Thursday, 16 March 2017

Masih Percaya Jimat?


Salah seorang teman bercerita. Dia memiliki teman kerja yang sudah memiliki anak perempuan. Kini anaknya telah menikah dan memiliki anak. Di suatu malam sang istri menyampaikan bahwa uang untuk keperluan dapur sudah habis. Tapi tidak ditanggapi oleh sang suami. Dia melengos saja dan pergi ke atas kasur.

Dipertengahan malam si istri memberanikan diri untuk mengambil uang dari dompet suami. Setelah dilihat, ia menemukan secarik kertas yang didalamnya tertulis kata-kata yang susah dipahami. Tapi sang istri menebak kalau kertas itu adalah jimat. Tidak lama dia langsung membangunkan suami yang terlelap tidur.

“ Mas bangun!!!” Si Istri membangunkan sang suami.
“Ini apa mas, kok ada benda kayak gini di dompet mas?”
Tahu Istri mendapatkan dompet yang didalamnya ada kertas itu, dia langsung naik darah.
“Bawa kesini gak dompetnya!!!” Teriaknya keras.

“Saya cuma mau tau, ini kertas apa??” Si Istri mulai menelisik.
“Pokoknya bawa kesini. kalo segera gak kasih kesaya, awas pokoknya”. Sang suami makin geram.
“ini kertas apa mas, ngapa kok ada didalam dompet mas?” Tanya istri lagi yang masih berdiri.
Suami itu Langsung mengambil sendal kulit yang tak jauh dari tempatnya. Ia pukul wanita itu berkali-kali kemukanya. Ia menjerit kesakitan. Sampai anaknya yang sedang terlelap tidur akhirnya terbangun.
Ia melihat sendiri jika sang ibu dipukul berkali-kali oleh ayahnya ke arah muka. Tentu bagi sang anak sangat terekam kuat, bagaimana perlakuan ayahnya kepada ibunya saat itu.
Sangat mungkin akan membentuk sesuatu yang negatif bahwa sang ayah yang selama ini baik menjadi manusia yang jahat.
Setelah kejadian itu si istri menggugat cerai. Karena suami bersikap kasar dan ketahuan menyimpan benda yang diharamkan dalam Islam. Saya tahu bahwa laki-laki yang memiliki benda yang biasa dikenal dengan sebutan jimat, adalah pemilik foto copy di belakang kampus.

Karena kegiatan kampus tidak lepas dari mengerjakan tugas dan membuat artikel, maka saya dan teman-teman biasa mendatangi foto copynya. Selain murah, fotocopy disana hasilnya bagus dan cepat selesai. Melihat dari penampilannya agaknya agamis. Rapih dan tidak neko-neko.

Tapi itu hanya penampilan luarnya. Ada sesuatu yang benar-benar merusak semua penampilan luar baiknya itu. Melakukan syirik dengan meyakini benda-benda aneh. Ternyata menyimpan jimat sudah menjadi tradisi diantara keluarganya. Dari kakak-kakaknya seperti itu. Setiap membuka usaha harus menyimpan benda aneh tersebut. Padahal bila dipandang dari sudut Islam benda seperti itu tidak berpengaruh apa-apa. Sebab rejeki sudah dibagi. Asal manusia berusaha, rejeki akan datang.
Justru dengan memakai benda itu seakan tidak percaya bahwa Allah yang membagi rejeki manusia.  Ia hanya meyakini bahwa benda itu bisa mengundang rejeki atau meramaikan pengunjung toko. Salah. Salah besar. Menurut saya, itu adalah buah dari kebodohan dalam beragama. Tidak tahu mana yang seharusnya dijauhi dan mana yang harus dilakukan.

Secara logika saja, apa sih yang diuntungkan dari benda-benda itu? gimana cara kerjanya? apakah bisa dibuktikan secara nyata kalau benda itu mampu mendatangkan banyak uang? Cuma logika bodoh saja yang meyakini kalau jimat bisa mendatangkan keuntungan.

Rugi, rugi besar bila benda itu terus disimpan sampai mati. Sebab perkara di akherat bakal lebih runyam. Semoga dimana saja orang yang masih meyakini benda-benda jimat seperti itu segera bertaubat. Sadarlah kalau benda itu adalah jalan buruk menuju kesyirikan. Seorang kekasih tidak bakal mau diduakan. Dan Allah lebih dari pada itu. Allah sangat marah bila seorang manusia meyakini ada kekuatan lain selain-Nya yang mampu memberi manfaat dan bahaya. Ancaman dari-Nya tidak tanggung-tanggung. Bagi yang tidak bertobat sebelum meninggal, Orang yang menyekutukan Allah akan di masukkan ke neraka dengan kekal abadi. Semua amal ibadah yang dilakukan selama didunia hangus tak tersisa.

Siapa yang mau seperti itu? Pasti tidak akan mau. Dijemur sehari dibawah terik matahari yang panas saja tidak ada yang mau. Lantas, kenapa banyak manusia justru mau jika dimasukkan neraka dengan kekal hanya karena meyakini benda yang tidak ada manfaat sama sekali?

Mari instropeksi diri.

2 comments:

  1. Terima kasih

    Tulisannya bagus,
    Temanya juga ringan tapi esensial

    Semangat menulis mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah mw mampir mas...
      Masih terus berusaha Istiqomah mas...Moga bisa brtahan..hehe

      Delete