Wednesday, 19 April 2017

Kejadian Berdarah Polisi Menembak Penumpang Mobil

Ada insiden naas yang baru-baru ini kita dengar. Seorang polisi menembak beberapa penumpang yang berada di mobil pribadi. Satu meninggal dan lainnya luka-luka. Kronologisnya, bahwa saat ada razia sebuah mobil mencoba menghindari razia polisi. Namun polisi melepas tembakan ke arah mobil yang berusaha kabur. Akhirnya korban tidak dapat dihindari.

Mendengar polisi yang dianggap melakukan aksi koboi itu, rasanya masyarakat hari ini ketidak percayaan pada polisi yang katanya mengayomi masyarakat makin menebal. Tapi sebenarnya kita harus bersikap bijak menghadapi kabar seperti ini. Kalau dilihat dari kedua belah pihak, sebenarnya semua salah.

Sopir mobil kenapa harus menghindari razia? Ada apa? Jika memang terburu-buru, Seharusnya bilang dengan baik-baik. Tidak asal main kabur yang justru memunculkan curiga.

Yahh.. Inilah buah dari ketakutan menghadapi razia. Kita pun ketika kedapatan razia, ada rasa kaget dan khawatir, kalau-kalau surat tidak lengkap. Dan sudah jamak kita menilai, razia seperti ajang mencari uang seseran. Tak perlu kita survey ke pengendara motor. Karena  pasti jawaban para pengendara bakal sama.

Polisi juga salah. Salah besar. Kenapa sampai melepaskan tembakan ke mobil yang terdapat banyak penumpang, bahkan ada satu anak kecil di dalam. Bolehlah alasannya agar memberi pelajaran. Tapi apa ya pantas melakukan seperti menghadapi teroris yang siap menembak mereka?
Apa memang kebetulan yang memegang senjata orangnya emosional, sampai tak terasa melepas tembakan?

Ah sudahlah.
Masyarakat makin tak percaya dengan aparat satu ini. Masyarakat lebih percaya pada patung polisi dan polisi tidur.
Anehnya lagi saat polisi memberi keterangan, katanya itu peluru pantulan dari ban. Ya elah, apa dulu tidak pernah belajar fisika ya. Gimana coba proses semacam itu? Kenapa langsung membuat statemen seperti itu, tanpa menyelidiki berapa peluru yang dilepas sama anak buahmu, wahai polisi sok fisikais…!

Itu peluru yang kau lepas, adalah uang dari rakyat. Tapi bodohnya kau lepaskan ke rakyatmu sendiri sampai nyawa hilang. Tak berfikirkah sebelum menembak? dikemanakan hati nuranimu?
hemm..Rasanya kalau bahas nurani kepada mereka, seolah mencari jarum di kedalaman samudera.  Tapi saya tetap berusaha mengambil hikmah dari kejadian ini. Pasti ada hikmahnya. Bisa dari para korban dan terlebih polisi yang bersangkutan.

Semoga pelaku penembak cepat mengaku salah dan insaf. Dan jajaran polisi, seharusnya memberi keterangan yang logis. Jangan membuat keterangan yang makin menyakitkan hati para korban. Dan untuk para korban, semoga diberi ketabahan yang besar menghadapi musibah ini. Kedepannya, jadikan ini sebagai pelajaran, agar tidak seenaknya berusaha kabur saat ada razia.

1 comment: