Wednesday, 29 March 2017

Shalat Berasa Lama? Mungkin Ini Bisa Menjadi Solusi

Pernahkah kita saat shalat inginnya cepat selesai? buru-buru? Ya, sepertinya pernah, bahkan sering. Shalat merupakan ibadah yang dikategorikan sangat penting. Sampai Nabi menyebutkan sebagai tiang agama. Di akherat pun shalat adalah ibadah yang pertama kali dihisab oleh-Nya.

Tapi kenapa ibadah yang termasuk pada posisi tinggi di mata Allah, bagi kita justru ingin segera menyelesaikannya?  Itu menandakan ada sesuatu yang salah pada diri kita memandang shalat. Ada dimensi yang harus diubah saat shalat sedang berlangsung. Sehingga membuat shalat terasa nikmat bukan lagi menjadi beban. Tapi bisa mengubah menjadi penghilang penat selepas bergulat dengan dunia yang tak ada habisnya.

Ada satu hal yang harus dilakukan untuk mencapai shalat penuh nikmat. Mari kita telisik:
Yang dilakukan adalah membuat perbandingan waktu shalat dengan perjalanan lamanya kita saat berada di akherat. Coba kita renungkan saat berada di padang mahsyar. Sebagaimana yang Rosulullah kabarkan, kita dikumpulkan di padang mahsyar selama 50 ribu tahun. Berdiri lama menunggu keputusan Allah, dipanggil satu persatu untuk dihakimi amal apa saja yang sudah diperbuat saat di dunia.

Disana bukan lagi seperti menunggu antrian terpanjang yang kita rasakan didunia. Tapi antrian yang pasti mengeluarkan emosional yang sangat tinggi. Harap sekali bisa selamat, dan khawatir sekali bila tidak selamat. Karena mainnya bukan lagi lelah dan capek. Tapi siksa di neraka atau menikmati syurga.

Mari waktu yang panjang itu kita bandingkan dengan lamanya kita shalat. Ah, ternyata jauh sekali kalau ingin dibuat perbandingan. Sejentik kuku pun belum ada bandingannya. Hidup di dunia yang paling lama pun masih belum ada apa-apanya dengan penantian panjang di mahsyar. Kita shalat mungkin paling lama 2-5 menit. Itupun ditambah memikirkan urusan diluar shalat yang bersliweran tidak karuan.
Khusyu’? Rasanya susah sekali didapat. Apalagi urusan dunia seakan menggandoli tiap waktu. Dari tempat kerja sampai di rumah bersama keluarga, serasa tak memberi kesempatan untuk memberi ruang khusyu' dalam shalat. Akhirnya shalat hanya sebagai rutinitas penggugur kewajiban saja, karena ruh shalat ditelan bulat-bulat oleh pikiran dunia.

Bila kita sedang shalat dan membayangkan kengerian bagaimana proses yang sangat panjang setelah mati, maka bisa dapat melahirkan rasa khusyu’ dalam shalat. Jika khusyu’ yang sudah tertanam, tuma’ninah (tenang) dalam shalat dapat kita raih. Rasa ingin segera selesai agar bisa melakukan aktifitas duniapun lambat laun akan hilang. Kita bisa menikmati shalat seperti halnya bisa berlama-lama melakukan sesuatu yang kita sukai diluar shalat.

Yuk segera perbarui shalat kita. Selalu bandingkan dengan perkara yang pasti akan kita lewati setelah mati. Dengan begitu, paling tidak bisa meningkatkan kwalitas ibadah tiang agama ini ke tingkat yang lebih baik dari sebelumnya. Sebab kesempatan ibadah cuma saat di dunia.

wallahu a'lam bisyowab



1 comment: