Tuesday, 24 January 2017

Revolusi Zang, Peristiwa yang Hampir Meruntuhkan Daulah Abbasiyah II (selesai)

Bagaimana Puncak Aktifitas Zang?
Zang mulai mengumpulkan massa/pasukan pada tahun 254 H salah satu caranya dengan berkhutbah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ath-Thobari bahwa pemimpin Zang menyebutkan kondisi mereka yang buruk. Dia mengaku dirinya diutus Allah untuk menyelamatkan mereka.

Dengan itu ia ingin memberikan banyak para budak, harta, dan tempat tinggal kepada mereka. Mengangkat derajat mereka menjadi lebih tinggi.
Akhirnya banyak yang menerima ajakan itu. Lalu mereka membentuk kelompok-kelompok, yang perkelompoknya terdiri dari 50, hingga 500 orang.

Selesai merekrut pasukan dengan khutbah, barulah ia melakukan propaganda yang yang ditujukan kepada petani dan penduduk desa sekitarnya. Hasil dari propaganda tersebut, mereka pun banyak yang tertarik. Dari situ mereka memiliki peluang untuk mempropaganda kepada tentara-tentara hitam yang bekerja dibawah pemerintah. Hasilnya orang-orang hitam ikut bersama pasukan Zang lainnya. Pasukan yang terkumpul sangat banyak. Bahkan jumlahnya mengalahkan pasukan yang ada pada khalifah.
Apa strategi yang disusun oleh pemimpin Zang dalam memerangi pasukan khalifah?
Perang melawan pasukan terlatih yang ada pada khalifah adalah hal yang dipikirkan oleh pemimpin Zang. Tidak mudah mengalahkan mereka dengan kondisi tentara yang tidak pernah terlatih sebelumnya. Namun kelebihan yang dimilikinya, baik dari kecerdasan, pemahaman yang matang, dan waspada dalam bertindak, membuahkan strategi yang cukup untuk mengalahkan pasukan khalifah.

Adapun Strategi yang akan ditempuhnya yaitu dengan melakukan hal-hal berikut.
Pertama: menyerang dengan gerakan yang cepat secara tiba-tiba. Target sasarannya adalah desa dan kampung-kampung untuk memunculkan bibit rasa takut kepada targetnya. Selain itu pula agar mendapatkan kekayaan dan harta.

Kedua: menyerang kota besar. Kemudian mencuri harta-harta, anak-anak dan wanita, serta apa saja yang mereka mau. Darahpun banyak ditumpahkan. Tapi dalam penyerangan itu, pasukan tidak diperkenankan menetap dikota besar tersebut. Hanya beberapa hari saja, mereka harus meninggalkan kota yang berdekatan dengan tentara khalifah. Kode etik mereka adalah jangan sampai bertemu langsung dengan tentara khalifah ditempat tertentu yang tidak terhalangi benteng. Bila bertemu, bisa diprediksikan mereka akan kalah.

Ketiga: Pemimpin Zang membagi pasukannya ditempat tertentu. Yaitu ditempat yang berpenghuni dan yang tidak. Seperti disemak-semak, dibalik pohon-pohon dan rawa-rawa. Pembagian pasukan disetiap tempat tersebut harus bisa juga mudah dalam menyerang tentara khalifah setiap waktunya dalam keadaan bersembunyi. Sehingga menimbulkan rasa khawatir dan was-was dihati para pasukan khalifah, dan juga bisa memutus bantuan stok perbekalan pasukan musuh dari ibukota.

Keempat: Pasukan Zang harus memiliki tempat khusus jikalau sewaktu-waktu tiga strategi diatas tidak lancar. Tempat itu harus benar-benar kuat, kokoh, dan tidak bisa ditembus musuh. kalaupun bisa ditembus, hal itu dilakukan dengan susah payah. Pemimpin Zang membuat tempat yang susah ditembus, yaitu tempat yang dipenuhi dengan rawa-rawa pohon, semak dan taman. dari situ dapat diprediksikan pasukan musuh susah menembus kebenteng pertahanan.

Dari 4 strategi diatas, mereka jalankan terus-menerus hingga mencapai pintu Baghdad. Mereka membegal dijalan-jalan untuk menguasai kota-kota. Cara diatas dilakukan agar menguatkan kekuasaannya. Membutuhkan waktu lama untuk dapat banyak menguasai kota-kota. Tapi hanya tinggal waktu saja mereka bisa menguasai Baghdad.

Apa yang dilakukan Khalifah atas Revolusi Zang?
Dalam meluaskan penyerangannya, Pasukan Zang pertama-tama menyerang tentara Bashrah. Mereka berhadapan dengan tentara khalifah. Pasukan khalifah menyangka dapat mengatasi dengan mudah. Tapi dugaan itu ternyata meleset. Justru mendapat kekalahan yang telak dan parah. Hingga Pasukan Bashrah terpecah belah. Dengan keadaan tersebut gubernur meminta bantuan kepada khalifah. Khalifah membantu dengan mengutus seorang komandan Turki bernama Ja’lan.

Komandan tersebut membawa pasukan besar dan tersusun rapih. Ia menyangka akan berperang di medan pertempuran yang besar. Namun meleset juga dugaan tersebut. Tiba-tiba ia diserang dari tempat yang tidak ia kira. yaitu dari rawa-rawa. Serangan dadakan itu membuat pasukan khalifah tercerai berai. Akhirnya mereka dikalahkan dengan pasukan yang tak terlatih dan hanya bermodalkan strategi saja.

Kekalahan pasukan khalifah memberikan ruang kepada pasukan Zang untuk menguasai tempat lebih banyak. Pasukan Zang pergi kearah Timur Al-Mukhtaroh (tempat pertahanan terakhir pasukan Zang, dan masuk kekota Ahwaz lalu menguasainya dalam beberapa waktu. Tak lama ia menguasai daerah Wasith. Daerah yang tak jauh dari Ahwaz.

Zang terus menyerang secara bertahap. Masuklah mereka ke kota Bashrah. Mereka membuat kerusakan yang besar didalamnya. Diceritakan bahwa orang yang dibunuh di Bashrah saja sekitar tiga ratus ribu jiwa. Selain itu mereka menyandera dalam jumlah yang banyak, baik dari anak-anak dan wanita. Akibatnya satu pasukan Zang bisa memiliki 10 budak. Kerusakan yang terjadi di Bashrah benar-benar parah. Kekayaan yang ada disana dirampas habis. Padahal Bashrah saat itu adalah kota yang paling mulia, kuat dan terkaya didunia.

Khalifah saat itu dipimpin oleh Al-Muwaffaq. Ia salah satu dari anaknya Al-Mutawakkil. Sebenarnya khalifah saat itu dipimpin oleh Al-Mu’tamad. Namun karena dia tenggelam dalam kesenangan dunia dan nafsu syahwatnya, Akhirnya kepemimpinan diambil alih oleh saudaranya. Al-Muwaffaq termasuk pemimpin yang tegas, kuat, teratur dalam melakukan segala hal, berpandangan jauh kedepan, kuat dalam politik dan bijaksana.

Bahaya Zang telah mengkhawatirkan kepemimpinannya. Ia paham, bahwa pasukan zang merupakan pasukan yang tidak pandai menggunakan senjata dan tidak terlatih untuk perang. Dan ia telah melihat sumber kekuatan mereka. Dari kekurangan yang dimiliki Pasukan musuh, Al-Muwaffaq membuat strategi yang bisa memenangkan dari perang melawan revolusi Zang.

Strategi pertama yang dilakukan adalah membekali pasukan dengan perbekalan. Akan ada kapal yang membawa perbekalan yang berlayar disungai untuk mensuplai jika perbekalan habis. Strategi kedua adalah menggunakan strategi sebagaimana yang dilakukan pemimpin Zang. Dia membangun benteng diujung Wasith, arah Baghdad, dan kota yang kokoh. Benteng itu diberi nama Al-Muwafakkiyah. Tentara khalifah selalu berjaga-jaga ditempat itu. Dari Al-Muwafakkiyah itu, pasukan Zang diserang oleh pasukan khalifah. Tapi dengan setapak demi setapak. Karena mereka juga harus meratakan jalan-jalan yang dilaluinya, agar nantinya tidak diserang secara tiba-tiba seperti sebelumnya.

Dua rencana tadi ia rancang dengan sistem yang rapih. Harapannya memiliki pengaruh untuk menyelesaikan revolusi Zang. Ada strategi lainnya yang dimiliki khalifah. Yaitu membuat frustasi musuh. metodenya dengan memberikan keamanan kepada musuh dan harapan yang besar bahwa khalifah akan melindungi orang arab dan orang hitam yang memberontaknya. Tak terkecuali kepada Zang.

Rencana itu dijalankan dengan mengumumkannya bahwa bagi siapa yang meninggalkan Zang akan mendapat keamanan. Hal itu dimulai dengan surat menyurat kepada pasukan musuh sampai masuk dalam barisan. Hasilnya sedikit demi sedikit mereka datang dan meminta jaminan keamanan.

Berkurangnya sebagian besar dari pasukan Zang, membuat optimislah Al-Muwaffaq untuk mengalahkan Pemimpin Zang yang ahli dalam tipu daya, dan sudah banyak kekayaan yang dirampas dari kaum muslimin. Rencana untuk mengalahkannya dilanjutkan oleh anaknya, Ahmad Al-Mu’tadhad Saat diangkat menjadi khalifah, ia disebut dengan panggilan Al-Mu’tadhad.

Ahmad kemudian berangkat berperang melawan Zang. Al-Muwaffaq lalu membantu anaknya dan dia sendiri yang memimpin pasukannya. Benteng pertama Pasukan musuh dikalahkan. Bertahap kekuasaan yang dimiliki Zang direbut kembali oleh pasukan khalifah. Akhirnya sampai pada benteng terakhir. Yaitu Al-Muhtaroh. Benteng ini termasuk pertahanan terakhir dari benteng musuh. Tanpa menunggu lama, Al-Muwaffaq menghujani benteng tersebut dengan hujan ketapel dan panah hingga rusak berat. Namun ditengah pertempurannya, Ahmad bin thulun menyerang Al-Mu’tamad di pusat pemerintahan. Ahmad bin Thulun ingin mengambil kursi khalifah. Lalu Al-Muwaffaq pergi ke Baghdad dan mengembalikan keadaan sebagaimana semula. Setelah berhasil dan mengalahkan Ahmad bin Thulun, ia kembali memerangi Zang.

Sekembalinya dari Baghdad ternyata benteng kembali lagi diperbaiki dan kokoh seperti sedia kala. Namun tetap Al-Muwaffaq menyerang benteng dengan sengit. Ditengah penyerangan itu, dia mendapat bantuan dari pengikut Ahmad bin Thulun yang sudah tidak memihak ke pemimpin mereka, Ahmad bin Thulun. Dengan begitu ia dapat pasukan tambahan. Namun pasukannya masih belum menyamai dari pasukan Zang.

Pasukan tambahan tersebut bertanya mengenai kota-kota agar bisa dijadikan jalan pintas memasuki benteng Al-Muhtaroh. Lalu Al-Muwaffaq menunjukkan letak-letaknya. Merekapun bergerak atas apa yang ditunjukkan Al-Muwaffaq. Dari sana mereka mampu menguasai benteng dan mendapat banyak kekayaan dan harta. Pemimpin Zang berhasil kabur. Namun dikejar dan ditangkap, lalu dibunuh. dengan kejadian tersebut, akhirnya berakhirlah Revolusi Zang yang hampir meruntuhkan Dinasti Abbasiyah.

(Disarikan dari buku Dinasti Abbasiyah, Dr. Yusuf Al-Isy, Pustaka Al-kautsar)

No comments:

Post a Comment