Sunday, 2 April 2017

Menjalin Ukhuwah Menuju Kebangkitan Dan Kejayaan Umat Islam


Ust. DR. Adian husaini MA. Berkesempatan mengisi di sebuah acara gerakan shubuh  pada 2/4/17 di masjid Al-Muhajirin Cikarang. Beliau yang dikenal sebagai tokoh pemikir untuk membendung pemikiran intelektual yang kebablasan (sepilis: sekuralisme,  pluraslime dan liberal), menyampaikan wawasan keilmuannya. Berikut saya sajikan poin-poinnya.

-   Umat Islam saat ini diberi nikmat kebebasan yang tidak dirasakan oleh umat Islam dibelahan negeri lainnya. Rohingya Contohnya. Sudah berpuluh tahun status kependudukan mereka tidak jelas. Meminta kepada pemerintah mereka agar diakui sebagai rakyat yang legal, tapi selalu tidak diizinkan. Hidup mereka dalam kedaan tak memilki tempat tinggal tetap. Ditambah lagi teror pembunuhan dan pembantaian yang terus mereka dapatkan. Begitu juga dengan masyarakat Palestina. Mereka hidup penuh dengan teror. Negara mereka sedikit-demi sedikit terus dicaplok oleh Israel. PBB telah melarang. Tapi Israel masa bodoh, karena Israel memiliki banyak sekutu dan persenjataan kuat. Maka melihat itu seharusnya kita patut bersyukur dengan kebebasan kita.

-   Orang Kristen mengubah strategi dalam memerangi umat Islam. Pernah suatu ketika seorang misionaris datang ke Toledo (salah satu daerah di Spanyol). Kemudian Ia berkata kepada lainnya, “Aku akan menghadapi orang Islam bukan dengan senjata tapi dengan kata-kata. Bukan menggunakan kekerasan tapi dengan logika. Bukan dengan kebencian tapi dengan kasih sayang. Dari situ kemudian terjadi misionaris besar-besaran di Spanyol.

-   Ada salah seorang bilang, “Saya gak suka kalo syariat Islam ditegakkan di Indonesia”.
Bagaimana bisa dia tidak mau syariat ditegakkan, padahal waktu acara nikah saja dia pakai syariat Islam. Dia tidak sadar sebenarnya syariat Islam bukan hanya mengurusi politik dan hal besar. Tapi juga perkara yang kecil dan nampak sepele. Dan sungguh aneh orang yang benci syariat tapi dikehidupannya tanpa sadar banyak syariat yang sudah dilakukan.


-   Pada awalnya di Indonesia jumlah muslim 0%.  Dan waktu itu kerajaan budha terbesar ada di Palembang. Kerajaan itu bernama Sriwijaya yang beragama budha. Kemudian Islam datang ke Indonesia. Islam masuk bukan lewat dagang saja. Tapi lewat para da’I yang benar-benar berdakwah. Bahkan dalam dakwah mereka mencptakan bahasa Melayu. Bahasa inilah yang digunakan sebagai komunikasi dakwah kepada masyarakat Indonesia saat itu. Bahasa Melayu ini awalnya berada di Jambi. Tapi hari ini orang Indonesia sedikit yang tahu apa itu bahasa melayu. Padahal Melayu merupakan awal bahasa di nusantara yan disebarkan oleh Ulama.

-   Para ulama dulu selalu dalam persatuan. Pernah Hasyim As’ary yang menjabat sebagai Rois Aam NU menjadi pimpinan umat Islam. Wakilnya kyai haji Bagus Kusumo. Wakilnya lagi Wahid Hasyim, wakil lainnya Kasman Singodemejo. Meski tidak semua wakilnya dari NU, tapi mereka bisa bersatu. Hasyim As’ary mengeluarkan 3 fatwa jihad melwan penjajah,
Pertama: Fardhu ain hukumnya mempertahankan Negara Indonesia dari penjajah
Kedua: siapa yang mati dalam perang maka dihukumi syahid
Ketiga: siapa yang berkhianat maka dibunuh

-   Saat ini apapun kelemahan di Indonesia, kita harus bersyukur. Karena banyak kebebasan ibadah yang masih bisa dijalankan. Shalat tidak dilarang, zakat diperbolehkan. Tapi anehnya banyak yang tidak dilarang tapi belum dan  jarang kita kerjakan. Seharusnya kita syukuri dengan bentuk mengerjakannya.

-   Hari ini banyak anak-anak yang kurang mempelajari dasar-dasar agamanya. Sedikit mereka yang paham bahasa arab. Begitu juga kurang hafal nama para ulama. Khususnya Ulama Indonesia.. Malah hafal orang-orang yang diluar ulama.
Pernah ada suatu soal pilihan untuk anak-anak. Bentuk soalnya adalah, siapakah orang-orang yang harus dihormati dan diteladani? A, Hasyim Asy’ary, B. Muhammad Natsir, C. Ahmad Dahlan, D. Ki Hajar Dewantoro.
Mereka semua menjawab Ki Hajar Dewantoro. Ki Hajar memang seorang tokoh nasional yang mendirikan taman baca, Kontribusi untuk Indonesia begitu besar. Tapi untuk orang yang harus diteladani dan dihormati dari urutan pilihan jawaban tersebut seharusnya bukan beliau. Tapi para pewaris nabi, yaitu ulama. Siapa ulama saat itu? Hasyim As’ary, Ahmad Dahlan dan M. Natsir.
Kenapa mereka tidak tahu? Karena dari kita tidak mengenalkan ulama ke generasi saat ini. Jadi saat terjadi pelecehan Ulama, salahkan juga diri kita, kenapa sejak kecil orang tuanya tidak mengenalkan ulama. Bagaimana mereka mau menghormati ulama, mereka saja tidak kenal dan dikenalkan.


-   Memang kemenangan dalam sebuah Negara salah satu faktorny adalah menguasai politik. Tapi itu bukan kemenangan mutlak. Sebab saat orang-orang penjajah menguasai pemerintah, mereka tidak menguasai sepenuhnya rakyat indonesia. Justru harus menghadapi masyarakat Indonesia yang siap mengumandangkan jihad kepada mereka. Para santri dulu sudah siap untuk perang jika Hasyim As’ary memberi komando.

-  Bahkan pesantren dibangun dekat dari batas penjagaan penjajah. Jaraknya 3 kilo saja. Itu jarak dekat untuk menembak musuh. Para santri tidak hanya didik kuat agama. Tapi juga kuat fisik untuk menghadapi penjajah yang masih terus berkuasa.  Sehingga jangan heran, meski tidak begitu lama sekolah, ilmu yang mereka dapatkan begitu besar. Dulu lulusan Muhammadiyah sudah siap menjadi da’I yang disebarkan ke pelosok nusantara. Lulusan Nirboyo tingkat Tsanawiyah sudah hafal Alfiah. Itu merupakan tanda umat Islam dulu menang dalam pendidikan.

 -   Saat ini musuh Allah tidak takut kepada umat Islam meski jumlahnya banyak. Hal ini selayaknya menjadi koreksi untuk diri kita. Ada apa ini? Pasalnya banyak ibadah yang diniatkan untuk dunia. Sehingga bila orentasi sudah dunia, Allah akan menghinakan orang itu.

-  Dalam sejarah Islam tercatat orang-orang terdahulu memiliki mental agama yang kuat. Sebagaimana pesan Rosul, “saya lebih suka mukmin yang kuat dari pada mukmin yang lemah.” Itu didasari dari orentasi mereka yang mendalam terhadap akherat. Sebagai contoh, begitu kuatnya baru 4 tahun sepeninggal Rosul, Baitul Maqdis yang masuk wilayah Syam bisa Ditaklukkan oleh Umar bin Khattab Rodhiyallahu Anhu. Saat itu umat Islam kekuatannya 4 kali lipat dari para musuh.

-   Kurangnya kita hari ini adalah belajar adab. Pernah Sofyan At-Tsauri berkata, “Adab lebih penting dari para belajar Ilmu.” Dengan belajar adab bisa menghilangkan perselisihan umat Islam. Karena setiap permasalahan bisa dibicarakan dibelakang. Tidak harus didepan umum yang mengakibatkan yang awam makin bingung. 

-   Pernah seorang khalifah di Baghdad lebih mengurusi merpatinya yang hilang sejak dua hari dari pada menanggapi berita umat Islam yang dibantai di Baitul Maqdis. Kecintaan terhadap harta telah mengikisnya menjadi orang yang tidak peduli terhadap kaum muslimin.

-   Salah seorang salaf pernah berpesan, “Jika kalian saling mencaci maki, maka kehormatan akan jatuh dimata Allah”. Para ulama dulu tidak saling mencaci maki meski beda mahdzab. Justru mereka saling menghormati. Syaikh Abdul Qodir Al-Jilani menghormati Hasyim As’ary meski beliau tidak berpemahaman As’ary.



-   Kita umat Islam jangan terus bangga karena mayoritas. Karena minoritaspun bisa diberi kemenangan. Lihat saja,   Andalusia bisa dipimpin oleh umat Islam yang minoritas selama 8 abad, atau 800 tahun lamanya. India bisa dipimpin meski saat itu umat Islam minoritas. Tentu minoritas mereka berkwalitas. Kuat ruhiyah dan jasadiyah. Sedangkan kita hari ini muslimin mayoritas, tapi seperti buih. Selalu dipermainkan oleh musuh Allah dan lemah ruhiyah dan jasadiyah.

-   Pernah pak Adian Husaini mendengar temannya berkata, “Orang yahudi sampai saat ini bisa bertahan  karena mereka mendidik anaknya agar lebih baik dari oran tunya. Kemudian anaknya itu akan mendidik anaknya lagi dengan didikan yang lebih baik lagi dari sebelumnya."
Dari potongan perkataan itu kita bisa menilai, bahwa orang yahudi terus meningkatkan kwalitas keturunannya dengan didikan yang lebih ekstra. Tidak mau agar anaknya seperti bapaknya. Tapi harus lebih baik darinya. 


Demikian poin-poin penting yang disampaikan Ust. Adian Husaini. Semoga bisa menambah sedikit wawasan dalam keislaman kita.  


No comments:

Post a Comment