Saturday, 7 January 2017

Salah Kaprah Memaknai Ujian Hidup


Dunia merupakan ladang ujian bagi seorang muslim. Tidak ada satupun muslim yang lepas dari ujian. adanya ujian ini akan menentukan kwalitas diri dihadapan rabb-Nya. Ibarat siswa yang naik kelas. Semua siswa pasti melalui proses ujian terlebih dahulu. Mereka tidak bisa naik ke tingkat selanjutnya hingga melalui ujian.
Namun tidak semua muslim bisa menghadapi ujian. Sebagian tidak sabar terhadap ketetapan Allah yang telah berjalan. Dan tidak sedikit pula yang salah memaknai ujian itu sendiri. Yaitu menganggap ujian adalah saat Allah menyempitkan rejekinya. Di anggapnya Allah telah menghinakan manusia.

Sedangkan orang yang berlimpah harta, bertumpuk jabatan, dan kehidupan yang tentram serta nyaman, dianggap telah lepas ujian dari mereka. Lalu muncullah perasaan seakan Allah telah memuliakan mereka.
Padahal kaya dan miskin adalah bagian dari ujian-Nya, untuk mengukur kwalitas iman setiap pribadi muslim. Anggapan yang salah memaknai ujian telah Allah sebutkan melalui firman-Nya,

فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ  ,وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku“. (QS. Al Fajr: 15-16)

Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan ayat di atas, “Dalam ayat tersebut, Allah Ta’ala mengingkari orang yang keliru dalam memahami maksud Allah meluaskan rizki. Allah sebenarnya menjadikan hal itu sebagai ujian. Namun dia menyangka dengan luasnya rizki tersebut, itu berarti Allah memuliakannya. Sungguh tidak demikian, sebenarnya itu hanyalah ujian. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ

“Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa), Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? Tidak, sebenarnya mereka tidak sadar.” (QS. Al Mu’minun: 55-56)

Sebaliknya, jika Allah menyempitkan rizki, ia merasa bahwa Allah menghinangkannya. Sebenarnya tidaklah sebagaimana yang ia sangka. Allah memberi rizki itu bisa jadi pada orang yang Dia cintai atau pada yang tidak Dia cintai. Begitu pula Allah menyempitkan rizki pada orang yang Dia cintai atau pun tidak.  Sebenarnya yang jadi patokan ketika seseorang dilapangkan dan disempitkan rizki adalah dilihat dari ketaatannya pada Allah dalam dua keadaan tersebut. Jika ia adalah seorang yang berkecukupan, lantas ia bersyukur pada Allah dengan nikmat tersebut, maka inilah yang benar. Begitu pula ketika ia serba kekurangan, ia pun bersabar.”  (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, Muassasah Qurthubah, 14/347[3).

Sebenarnya, dibukanya dunia bagi seorang muslim adalah ujian yang berat. Karena akibatnya mudah menyeret mereka untuk lupa terhadap kampung akherat. Akhirnya timbullah rasa cinta terhadap dunia. Itulah hakekat  dunia dan perhiasannya. Bahkan harta yang bagian dari perhiasannya merupakan fitnah akhir zaman. Harta menjadi cobaan terberat bagi muslim pada zaman ini. Tidak sedikit persaudaraan menjadi retak hanya gara-gara harta. Tidak jarang darah seorang muslim lainnya dihalalkan hanya seonggok harta.

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَإِنَّ فِتْنَةَ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya masing-masing umat itu ada fitnahnya dan fitnah bagi umatku adalah harta”. [HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibni Hibbân dalam shahihnya]

Kalau mau dibandingkan kekayaan hari ini dengan orang-orang terdahulu, sangat jauh tingkatannya.  Meski kekayaan zaman dulu dengan bentuk harta yang berbeda, tapi esensinya sama dengan hari ini. Salah satu kekayaan yang tidak bisa dijangkau sampai hari ini adalah kekayaan Nabi Sulaiman. Selain seorang nabi, dia memiliki tentara yang tidak hanya dari golongan manusia. Terdiri dari bangsa jin dan hewan.

Tidak hanya itu. Kerajaannya dibangun dengan sangat indah. Saat ratu Balqis mendatangi istana Nabi Sulaiman, dia melihat lantai yang terbuat dari kaca.

“Dikatakan kepadanya: “Masuklah ke dalam istana.” Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikirinya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya”. Berkatalah Sulaiman: “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Berkatalah Bilqis: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (QS An-Naml [27]: 44).

Anginpun telah Allah tundukkan kepada Sulaiman. Hari ini tak satupun manusia ditaqdirkan seperti itu.
” Dan (telah Kami tundukkan) untuk Sulaiman angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri yang kami telah memberkatinya. Dan adalah Kami Maha Mengetahui segala sesuatu. ” (Al-anbiya: 81).

Kekayaan yang tiada banding dan pasukan bukan hanya dari golongan manusia, Lantas adakah manusia di zaman ini sehebat dirinya?  Tentu tidak ada. Sebab Nabi Sulaiman memohon kepada Allah agar kerajaan dan kelebihan yang dimilikinya tidak diberikan kepada manusia setelahnya,

رَبِّ اغْفِرْ لى‏ وَهَبْ لى‏ مُلْكاً لا يَنْبَغى‏ لأَحَدٍ مِنْ بَعْدى‏ إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi”. (QS Shaad: 35).
Sulaiman sebagai seorang nabi sadar bahwa itu adalah ujian. Diuji dengan kelebihan itu semua apakah mau bersyukur atau tidak. Tapi atas cahaya petunjuk rabbnya, dia berkata,

“Ini termasuk karunia Robbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (QS. An-Naml: 40).

Atas karunia yang begitu besar itu, dia merefleksikan rasa syukurnya dengan untaian sebuah do’a yang indah. Berharap  syukurnya bisa menuntunnya untuk meningkatkan amal shalih.

رَبِّ أَوْزِعْنى‏ أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الّتى‏ أَنْعَمْتَ عَلَىّ وَعَلى‏ والِدَىَّ وَأَنْ اَعْمَلَ صالِحاً تَرْضيهُ وَأَدْخِلْنى‏ بِرَحْمَتِكَ فى‏ عِبادِكَ الصَّالِحينَ

“Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri ni’mat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS An Naml: 19).

Dia menyadari seindah-seindahnya dunia, hakekatnya hanyalah persinggahan sementara. Sehingga kekayaan dan kerajaannya tidak menyilaukan mata. Diruang hatinya tak satupun bongkahan cinta dunia singgah walau sesaat. Karena nanti di akherat semua kenikmatan lebih besar dibandingkan apa yang dimilikinya.

Masihkah kita menganggap bahwa hanya miskin dan kesempitan hidup sebagai ujian?
Sedangkan kaya dan luasnya rejeki bukan ujian?

Semoga Allah anugerahkan ilmu yang mampu menyingkap kebodohan dan menganugerahkan amal sebagai bukti cinta kita kepada-Nya.

#OneDayOnePost

No comments:

Post a Comment