Friday, 17 March 2017

Ah, Nanggung!!!

Nanggung? Apa ya, yang tepat membahasakan kata nanggung ini? Saya pun agak kebingungan. hehe...
Yang jelas kita pasti pernah mendengar kata tanggung. Kata tanggung sepertinya bisa diartikan dengan tidak tuntas atau dengan sebutan, “ngapa gak sekalian aja”. Yah begitulah kira-kira.

Menurut saya tidak ada yang salah dengan kata tanggung ini. Hanya saja sering kali kita salah menempatkannya.

Khususnya perkara kebutuhan sehari-hari. Tidak bisa seseorang menyamakan keinginan orang lain. Artinya seseorang tidak bisa dipaksa menyamakan keinginan orang lainnya. Contohnya, mbak fulanah butuh HP samsung harga 1.8 juta. Dia melihat speknya sudah sangat cocok dan sesuai dengan kebutuhan dari HP itu. Tapi ada HP harga 2 juta. Merk sama dan spek tentunya lebih tinggi lagi.
Si penjual HP bilang “ Nanggung mbak, ngapa gak sekalian aja yang 2 juta. Spek tinggi, merk sama. Tinggal nambah 200 ribu aja kok”.
Walaupun memang nanti tergantung pilihan mbak fulanah, Tapi kata nanggung disini tidak tepat. Kan Mbaknya sudah cocok dan sesuai dengan HP yang harga 1.8 juta. Siapa tahu badgetnya memang segitu. Pas. Kalau dipaksakan beli HP yang harga 2 juta, pastinya bakal merusak rencana. Tentu pengeluaran bulanan makin membengkak.
Tapi yang nama penjual, terkadang yang penting barang laku dan untung banyak. Masa bodo masalah tanggung atau tidak.


Begitu juga ketika sedang asyik-asyiknya menonton sebuah film atau acara. Kemudian adzan shalat berkumandang. Yang biasanya rutin shalat, akhirnya berasa berat karena film atau acara yang ditonton sedang klimaks-klimaksnya. Jadi sangat sayang bila melewatkan momen serunya. Nanggung, sekalian filmnya dihabiskan baru shalat.


Perkara diataslah yang selayaknya dijauhi. Kata tanggung tidak tepat disematkan dari perbuatan-perbuatan tersebut. Sebab akibatnya ada saja sisi negatif yang muncul.
Namun kata ini tepat dan mampu memberi motivasi tersendiri bila digunakan pada sesuatu yang positif. Misal seorang teman menasehati teman lainnya yang biasa menulis artikel. “Nanggung kalo cuma nulis artikel-artikel aja. ngapa gak ngerencanain membuat buku?”
Nah, ada positifnya kan?

Tak terkecuali dalam hal ibadah. Justru kata tanggung ini diberi ruang lebih besar dalam hal ibadah. Supaya nantinya bisa menjaga semangat dalam mempertebal kesholehan.

“Kalo dipikir-pikir, nanggung banget lo kalo kita cuma sekedar muslim ikut-ikutan. Ngapa gak sekalian aja jadi muslim yang bener, ya. Seperti rajin ibadah, gak ikut-ikutan orang, akhlak diperbagus, komunikasi sama orang lain terus diperbaiki”.

Sebab jika hendak dipikir kembali, saat Allah memberi kenikmatan pada kita dengan nikmat berlimpah, Dia tidak pernah memberi kita secara nanggung. Nikmatnya selalu sempurna. Sangat bermanfaat. Tidak pernah Dia memberi nikmat yang berubah menjadi sia-sia. Pasti seusai dengan apa yang kita butuhkan. Tapi sayang seribu sayang. Balasan atas nikmat itu jauh dari apa yang dibayangkan. Bahkan tidak disalurkan dengan benar. Memang benar apa yang disebutkan dalam kitab-Nya,
“Dan kebanyakan dari manusia tidak bersyukur”.


So pasti pemberi maunya apa yang diberikan itu digunakan sesuai dengan keinginan pemberi. Apa mau kita memberi uang ke orang 100 ribu dengan syarat untuk makan sehari-hari, tapi malah untuk foya-foya? Tentu bakal kecewa.

Nah, itulah yang Allah mau dari kita. Intinya bersyukur. Syukur bukan hanya ucapan lisan. Tapi menggunakan semua nikmat-Nya untuk ketaatan.

Allah memberi nikmat tangan yang sempurna, lengkap dengan jari-jemari. Tapi dilakukan untuk memukul dan membunuh orang yang tak bersalah. Itu berarti nikmat yang Allah berikan tak sesuai dengan keinginan sang pencipta.  Diibaratkan ada salah seorang profesor yang menciptakan robot. Niat membuatnya adalah untuk membantu dalam mengurusi rumahnya. Tapi perjalanannya justru malah makin merepotkan. Robotnya berjalan tidak sesuai dengan keinginannya. Bisa bergerak tapi diluar kendali dari pemiliknya.  Akhirnya dimatikan saja robotnya, dari pada urusannya nanti makin runyam.
Kita pun bisa begitu. Begitu jauhnya kita menggunakan nikmat-Nya bukan untuk kebaikan, akhirnya diselesaikan saja hidup kita. Karena hidup lama malah makin buat kerusakan.


Kembali pada topik semula. Jadi kata tanggung ini harusnya ditempatkan pada posisi yang pas. Tidak asal menyebutkan. Karena mainnya bukan lagi urusan biasa. Tapi urusan syurga neraka. Kata itu bisa jadi sebuah jelmaan dari godaan syetan, atau pemantik api yang membakar semangat ibadah. Bisa mendorong kita mengkufuri nikmatnya, atau bisa memacu kita bersyukur atas segala nikmat yang ada.



4 comments:

  1. Replies
    1. Makasih udah mw mampir mbak Wiwid...Moga menginspirasi.

      Delete
  2. Diih masya Allah....enak bacanya, Mas Rohmat. Gk nanggung nasehatnya. Ngalir, ngasih tahu dengan cara yg asik.

    JazakaLlah, Mas!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak dah mw mampir...Msih trus bljar nulis n bisa Istiqomah nih...

      Delete