Monday, 24 April 2017

Yakin, Hidup Kita Tak Ada Dosa?

Tak ada gading yang tak retak. Begitu pepatah mengatakan. Artinya tidak ada manusia yang tak punya salah. Sesempurnapun orangnya, tetap pernah melakukan kesalahan. Tapi Allah menyediakan suatu media dimana kesalahan yang sangat mungkin melahirkan dosa dengan suatu pertaubatan.

Disinilah sering kali yang membedakan banyak manusia. Bertaubat. Tidak mudah taubat itu dilakukan. Banyak faktor kenapa taubat bisa terhalang. Diantaranya karena merasa tidak ada dosa. Kalau ini yang sudah menjadi faktornya, apapun dosa yang dilakukan, maka tidak terbesit sedikitpun bergerak untuk taubat. Tapi bila sadar telah melanggar perintah, sekecil apapun dosanya, bongkahan hati akan mudah menerima cahaya taubat.

Lihatlah bagaimana nabi Adam. Dia melanggar larangan Allah agar tidak mendekati dan memakan buah terlarang. Tapi apa yang terjadi? Setelah Adam langgar itu, ia sadar kalau telah berbuat dosa. Maka Nabi pertama ini langsung bertaubat. Mengakui semua kesalahan dan menyesal dengan penyesalan mendalam.
Permohonan taubatnya diabadikan oleh Allah dalam kitab suci-Nya,

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23).
Berbeda dengan iblis. Saat dia tidak mau mengikuti perintah Allah dengan tidak sujud kepada Adam, bukannya meminta ampun karena dengan lancangnya tidak menuruti perintah sang Khalik, tapi dia justru makin melenceng. Tidak merasa bahwa ketidaksujudan itu adalah suatu bentuk kesalahan. Bahkan sampai mengeles kalau dia tidak layak sujud kepada Adam. Karena api lebih mulia dari pada tanah.

Dia sama sekali tidak mengakui kalau dirinya benar-benar salah. Malah Iblis kemudian berjanji kepada Allah untuk menyesatkan adam berserta cucu-cucunya hingga hari kiamat.
“Iblis menjawab : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)

Merasa bersalah, kemudian mengakui kesalahan inilah yang menjadi unsur pembeda antara Adam dengan Iblis. Dengan mengakui bahwa telah berdosa, berarti tinggal selangkah lagi melakukan taubat.
Tapi meski melakukan dosa kecil dan tak merasa kalau yang dilakukan salah, maka media taubat sebagai pelebur dosa seakan tidak akan hadir dalam hidup pendosa.

Jangan sampai watak kita seperti Iblis. Setelah melakukan dosa tidak merasa berdosa. Coba kita buka-buka lagi lembaran kehidupan yang telah kita jalani. Tentu ada saja terselip bau anyir dari tumpahan dosa yang mungkin tidak kita sadari. Jika kita tidak sadar, terkadang Allah mengingatkan dengan musibah kecil agar mau sadar dan kembali bertaubat. Bagi orang yang sensitif pasti bisa merasakan peringatan ini.

Pernah di Zaman Khalifah Umar bin Khattab terjadi sedikit gempa. Umar bin khattab langsung instropeksi diri, pasti ada dosa yang dilakukan rakyatnya.
Namun sayangnya sensifitas tersebut diukur dengan kadar keimanan yang kuat. Bila iman lemah akan sulit merasakan bahwa musibah atau ujian yang menimpa adalah sebuah peringatan.  Bahkan seringkali dianggap kesialan belaka.

Semakin kuat iman, sekecil apapun musibah yang menimpa maka langsung merasa bahwa ada peringatan dari-Nya. Sebagaimana Umar bin Khattab tadi. Tapi bila iman lemah, sekecil apapun musibah dengan bentuk yang bermacam-macam, tidak akan sadar kalau itu adalah peringatan dari-Nya.

Mari kita terus pupuk iman kita agar semakin kuat sehingga menyuburkan rasa sensitif terhadap dosa. Kedepannya pun kita menjadi pribadi yang selalu memperbaharui taubat.

#Tuhan,HidupkanAkuSekaliLagi

#OneDayOnePost

No comments:

Post a Comment