Thursday, 30 March 2017

Dia Bagian Diriku, Dan Diriku Bagian Dari Dirinya

“Jangan tertipu dengan penampilan”


Kalimat diatas mungkin sudah tak asing kita dengar.  Kalimat singkat diatas mengandung pesan, agar tidak mudah menilai seseorang hanya dengan fisik dan penampilan luar. Hampir mayoritas masyarakat hari ini mudah menilai hanya dari keadaan lahir.

Tak heran, sebab hal itu terdorong dengan kondisi hari ini yang lebih memprioritaskan dunia. Sehingga banyak yang menganggap jika seseorang itu penampilannya menarik, modis, pakaiannya bagus dan tidak lusuh apalagi kampungan, berarti kaya. Padahal belum tentu.


Mudah kita temukan yang lebih mengedepankan lahiriah belaka tanpa membenah dari dalam hati. Tak salah penampilan tetap dijaga. Seperti pakaian, kerapian rambut dan lain sebagainya. Namun jika berlebihan justru akan berbuah negatif.

Prioritas yang seharusnya diperhatikan malah terbaikan. Padahal kebaikan apa yang ada dalam hati, akan memancarkan apa yang ada dilahir. Penampilan lahir bagus, karena sesuatu dalam hati telah dirawat dengan baik.

Tapi itulah yang terjadi hari ini. Kita tidak bisa menyalahkan jaman, kenapa bisa mengubah sikap manusia. Tapi salahkan diri kita sendiri, kenapa mudah terpengaruh dengan perkembangan jaman.


Hikmah Kisah Julaibib
Beliau adalah salah seorang sahabat Nabi yang memiliki wajah yang tidak menarik. Banyak wanita yang dilamarnya selalu menolak. Pernah wanita Anshor bilang kepada wanita lain, jika datang Julaibib untuk melamar, maka jangan diterima.
Hingga suatu hari Rosulullah mendatanginya karena memahami keadannya.


“Wahai Julaibib, maukah engkau aku carikan seorang wanita pendamping hidupmu?” Tanya Rosul.
“Mau ya Rosulullah!” Jawab Julaibib mantap.
Maka Rosul mencari siapa yang nanti bakal menjadi mertua Julaibib. Dicarilah salah satu keluarga Anshor.


“Wahai sahabatku, Saya akan melamar putrimu?” Kata Rosul.
Maka dengan sangat gembira, karena anaknya akan dilamar oleh seorang manusia yang mulia, Rosulullah, lantas mereka berkata,
“Kami terima Wahai Nabi”.


“Tapi”, lanjut Rosul, “Bukan untuk saya, Tapi untuk Julaibib”.
Setelah tahu yang melamar bukan untuk Rosul, tapi Julaibib, maka sahabat tadi bilang dulu kepada istrinya.
Kemudian ia menemui istrinya dan mengatakan bahwa Rosul akan meminang putrinya.


Istrinya menjawab “Masya Allah, terima lamaran dari Rosul.”
“Tapi lamaran ini bukan untuk nabi”, ujar sang suami.
Untuk siapa?” Tanya sang istri,
“Untuk Julaibib”.
Maka sang istri langsung menyarankan cari yang lain dulu.
Namun anak dari fulan tadi mendengar percakapan kedua orang tuanya dari dalam kamar. Ia mendengar telah menolak lamaran Julaibib melalui perantara Rosulullah.


Putrinya berkata dengan menyebut firman Allah,


“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata" (QS 33:36).

Setelah membaca firman Allah, wanita itu berkata, “Nikahkan saya dengan Julaibib”.
Kemudian wanita itu menikah dengan Julaibib.
Telah lama Sahabat ini ingin menikah, akhirnya keinginan itu terwujud.
Saat Julaibib ingin mencampuri istrinya, terdengar panggilan jihad. Maka dengan segera Julaibib meninggalkan istrinya.

***

Peperangan telah usai. Kemenangan berada ditangan kaum muslimin. Kemudian sang Nabi mencari seseorang.

“Apakah kalian kehilangan seseorang?” Tanya Rosul kepada para sahabat.
Para sahabat mengatakan, “kami kehilangan fulan, kehilang fulan, dan kehilangan fulan. “ Mereka menyebutkan beberapa sahabat yang telah meninggal. 
Tapi tidak menyebutkan nama yang dicari Nabi. Diulang lagi pertanyaan beliau, 
“Apakah kalian kehilangan seseorang?”
jawabannya sama sebagaimana diawal. Mereka menyebutkan para sahabat yang gugur, tapi tidak menyebutkan nama yang beliau inginkan. Dari situ dapat dinilai, bahwa sahabat ini seolah adanya seperti tidak ada.

Kemudian Rosul berkata, Kita kehilangan seorang, namanya Julaibib. Maka carilah Julaibib”, kata Rosul.
Setelah ditemukan, badan Julaibib telah dipenuhi luka panah dan tombak. Sangking mulianya Julaibib, Nabi kemudian mengangkat tubuh Julaibib. Lalu Nabi menjadikan kedua tangannya menjadi bantal untuk kepala Julaibib, lantas ia berkata, “ sesungguhnya dia bagian diriku, dan diriku adalah bagian dari dirinya.” Rosulullah sangat mencintai Julaibib. 

Rosulullah tidak melihat tampang dan penampilan seseorang. Tapi melihat dari apa yang ada dalam hati sahabatnya. Sebab Julaibib adalah sahabat yang semangat saat ada panggilan jihad dan tidak menunda-nunda waktu ketika seruan itu tiba. Rosulullah memuliakannya bukan karena fisik.  Dan bukan pula dari penampilan. Tentu kalau Rosulullah memilih itu, banyak sahabat yang memiliki fisik yang bagus. Tapi Rosulullah mencintai sahabat ini karena amalan. Bukan fisik belaka.

Ada salah seorang sahabat yang dikabarkan Rosulullah, bahwa sahabat itu sendalnya sudah berada di syurga. Yaitu Bilal bin Rabah. Padahal secara fisik tidak menarik. Hitam, kriting, apalagi dulunya mantan budak kafir Quraisy. Tentu dimana keumuman manusia saat itu memandang bekas budak derajatnya menjadi rendah. Tapi sahabat ini mendapat kabar gembira dari Rosul karena amalannya. Bilal selalu istiqomah dalam setiap amalan. Setiap setelah wudhu, ia selalu shalat dua rakaat. Dua rakaat itulah yang menjadikan beliau diberi kabar gembira, bahwa sandalnya telah mendahului pemiliknya masuk syurga.

Islam begitu adil kepada pemeluknya. Tidak semua orang memiliki fisik yang bagus. Dan tidak semua orang memiliki semangat ibadah yang tinggi. Fisik yang baik dan semangat ibadah jarang sekali terkumpul ada seorang hamba. 
Justru yang banyak adalah terlena dengan fisik dan penampilan yang bagus, hingga ibadah tidak begitu diperharhatikan. Namun sebaliknya. Ada yang memiliki fisik biasa, tapi Allah anugerahi semangat yang tinggi dalam ibadah.

Kendatipun demikian, Allah tetap akan melihat apa yang ada dihati seseorang. Bukan hanya tampilan luarnya saja. 
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ


"Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk, rupa dan harta benda kalian, tetapi Allah memperhatikan hati dan amal-amal kalian”. [HR. Muslim. lih. Ghayatul Maram no. 415]

Memiliki paras yang baik atau buruk, Allah pandang sama. Yang membedakan hanyalah takwa.
Maka, marilah jadikan apa yang Allah anugrahi kepada kita, baik dari fisik dan semangat ibadah, sebagai perantara menuju pintu Rahmat-Nya.

Wallahu a’lam
































4 comments:

  1. Subhnallah, luar biasa Bang Rohmat tulisannya, saya baru dengar kisah Julaibib ini. Saya mendapat pelajaran berharga setelah membaca tulisan ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih uncle dah mmpir diblog yg tlisanny acak kadut... Hehhee...
      Saya masih jauh dibandingin tlisan uncle.. Prlu bnyak blajar pda yg ahli, khusus ny uncle..

      Delete
  2. Selalu sk baca tulisan2mu mas Rohmat. Ttp istiqomah menebar manfaat ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak dah mw mmpir... Hehe... Brusaha trus nih biar bisa istiqomah.. Wlaupun malesny lebih gde dr pda smngat ny...
      Moga kluarga odop diberi istiqomah smua... Aminnn

      Delete