Friday, 3 February 2017

Mengikis Oportunis

"Ada teman yang memeluk kita erat agar pisaunya bisa menancap lebih dalam"


Sering sekali bila kita bertemu teman yang sudah lama tidak bertemu langsung menilai dari kemapanan.
“gak nyangka ya, temen main dulu sekarang udah jadi bos”.
“hebat bener dia udah punya banyak cabang warung makan. Padahal dulunya biasa-biasa aja”.

Sangat wajar memang. Karena manusia menilai dari lahir semata. Jika bertemu salah seorang teman dan dilihat penampilannya parlente dan modis, maka kita cepat menebak kalau hidupnya sudah mapan. Tapi kalau melihat seorang teman yang penampilannya biasa, sederhana dan ala kadarnya, tanpa butuh waktu lama kita akan menilai kehidupannya biasa saja. Tidak ada yang spesial.
Padahal bisa jadi orang yang sederhana menyembunyikan karya-karya besar yang memang sengaja tidak diperlihatkan. Baru kelihatan saat ditanya. Jadi kita selalu menilai seputar itu saja. Tidak ada hal lain. Seolah itu sudah menjadi bagian dari kita.
Anehnya malah saat kita menderita kesusahan, teman-teman menjauh. Dan bila kita sukses, teman-teman mendekat.
Sampai ada yang mengatakan, “Jika kamu dalam kesusahan, maka kamu akan tahu siapa temanmu. Jika kamu sukses, maka teman-temanmu tahu siapa dirimu”.
Ada yang pernah mengalami seperti itu? Pasti ada. Selalu ada orang yang bersifat oportunis disekeliling kita.


Tidak semua teman kita paham terhadap agama. Meski ada yang paham secara teori, tidak menjamin dapat teraplikasikan dalam keseharian. Jadi jangan heran, banyak kita temukan yang orientasi hidupnya hanya untuk dunia. Cuma mengambil keuntungan dari kita. Kalau keuntungan sudah tidak ada, dengan mudahnya mereka meninggalkan kita.
Meski begitu, teman yang memberi manfaat kepada orang lain itu lebih baik. Selalu memandang teman tidak dilihat dari fisik belaka. Apalagi harta. Tapi dilihat dari potensi apa yang dimiliki teman itu dalam berbagi kebaikan.


Terlalu sempit bagi kita jika dunia saja yang menjadi acuan. Manfaatnya tidak akan luas. Semua terbatas karena keuntungan dunia belaka.
Tapi bila akherat yang menjadi pijakan, tentu keuntungannya lebih luas. Kita bisa terciprat motivasi dan wejangan gratis dari teman yang telah sukses dunia. Mungkin dunia tidak dapat, tapi manfaat selalu ada. Dan jika ditaqdirkan mendapat teman yang memiliki masalah, disitu menjadi ladang kebaikan. Kita bisa memberi nasehat ringan dan mencarikan solusi.


Alangkah baiknya kita kikis sedikit demi sedikit pandangan kita melihat seorang teman yang memiliki keuntungan dari dunia belaka. Apalagi sampai merugikan teman, dengan berpura-pura dekat, padahal ingin menjilat. Seperti pepatah diatas, "Ada teman yang memeluk kita erat agar pisaunya bisa menancap lebih dalam".
Dunia akan kita tinggalkan. Tidak lama lagi. Bahkan bila diukur dengan kehidupan setelahnya, kita itu hanya hidup 1 setengah jam di dunia. Karena perbandingannya satu hari didunia, sama dengan 1000 tahun di akherat. Semua teman akan menjadi kenangan-kenangan yang cepat berlalu.
Walaupun mungkin mereka bisa dimanfaatkan secara dunia, lambat laun juga akan habis. Tapi kalau kebaikan yang menjadi acuan, tidak akan habis terkuras. Bahkan bila tulus berbagi kebaikan dengan menolong yang kesusahan, balasan di akherat akan selalu dipersiapkan.
Semoga.

#OneDayOnePost

3 comments: