Sunday, 26 March 2017

Behind The scene Of The Cat

Entah kenapa saya suka dengan hal yang berkenaan kucing. Selain memang kucing adalah hewan yang biasa sering kita temukan disekeliling kita, ia juga hewan yang mudah akrab dengan manusia. Apa dalam diri saya memiliki prikekucingan? Ah biar lah. hehe. Begitu sukanya saya sama kucing, biasa sebelum tidur saya lihat film tentang kelucuan kucing di youtube. Malah sampai ketiduran. Deh.
Pernah juga saya nonton dua film yang berkenaan dengan kucing. Judul filmnya “Neko nanka yondemo konai”  dan “A Street Cat Named Bob”. Saya review sedikit ya, filmnya. Siapa tahu ada yang tertarik.


“Neko nanka yondemo konai” mengkisahkan dua ekor kucing warna putih dan hitam yang diurus oleh kakak beradik di Jepang. Namun adeknya disuruh bertanggung jawab mengurus dua ekor kucing itu. Memang awalnya kerepotan. Selain adiknya tidak suka kucing, dia pun tak pernah berpikir nantinya bakal mengurusinya. Ditengah kesibukannya sebagai petinju dan terus berlatih untuk menjadi juara, kucing yang diurusi ternyata membuatnya terhibur.  Walaupun terkadang membuat gaduh di tempat tinggalnya.
Rasa terhibur semakin besar ketika abangnya sudah tidak tinggal dengannya. Sebab dia menikah dan tinggal dengan istrinya. Setiap ada waktu kosong dia selalu mengajak kucingnya bermain. Terlebih saat dia disarankan agar tidak mengikuti pelatihan tinju, lantaran matanya akan semakin parah bila terkena pukulan lagi.
Saat telah tumbuh dewasa, dua kucing itu mulai bermain bersama kucing yang lain. Suatu hari kucing yang berwarna hitam jatuh sakit. Divonis oleh dokter mengidap penyakit HIV. Saat itu belum ada obat yang bisa menyembuhkannya. Kian hari keadaannya makin kritis. Hanya terkulai lemas dilantai.


Sehari sebelum kucing warna hitam mati, dia seakan memaksa berjalan ketempat yang dulu dia pernah bermain. Dari siang hingga sore. Saat malam keadaannya makin lemas. Pengasuhnya menunggu dan memperhatikan disampingnya. Tak terkecuali dengan kucing berwarna putih.  Saat terbit matahari, kucing hitam itu sudah tak bernyawa. Kucing putih bereaksi dengan bangun dari tempat. Mungkin menandakan jika temannya telah pergi.


Dari situ pemiliknya terinspirasi untuk membuat cerita berbentuk manga. Ia buat sampai teurai air mata. Entah apa yang dipikirkannya. Yang jelas kepergiannya terasa kehilangan. Ia kirim naskah manga itu kepenerbitan yang biasa menampung naskah manga. Selang beberapa hari ada pesan suara terkirim. Pesannya berisi bahwa naskahnya di terima oleh agen penerbitan. Padahal sebelumnya ia sempat membuat beberapa naskah dengan berbagai judul. Tapi tidak tembus juga.


“A Street Cat Named Bob” merupakan film yang diadopsi dari buku best seller. Mengkisahkan seseorang yang terbuang oleh keluarganya lantaran mengkonsumsi benda terlarang, narkotika. Ia hidup keseharian sebagai pengamen jalanan. Saat ia memutuskan berhenti mengkonsumsi benda terlarang itu, ia diberi rumah sementara oleh salah seorang  yang beretikad baik padanya. Diperkenankan untuk digunakan sampai benar-benar sembuh saat masa perawatan. Belum genap sehari, dia kedatangan seekor kucing yang bertamu dari jendela dapur.


Dia mengira kucing itu hanyalah hewan peliaraan tetangga yang sedang bermain-main kerumahnya. Larut malam, kucing itu masih saja berada di rumahnya. Keesokannya dia umumkan kesetiap tetangga. Siapa tahu ada yang memilikinya. Namun tidak ada yang merasa memiliki. Akhirnya ia putuskan untuk mengadopsi. Ia selalu bawa ke mana saja dimana ia mengamen.  Awalnya hanya diikat menggunakan tali khusus hewan dan berjalan sebagaimana memelihara anjing. Namun kemudian kucing itu ia letakkan diatas pundak. Uniknya si kucing bernama bob ini betah. Tidak agresif dan bawaannya tenang.
Dari situ pemasukan uangnya makin bertambah. Sebab orang-orang bukan karena suka dengan musik yang ia nyanyikan. Tapi karena kucing yang berada disisinya. Setiap ada yang memberi uang, kucingnya seperti seorang artis. Menjadi objek foto selvie. Dmana pun tempatnya saat mengamen, tak pernah sepi dari para penonton.


Tak terasa kandungan dari benda terlarang hampir hilang total dari tubuhnya. Dan dia pun sudah tidak berprofesi sebagai pengamen. Karena telah dilarang oleh polisi.  Dia menjadi penjual koran. Pada suatu hari ada salah seorang yang dari penerbitan yang tertarik dengan kehidupannya. Akhirnya ia dipanggil ke kantor penerbitan untuk menuliskan kisah kehidupannya. Lalu kisahnya dibukukan dan tersebar keberbagai toko buku. Bukunya menjadi best seller. Selain itu, keluarganya kembali menerimanya sebagai keluarga kembali.


Itulah film-film yang awalnya bagi saya tak menarik. Tapi setelah menontonnya bisa buat saya terharu juga. hehe.
Ngomong-ngomong masalah kucing, ternyata jaman nabi pun hewan itu begitu dihormati. Ada salah seorang yang selalu meriwayatkan hadist. Namanya Abu Hurairah. Sebenarnya itu bukan nama asli. Hanya saat Nabi selalu melihatnya membawa kucing, akhirnya beliaupun dipanggil Abu Hurairah. Hurairah diambil dari kata hirr. Hirr artinya Kucing. Berarti Abu Hurairah artinya bapak dari para kucing. Dalam suatu riwayat, Nabi pun disebutkan memiliki kucing yang bernama Muezza. Tapi riwayat itu masih belum bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya.


Pernah ada seorang wanita yang mengurung seekor kucing hingga mati. Maka nabi menyebutkan  bahwa wanita itu telah membunuhnya. Seharusnya kalau memang tidak mampu memberinya makan, setidaknya dilepas saja dari kandang agar mencari hewan-hewan kecil sebagai makanannya.

Mungkin itu saja tulisan saya seputar kucing. Intinya saya suka sama kucing. hehe. Kalau ada pembaca yang punya kucing dan kerepotan ngurusnya, bisa kabari saya. Biar saya adopsi saja kucingnya. hahai.

#Just kidding

4 comments:

  1. Filmnya bagus sepertinya.

    Saya baru Sadar, klo ternyata lebih banyak laki2 yang menyukai kucing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha....gak prempuan aja lo mbak yg suka.

      Delete
  2. Suamiku juga suka kucing, dulu dia piara kucing sampai kucingnya mati

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe...sama dong..cuma saya gak ada kucing..suka doang

      Delete