Saturday, 29 July 2017

Kita Hanyalah Seperti Traveler

Sahabat Umar bin Khattab RA. suatu ketika mendatangi rumah Rosulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun sepertinya rumah itu lebih layak disebut bilik kecil disisi masjid Nabawi. Al-Faruq mendapati sang mulia sedang tidur beralasan tikar yang memberi bekas-bekas guratan pada badannya.
Tetiba saja pemandangan tersebut membuat sisi terdalam sahabat yang terkenal tegas dan keras di Makkah itu muncul. Air matanya mengucur, merasa iba dengan keadaan Rosulullah.
Rosulullah mengetahui ada Umar yang sedang menangis, lantas bertanya, “Kenapa engkau menangis wahai Umar?”

“Bagaimana saya tidak menangis” Jawab Umar ditengah isak tangisnya, “Kisra (Raja Kisra dari Persia) dan Kaisar duduk di atas singgasana bertatakan emas, sementara tikar ini telah menimbulkan bekas di tubuhmu. Padahal engkau adalah kekasih-Nya,”.
“Mereka adalah kaum yang kesenangannya telah disegerakan sekarang juga” Kata Rosul menghibur,
“Dan tak lama lagi akan sirna, tidakkah engkau rela mereka memiliki dunia sementara kita memiliki akhirat…?”
“Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk hari akhir”, Lanjut Rosul,
“Perumpamaan hubunganku dengan dunia seperti orang bepergian di bawah terik panas. Dia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian pergi meninggalkannya.”
Demikianlah penggambaran secara sempurna posisi kita di dunia. Kita layaknya traveler, pengembara yang istirahat sejenak disebuah tempat. Mengumpulkan bekal lalu pergi. Sifat pengembara tidak akan membawa sesuatu hal yang tidak perlu. Sebab itu akan memberatkan dalam perjalanan panjang. Yang dibawa hanyalah sesuatu yang bermanfaat saja. 

Dalam suatu waktu, Rosulullah pernah memegang pundak anak dari khalifah kedua, Abdullah bin Umar bin Khattab. Lalu Rosul menasehatinya, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.”
Nasehat dari mulut agung yang bersumber wahyu tersebut, mengajak kita menjadikan kehidupan kita seperti musafir. Sebab hakikatnya kita dalam suatu perjalanan menuju Rabb kita. 

Hidup yang secara kasat mata mampu membuat kita terkagum-kagum lalu kemudian menjadikan kehidupan ini layaknya traveling, tentu bukan perkara yang mudah. Sebab hal itu sama saja menekan kuat kecenderungan sisi manusia yang menyatu dengan nafsu. Namun bagi yang mampu, berarti telah menutup peluang-peluang halus syetan untuk menggoda kita.

Bila dunia sudah kita anggap hanyalah tempat perjalanan, segala perhiasan tak ubahnya seperti barang yang tak berharga. Bahkan lebih hina dari pada sekepak sayap nyamuk. Namun, bukan berarti menyepelekan dan lantas membuang seluruhnya barang dunia. Tapi mengambil dunia hanya agar lebih dekat kepada pencipta.

Wallahu A'lam Bisyowab

No comments:

Post a Comment