Monday, 9 January 2017

Terbukanya Dua Gerbang Eropa Timur Dan Barat

Ekspansi Islam telah menyebar keberbagai negara. Berawal hanya dari terbentuknya pemerintahan Islam di kota Madinah, tempat kedua dari Hijrah Nabi. Hijrah pertama ke Ethiopia, Afrika. Dimana raja Najasy, seorang penganut agama Nasroni yang memimpin negaranya dengan aman. Madinah sebelumnya disebut dengan nama Yatsrib. Dalam bahasa arab Yatsrib artinya adalah kesusahan dan kesulitan. Tidak jauh dari namanya.


Yatsrib dikenal dengan banyak penyakit. Para sahabat yang baru berdatangan dari Makkah untuk hijrah, awal-awal tinggal disana akan mengalami demam tinggi.  Makanya saat orang-orang Quraisy tahu kalau ada orang Yatsrib datang ke Makkah untuk haji, mereka menyebut para sahabat nabi sebagai orang yang berpenyakit. Sebab Yatsrib adalah kota yang penuh penyakit. Namun Rosul ganti nama tersebut dengan yang baik. Yaitu kota Madinah.

Perjalanan terus silih berganti. Perjuangan kaum muslimin tidak pernah berhenti. Peperangan demi peperangan yang dimulai dengan dakwah terus berjalan. Hingga akhirnya seluruh jazirah arab telah berada dibawah kendali Rosul. Rosulullah wafat, digantikan oleh khulafa’ arrosyidun. Estafet dakwah berlanjut. Bila suatu kaum tidak mau didakwahi  maka harus membayar jizyah. Sebenarnya pembayaran jizyah tidak menyengsarakan sipembayar. Bayarnya tidak sebesar pembayaran zakat. Itupun hanya setahun sekali. Bila menolak membayar jizyah, maka tidak ada perlindungan kaum muslimin atas keamanan mereka. Jika masa perlindungan mereka memberontak, maka Pasukan Islam akan memerangi mereka.

Pada masa Abu Bakar Asy-Syiddiq muncul Nabi Palsu. Perkataan Musailamah Al-Kadzhab menyihir orang-orang yang dulunya pernah masuk Islam pada saat Fathul Makkah. Banyak orang yang murtad karena tipu dayanya. Umar bin Khattab mengambil keputusan untuk memerangi Musailamah Al-Khazzab atas perintah Abu Bakar. Musailamah mati ditangan Wahsy. Ia salah seorang yang dulunya sebelum masuk Islam membunuh salah satu paman Rosul, Hamzah bin Abdul Muthallib pada perang uhud.

Kerajaan Persia mulai didekati oleh kaum muslimin dengan dakwah. Tidak mudah menghadapi imperium yang telah lama berdiri selama berabad-abad. Dakwah tetap disampaikan. Namun mereka menolak mentah-mentah. Di Zaman rosul, mereka pernah dikirimi surat untuk tunduk kepada Islam. Namun mereka merobek surat tersebut. Dengan merobek kertas-kertas itu, Allah juga mentaqdirkan merobek kerajaan mereka. Maka pada masa Umar bin Khattab  Persia takluk.
Khalifah mengirim pasukan hebatnya yang berjumlah kurang lebih 3000 pasukan yang dipimpin oleh Saad bin Abi Waqqosh. Saat itu pasukan muslim yang hanya 3000 personel berhadapan dengan 12.000 pasukan Persia. Selain jumlah yang banyak, musuhpun memiliki perlengkapan yang sempurna.
Namun banyaknya pasukan musuh tidak menjadi sebab kaum muslimin kalah. Allah menangkan tentara Islam sekaligus menjadi awal runtuhnya imperium yang telah lama berdiri.
Ekspansi terus berlanjut mengarah ke Barat. Melalui gerbang Syam, pasukan yang dipimpin oleh Abu Ubaidah Al-Jarrah dan Khalid bin Walid memasuki Yarmuk. Kaum muslimin siap menghadapi pasukan besar Imperium Romawi. Tidak jauh beda, ia telah lama berdiri lama sebagaimana Kerajaan persia.

Dua kerajaan super power ini telah diabadikan dalam surat Ar-Rum yang berbunyi,
“Bangsa Romawi telah dikalahkan.Di negeri yang terdekat. Dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang.” (Arrum: 2-3)
Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Romawi telah dikalahkan oleh bangsa Persia. Namun tidak sampai dengan ke kerajaan Romawi. Bahkan di Negeri terdekat.

Sebenarnya Heraklius, Raja Romawi saat itu, setelah mendapat surat yang dikirim dari Rosul sempat mempertimbangkan maksud surat tersebut. Ia mengatakan lebih baik mengalah saja. biarlah mereka masuk tanpa perlawanan. Namun para menteri dan pendeta justru marah dengan pernyataan itu. Mereka menyuruh  untuk memerangi kaum muslimin.

Pada saat itu kaum muslimin tidak dapat menghindari peperangan besar. Peperangan penentu yang menjadi gerbang akan kelanjutan ekspansi ke barat lebih jauh. Dengan strategi cerdas Khalid bin Walid dan Abu Ubaidah Al-Jarrah, peperangan dapat diraih oleh kaum muslimin. Padahal pasukan Romawi berjumlah 200.000 personel. Jumlah sebanyak itu merupakan gabungan dari banyak suku dalam wilayah pinggiran Romawi.  Seperti suku Arab Kristen Ghassan, Yunani, Prancis, Armenia, Rusia, Slavic dan lainnya.
Kaum muslimin saat itu berjumlah 25.000. Ada yang mengatakan 40.000 personel. Khalid bin Walid menjadi pemimpin pasukan kaveleri terbaik pada abad pertengahan.  

Peristiwa kemenangan atas perang Yarmuk menjadi momen penting terbukanya wilayah barat. Negeri Syam menjadi gerbang penyambutan. Terjadi peperangan saat pasukan muslim hendak memasuki Yerussalem. Pasukan muslim yang dipimpin oleh Amr bin Syurahbil berhadapan dengan pasukan yang dikirim oleh Connstantin II dari kerajaan Romawi. Pasukan kaum muslimin mendapat personel tambahan dari Khalid bin Walid dan Abu Abaidah Al-Jarrah. Akhirnya peperangan itu dimenangkan oleh kaum muslimin.

Baitul Maqdis diambil alih oleh kaum muslimin. Para uskup sempat berdebat panjang diantara mereka. Karena akan menyerahkan begitu saja kunci gerbang Baitul Maqdis. Namun karena beberapa syarat, dan kaum muslimin menyanggupi, kunci Palestina diserahkan kepada Umar bin Khattab.

Setelah Umar wafat, tampuk kekhilafahan digantikan sahabat Utsman bin Affan. Beliau melakukan politik luar negeri. Yaitu ke negeri Persia, Romawi dan Turki.
Utsman masih meneruskan untuk menaklukkan negeri-negeri di Persia. Salah satunya negeri Khurasan. Raja Persia, Yazdigird terus berusaha membangun sisa-sisa kekuatan yang hampir runtuh. Kemudian ia berhasil membangkitkan semangat masyarakat demi membela negeri mereka.

Ketika itu Abdullah bin Amir diangkat sebagai gubernur di Bashrah. Mendengar pihak Persia mulai melawan Islam kembali, maka Abdullah bin Amir memobilisasi menuju Estakhr. Peperangan disana tidak dapat dihindari. Pasukan Persia kalah. Banyak pasukan mereka yang terbunuh. Yazdgird meminta bantuan Turki untuk melawan Kaum muslimin. Tapi justru Turki mengutus pasukannya untuk menyergap Yazdigird. Para pengawalnya dibunuh. Yazdigird berhasil kabur dan singgah kesalah seorang pemahat gerinda di Mirghab. Saat sang raja tidur, pemahat tersebut membunuhnya. Kematian raja Yazdigird menandakan berakhir pula kekaisaran Persia. Karena Yazdigird adalah raja terakhir dalam Imperium Persia.

Bentuk politik luar negeri Khalifah Utsman kepada Romawi yaitu menindak kaki tangan mereka yang ada di Mesir karena hasutan dari Romawi Konstantinopel. Mereka mengajak untuk membatalkan perjanjian damai dengan pemerintahan Islam. Gubernur mesir saat itu dipegang oleh Amr Bin Ash.
Lalu Amr bin Ash menindak hasutan tersebut dengan mengirim pasukan Islam menghadapi pasukan Romawi yang dikirim dari Konstantinopel dibawah pimpinan Manuel.
Peperangan dimenangkan oleh pihak pasukan Islam, serta membunuh pemimpin pasukan yang dikirim dari Konstantinopel.

Masa khulafaur rasyidin telah tergantikan dengan berdirinya dinasti Umawiyah di Syam. Ekspansi mulai bergerak kembali. Saat itu Islam mulai melebar ke Benua Eropa. Sebelumnya, Muawiyah bin Abi Sufyan telah lama menjadi gubernur di Syam, yaitu di negeri Suriah. Hingga ada masjid yang telah lama berdiri sampai saat ini dengan nama masjid Umawi. Setelah pemerintahan Ali bin Abi Thalib runtuh, pemerintahan diambil alih oleh Muawiyah dengan corak system roda pemerintahan yang berbeda. Yaitu dengan system kerajaan.

Bersambung

#OneDayOnePost

No comments:

Post a Comment