Tuesday, 11 April 2017

Pengamen Jalanan

Saya dan seorang teman sedang asyik duduk di sebuah ruangan, menunggu jadwal keberangkatan bis di salah satu agen bus Bekasi.  Terdengar suara musik cukup keras dari arah luar. Tak lama muncul 3 sosok "makhluk berambut panjang.
"Oh ternyata ada perempuan lagi ngamen", pikir saya.
 Namun tak sengaja saat melihat sekilas wajah mereka, Innalillah, alangkah kagetnya saya. Ternyata 3 manusia berambut panjang itu laki-laki semua.
"Ya Allah, Mimpi apa semalam kok bisa ketemu sama orang yang ngeri kayak gitu?"


Itulah, kalau penampilan memang bisa menipu pandangan. Tampang wanita jadi-jadian itu tak karuan. Bibirnya berlipstik, wajahnya penuh dengan make up dan alis mata yang tebal, tampak sekali seperti muka-muka wanita menor. Dan pakaianpun tak mau kalah saing dengan tampangnya. Rok sepaha dan pakaian ketat lagi minim. Tetap saja itu semua tak bisa menutupi tampang laki-laki mereka. Sungguh miris melihat pemandangan aneh ini.

Salah seorang mereka menggantungkan alat musik di lehernya. Dua yang lain dengan gerakan bebas bak seorang penyanyi ulung berlenggak lenggok, mendekati para calon penumpang sambil meminta uang. Terkadang ia hempaskan rambut panjangnya dengan sedikit meloncat. Entah apa tujuannya. tapi yang melihat adegan itu mengundang para calon penumpang tertawa geli melihat mereka.

“wes nyalahi kodrat tenan kui!”  Kata orang tua dengan bahasa jawa yang duduk disebelah saya. Tiba-tiba saja dia berkomentar atas kelakuan aneh pengamen jalanan setengah wanita itu.

Itulah sepotong kehidupan manusia yang berusaha menyambung hidup dengan cara bebas. Tak tahu halal haram, yang penting bisa bertahan di arus kota besar. Para peminta-minta hari ini, khususnya di kota-kota besar begitu banyak. Semakin banyak pula motif yang dilakukan. Dari cara mengeluarkan suara “emas” dengan PD nya di depan para penumpang bis, atau langsung meminta dengan gaya suara keras dan cenderung maksa. Atau juga dengan cara menjadi biduan setengah wanita seperti yang saya saksikan saat itu.

Pemerintah seolah tak mau tahu atas pekerjaan mereka. Akibatnya pekerjaan itu semakin dilestarikan oleh anak-anak keturunan mereka dan orang-orang yang susah mencari pekerjaan.  Anehnya mereka semakin “bereksplorasi” dalam meminta-minta uang. Akhinya muncullah berbagai macam cara. Salah satunya menjadi pengamen biduan wanita setengah jadi.

Dari gayanya yang menyalahi kodrat saja sudah bisa dikatakan merubah takdir. Seharusnya dia laki-laki, tetapi malah memilih menjadi wanita. Orang macam itu bisa dikategorikan tak puas akan takdir yang Allah beri. Di tambah lagi mencari uang dengan cara mengamen, yang hakikatnya adalah meminta-minta. Double sudah catatan dosanya.  Orang pun dengan akal sehat sangat jijik melihat orang seperti itu. Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih sehat lagi dari pada harus menjadi wanita jadi-jadian dan mengamen di jalan-jalan?


Kalau dilihat dari segi fisik, mereka mampu mencari pekerjaan seperti kuli bangunan, kernet mobil bis atau angkutan Atau bisa juga menjadi tukang parkir dan pedagang asongan. Tapi karena malas yang sudah mendarah daging dalam hidupnya, maka mereka merasa nyaman dalam pekerjaan yang tak tahu malu tersebut. Sejujurnya saya tidak mau memberi uang kepada pengamen yang jika melihat fisiknya, masih kuat dan kelihatan sehat. Justru jika diberi uang, pengamen macam itu semakin betah dengan pekerjaannya. Bahkan menjadikannya sebagai profesi tetap. Namun saya iba dan saya beri uang bila yang mengamen adalah orang yang cacat fisik, seperti buta, tangan atau kakinya tidak ada atau cacat lainnya. Karena jelas, ia terganggu mencari rizki karena kecacatan fisik.

Tentu tidak semua orang memiliki asumsi seperti saya dalam memandang para pengemis. Pilih-pilih dalam memberi uang ke pengemis. Namun sebenarnya hati saya tetap tidak tega kalau tidak memberi. Tapi sebagai pengajaran bagi saya itu sah-sah saja.

Ada seorang teman yang unik bila menghadapi pengamen anak-anak. Pernah suatu ketika saya dan teman lagi memesan nasi goreng di pinggir jalan. Kemudian datang seorang anak untuk mengamen. Saat anak itu selesai menyanyikan lagu "emas"nya dan mulai menyodorkan bungkus permen ke kami dan pembeli lainnya, teman saya ini memanggilnya dan bertanya mengenai hafalan surat pendek dalam Al-Qur'an.
Setelah ditanya, ternyata hafalannya sedikit. Hanya surat tertentu saja yang hafal. Oleh teman saya, anak itu di suruh menyebutkan satu surat yang pendek. Kalau bisa menyebutkan dari pertama sampai akhir ayat, nanti dapat hadiah uang.
Kemudian dia mulai melafadkan. Orang-orang yang ada disekitar hanya memandanginya saja tanpa komentar. Anak itu tetap saja enjoy meski mengucapkan dengan terbata-bata. Tapi akhirnya selesai dan dapat uang.
Sebelum anak itu pergi diberi pesan oleh teman saya itu. Kalau hafalannya banyak nanti bakal dikasih lebih banyak lagi.
Memang unik menyikapi pengamen cilik seperti itu. Tapi menurut saya cukup mendidik. Memaksa anak pengamen yang sudah terbentuk dari lingkungan yang keras. Tentu kalau langsung disuruh ngaji tanpa embel-embel nampaknya berat. Tapi dengan itu mungkin bisa bertahap, lalu selanjutnya mudah diajak untuk berubah.

Semoga para pengamen yang hidup diatas meminta-minta diberi jalan keluar mencari kehidupan yang lebih baik dan sehat. Dan semoga Allah beri keluasan rizki bagi mereka yang mau membuka jalan kepada para peminta-minta yang telah lama tersebar dipelosok kota.

Wallahu a’lam bisyowab.

5 comments:

  1. Aamiin ...

    Mirisnya ketika banyak peminta-minta di negeri ini ya. 🙈

    ReplyDelete
    Replies
    1. miris pokoknya..makin banyak aja yg jadi pengemis...

      Delete
  2. Aamiin ...

    Mirisnya ketika banyak peminta-minta di negeri ini ya. 🙈

    ReplyDelete
  3. Saya suka risih kl lihat pmgamen wanita palsu seperti it...jd ga respect.

    Dan mirisnya banyak org yg justru senang menikmati penampilan mrk yg dianggap menghibur. Akhirnya sebagian merogoh saku dan membrikan sejumlah rupiah. Inilah yg menjadikan mrk brthan dg profesi it. Mudah n ga cape.

    Semoga Allah beri hidayah dan memprmudah mrk mncari rezeki halal. Dan semoga pemerintah kita lebih concern

    ReplyDelete
  4. Kenyamanan memang membuat para pengamen itu betah dengan pekerjaannya. Itu sama saja dengan meminta belas kasihan. Kecuali bagi yang mempunyai cacat fisik.

    Fenomena ini sudah biasa dikalangan kita. Kesadaran untuk memperbaiki tingkat kehidupan kembali ke diri masing-masing.

    ReplyDelete