksikan aksi penggusuran tempat tinggalnya. Dia kemudian akan melaporkan perbuatan yang dianggap semena-mena itu kepada Khalifah Umar bin Khattab di Madinah.

Sepanjang perjalanan si yahudi berfikir, apa iya sikap khalifah berbeda dengan gubernur Damaskus? Ia khawatir kalau-kalau laporannya tidak membuahkan hasil. Sesampainya di Madinah, ia bertemu sang khalifah sedang duduk-duduk dibawah kurma, tanpa satupun pengawal yang menjaganya. Awal kali bertemu, ia tidak menyangka kalau itu adalah khalifah, pemimpin tertinggi penguasa negeri-negeri muslim. Namun setelah bertanya, barulah ia tahu. Terselip di hati rasa heran yang besar akan tampilan seorang pemimpin besar.

Si Yahudi mengadu perihal kedzaliman yang menimpanya, bahwa rumahnya telah digusur oleh gubernur negeri dimana ia tinggal. Sang Khalifah meminta dicarikan tulang unta. Setelah dapat, Sang Khalifah Umar membuat garis lurus pada tulang itu, lalu diberi garis datar diatas garis sebelumnya.
Tulang tersebut selanjutnya menjadi surat “pesan rahasia” bagi Khalifah ke bawahannya. Orang yahudi tidak paham apa-apa. Jauh-jauh dari Damaskus ke Madinah hanya membawa tulang, bukan solusi yang mencerahkan hatinya. Harapan mendapat keadilan seakan tidak ia dapatkan.

Setelah sampai di Damaskus, “pesan rahasia” berbentuk tulang diserahkan ke Amr bin Ash. Sekonyong-konyong tubuh sang gubernur bergetar. Wajahnya pun berubah pucat pasi setelah melihat pola garis pada seonggok tulang. Beranjak dia perintahkan rakyatnya  untuk merubuhkan masjid yang tengah dibangun, dan kembali mendirikan gubuk reot yang sebelumnya digusur.

Si Yahudi masih terheran-heran mengenai kejadian ini. Namun sebenarnya diawal ia sudah mulai merasa heran. Sebab setelah mengadu permasalahannya, kok malah disuruh mencari tulang. Dan keheranannya makin bertambah setelah mendapati reaksi penerima “pesan rahasia”.

Yahudi itu seakan tidak kuat lagi dari beberapa peristiwa aneh yang ia alami. Atas kekepoannya, ia beranikan diri bertanya kepada Gubernur, “Wahai Tuan, mohon jelaskan perkara ini. Terbuat dari apakah tulang itu, apa istimewanya sampai memutuskan untuk membongkar bangunan yang begitu mahal. Saya benar-benar tidak mengerti.”

“Tulang ini merupakan peringatan keras terhadap diriku” kata Amr bin Ash. “Dan tulang ini merupakan ancaman dari Khalifah Umar bin Khattab. Artinya, “Apa pun pangkat dan kekuasaanmu suatu saat kamu akan bernasib sama seperti tulang ini, karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah. Sebab kalau kamu tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala saya”.

Begitu mendengar penjelasan tersebut, dalam hati terdalam si yahudi muncul rasa haru. Dari haru itupun berubah menjadi kekaguman yang membuncah terhadap ajaran Islam. Ajaran yang begitu adil terhadap rakyatnya meski berbeda agama.

“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Aku rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Bimbinglah aku dalam memahami ajaran Islam!”. Ujar kakek tua.
Akhirnya Yahudi memeluk Islam dan mengikhlaskan gubuknya untuk perluasan masjid. Dengan keadilan Khalifah Umar bin Khattab, dengan izin Allah mampu menggerakkan hati seseorang kembali kepada ajaran fitrah. Itulah keadilan yang didamba pada kekuasaan saat ini. Sebuah keadilan yang menembus batas ras, agama, suku dan bahasa. Tak melihat apapun latar belakang seseorang.

Selama seseorang berkuasa terhadap suatu hal, berarti ada tanggung jawab yang harus diemban hingga kekuasaan itu tercabut. Kekuasaan bukan anugerah, tapi amanah yang akan ditanya setelah mati. Mensejerahterahkan rakyat merupakan tuntutan yang harus diupayakan bagi sang pemimpin.
Sebab siapa yang terpilih menjadi pemimpin, berarti telah siap mengambil langkah memberi kedamaian dan kemakmuran. Dan memimpin bukan menjadi alat untuk meraup keuntungan, apalagi menebar kedzaliman.

No comments:

Post a Comment