Monday, 20 March 2017

Hikmah HP Yang Hilang


Pernah ada yang merencanakan musibah? Tentu tidak ada. Musibah sifatnya datang tak diduga dan tak bisa direncanakan. Mungkin ada diantara kita yang siap-siap menerima musibah, eh malah ternyata tak kunjung tiba. Giliran tidak memikirkannya, tiba-tiba saja datang dengan dadakan. Bisa dibilang musibah tiba disaat kita tak siap menerima kehadirannya. Setuju?  Terserah setuju atau tidak. Yang jelas reaksi buruk atau baik saat datang musibah adalah pilihan kita. hehehe...


Berbicara masalah musibah,  saya ingin berbagi pengalaman. Suatu kali pernah HP saya hilang. Ceritanya, saya memesan salah satu layanan ojek online. Setelah bertemu drivernya, kamipun menuju tujuan. Baru belum sampai satu kilo berjalan, saya merogoh kantong atas dimana saya menaruh HP. Ternyata raib. Hilang. Awalnya saya kira mungkin ada di dalam tas atau dikantong celana. Saya cari lagi ternyata tidak ada.
Saya bilang kepada drivernya bahwa HP saya hilang. Sepertinya jatuh di jalan. Saya ajak driver untuk kembali ke tempat semula sambil mencari HP yang terjatuh. Sepanjang perjalanan kami tak menemukannya. Dugaan besar saya mungkin saja sudah ditemukan orang dan “diamankan”.

Saya mencarinya sampai ke tempat semula dimana saya memesan ojek online. Saya bertanya ke salah seorang tukang parkir yang sebelumnya ada ditempat itu. Tapi dia mengatakan tidak tahu apa-apa. Ah, sudahlah. Memang sepertinya HP yang baru beberapa bulan itu jatahnya yang menemukan. Rejeki mungkin gak kemana. Saya pun merelakan HP tersebut hilang tanpa jejak.
Kamipun langsung meluncur pulang. Awalnya sih berat merelakan begitu saja. Tapi bagaimana lagi, la wong sudah terjadi. Meski menjerit-jerit, meratap, nangis-nangis juga tidak bakal kembali.  Saya mulai berfikir, mungkin saya banyak maksiat. Bisa jadi banyak maksiat  yang saya sendiri tidak sadar melakukannya. Mungkin biar saya sadar, Allah kirim musibah ini ke saya.

Saya Instropeksi kembali. Kenapa begitu berat merasa kehilangan? Jujur saja, saya saat itu cukup berat kehilangan. Pertama memang HP itu belum lunas. Hehe. Kedua, ada data-data penting di dalamnya, khsusnya nomor ortu dll.  Tapi selain itu masih ada lagi yang membuat hati  saya terasa berat. Yaitu, apa mungkin dunia sudah masuk ke hati? Sangat mungkin. Sebab kalau hanya ada ditangan, HP berpindah tangan ataupun rusak, tidak akan keberatan apalagi merasa kehilangan.  Itu jadi bahan instropeksi dasar saya. Berarti dunia memang sudah masuk ke hati saya. ckckck (moga pembaca gak ada yang kayak saya)
Saat saya mengalami musibah ini, saya terus menghibur diri biar tidak terlalu kepikiran dan merasa kehilangan. Caranya? Memandang bahwa ada orang yang lebih besar musibahnya dari pada saya. Ada yang kehilangan motor, kehilangan HP yang baru dibeli dan ada orang yang tidak punya tempat tinggal. Itu semua saya nilai  nasibnya lebih buruk dibandingkan saya. Memang masih ada terasa sedikit kehilangan, tapi berfirkir seperti hal diatas cukup menghibur dan membuat saya bersyukur.
Siapapun orang yang menemukan HP saya, moga saja bisa memanfaatkannya dengan baik. Tidak digunakan untuk yang neko-neko. Itu saja pesan saya.  

Sempat berfikir kenapa tidak melacaknya dengan menggunakan fitur aplikasi pelacak yang bisa di download di play store? Sebab saat HP hilang, dihubungi masih bisa masuk. Sebelum hilang GPS dan internet HP dalam keadaan hidup. Batrai HP pun masih 50%. Namun sekitar 3 jam setelahnya sudah tidak bisa dihubungi. Sayangnya ide untuk melacaknya saat HP sudah tidak bisa dihubungi. Was salam. Berarti syarat untuk melacaknya tak terpenuhi. Karena yang saya baca di mbah google, syarat HP yang hilang dan dapat dilacak, yaitu HP dalam mode standby, fitur internet serta GPS dalam kondisi hidup.

Kini sudah ada HP pengganti. Meski tidak sebagus sebelumnya, yang penting bisa sedikit mengobati kehilangan. hehe. Kejadian ini bagi saya ada tiga pelajaran penting. Pertama mengajarkan saya agar tidak teledor. Tidak lalai mengecek dari awal keberadaan HP atau barang penting sebelum meninggalkan tempat. Apalagi tempat umum.
Kedua yang menurut saya sangat urgen, yaitu jangan lupa dengan dosa dan maksiat. Sebab dosa yang sudah dilakukan sangat mungkin berpengaruh dengan benda apa yang kita miliki saat ini. Bisa hilang, jatuh, tiba-tiba eror dan hal aneh lainnya.

Kalau sampai kita tidak ingat dosa, otomatis tidak merasa berdosa. Kalau merasa tak berdosa, akhirnya tak berfikir untuk mengharap ampunan atas dosa yang telah kita lakukan. Lantas Allahlah yang mengingatkan kita dengan di datangkan musibah.  Terkadang disitu kita baru sadar, “Ya Allah, mohon ampunanmu atas kekhilafan ku!”

Ketiga, kalau memang musibah telah terjadi, jangan merasa diri kita paling sengsara. Tapi mari memandang bahwa ada orang yang lebih sengsara dari pada kita. Dengan begitu kita masih bisa bersyukur meski setelah mengalami musibah. Bukan berarti tertawa lebar dan gembira sambil menunjukkan ke teman atau tetangga kalau kita senang dapat musibah. Bukan begitu. hehe. Tapi cukup jadikan itu membantu untuk meredam rasa kecewa dalam hati saat pertama kali menghadapinya.

Itu hikmahnya yang dapat saya petik. Moga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua. Kita tak perlu nyempung kolam lele biar dapet ikan lele. Tapi cukup mengambilnya ditempat yang sudah disiapkan pemiliknya. Kita tak perlu jatuh sakit agar dapat pelajaran. Tapi cukup ambil pelajaran dari orang yang sudah mengalaminya.

1 comment:

  1. Nice reminder mas. Setuju bgt dengan pndapatnya bahwa apapun musibah yg trjdi mungkin akibat dosa yg kita lakukan. Ampunilah dosa kami ya Rabb

    ReplyDelete