Thursday, 20 April 2017

Tamu Agung Mau Datang. Siapkah Kita Menjamunya Dengan Baik?

“Kayaknya baru kemaren ramadhan, eh udah mau ramadhan lagi!”.

Mungkin kata-kata itu menjadi perwakilan dari kalimat yang semisal. Merasa heran, seperti waktu setahun berjalan begitu cepat. Tamu itu kembali datang menyapa kita.
Dia mengetuk di setiap pintu rumah umat Islam. Akankah ada penghuni rumah yang bersedia memuliakannya seperti tahun-tahun lalu?
Ataukah dikalahkan oleh urusan dunia yang semakin menumpuk?

Berbagai macam bentuk bagaimana muslim hari ini menyambut tamu agung tersebut. Dari situlah muncul klasifikasi. Secara garis besar ada tiga macam muslim dalam memuliakan tamu agung ini.


Pertama: Sangat gembira dengan kedatangannya. Bahkan berhari-hari sebelum kedatangannya sudah mempersiapkan segalanya untuk menyambut dengan baik agar tidak mengecewakan ketika nanti berpisah. Inilah yang dicontohkan oleh Rasul dan para sahabat. Mereka menyambut dengan suka cita, sering berpuasa sebelumnya dan melakukan ibadah yang dianjurkan pada bulan Sya’ban.

Nabi adalah manusia yang begitu semangat sebelum ramadhan tiba. Ketika bulan itu datang, maka beliau lebih semangat lagi dari sebelumnya. Dan jika masuk pada 10 akhir dari bulan ramadhan, beliau lebih meningkatkan lagi semangatnya. Bila menghadapi lailatul qodr , kesemangatan itu makin besar dari sebelum sebelumnya.

Inilah hakekat pribadi mukmin yang sebenarnya. Begitu tahu akan mendapati waktu dan tempat yang mendatangkan banyak pahala, maka mereka begitu antusias menyambutnya. Tidak ada kata untuk melewatkannya. Dan tidak ada yang mampu menghalangi mereka untuk berjibaku dalam kesibukan demi memuliakannya.

Kedua: orang yang hanya ikut-ikutan semangat ketika ramadhan tiba. Semua tampilan, baik dari pakaian, bahkan sampai musik, ikut-ikutan berbau Islami. Merasa kalau kembali kepada Allah hanya ketika ramadhan saja.
Setelahnya? Wallahu A'lam. Ada yang terus istiqomah, tapi tak sedikit yang kembali seperti tidak pernah melului ramadhan. Dan macam orang kedua ini seperti seolah tidak enak kalau tidak shalat tarawih atau mengaji, minimal selembar atau dua lembar. Dan juga tidak enak jika disebut orang yang tidak menghormati ramadhan. Maka bisa dibuktikan dari banyaknya jamaah shalat. Antara jamaah maghrib dan isya’.
Hampir semua masjid penuh terisi oleh jama’ah yang bisa disebut dadakan. Baik dari jamaah laki-laki maupun perempuan. Namun penuhnya jama’ah ternyata hanya minggu awal saja. Pada minggu selanjutnya shaf shalat semakin naik, hingga mungkin sampai setengah shaf. lalu kemana jamaah dadakan? Yah... Mereka hanya dadakan. Ikut-ikutan. Semangat diawal, dan sampai dipertengahan ramadhan seperti daun yang berguguran dari ranting di musim semi.

Ketiga: orang yang sama sekali tidak berpengaruh akan datangnya tamu Allah. Mereka tidak menjamunya dengan baik. Bahkan tidak merasa bahwa ada tamu agung datang dan mengetuk rumah mereka. Orang ini lebih buruk dari macam manusia sebelumnya. Orang ketiga ini seolah tak mau tahu keutamaan dari bulan yang mulia. Dia menjadi manusia yang banyak membuang kesempatan berharga, yang jika dibandingkan dengan kesibukan dalam urusan dunianya, sama sekali terlihat remeh. Orang seperti ini telah tertipu dengan kesenangan palsu dunia. Merasa bahwa kesenangan didapat dari mengumpulkan banyak harta dan meninggalkan akherat.

“Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan Para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu Lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (QS. Al-Hadid: 20)

Ini menjadi bahan intropeksi untuk kita.
dimanakah letak posisi kita sebagai muslim.
Apakah kita memuliakan tamu dengan baik sampai tamu itu pergi?
Apakah memuliakan tamu hanya sekedar ikut-ikutan, dan setelah tamu pergi, tak ada pengaruh kebaikan?
Atau kita seperti macam yang ketiga, sama sekali tidak berpengaruh, datang atau tidaknya tamu? Padahal bulan ramadhan sangat mempengaruhi pribadi muslim. Menjadi bulan penggemblengan yang ampuh, dan mampu mengubah muslim biasa menjadi muslim bermental taqwa.

Tamu yang datang sebentar lagi, sudah barang tentu diantara kita tak ada yang tahu akan bertemu dengannya di tahun mendatang. Bayangkanlah kita ibarat lilin yang banyak dalam keadaan menyala. Ada yang panjang dan pendek. Manakah yang akan lebih mati awal? Kita langsung menebak bahwa lilin yang akan cepat mati adalah lilin yang pendek. Tapi jangan dikira, bahwa yang panjang pun justru bisa lebih cepat mati dari pada yang pendek. Karena bisa jadi dia tertiup angin kencang lalu mati. Itulah perumpamaan kita.

Bisa jadi kita tidak akan bertemu lagi pada bulan ramadhan setelahnya. Karena tidak ada yang menjamin bahwa umur kita sampai ke tahun selanjutnya. Dan tak ada yang tahu, orang yang lebih muda bakal lebih cepat mati dari pada yang tua. Jadi, marilah kita jadikan ramadhan nanti, seperti kita akan meninggalkannya dan tidak bertemu lagi setelahnya. Dengan ini semoga kita menjadi manusia yang lebih semangat lagi dalam memburu pahala dalam bulan mulia demi mencapai Ridho-Nya.

Wallahu a’lam bisyowab.

No comments:

Post a Comment