Saturday, 14 January 2017

Kebaikan Dibalik Pelopor Kebaikan

“Kebaikan adalah untuk yang memulai, meski yang mengikuti lebih baik”


Demikianlah pepatah arab menyebutkan. Kalimat tersebut tak asing bagi para mantan santri yang telah mengenyam bangku pesantren. Meskipun kalimat itu sederhana, tetapi memiliki keluasan makna. Dimana kebaikan akan menyertai  orang yang mau memulai berbuat baik.



Banyaknya manusia yang kurang perhatian pada agamanya, terkadang mengharuskan seeorang memberanikan diri untuk tampil dalam memulai suatu kebaikan. Dengan tujuan merubah kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik. Tetapi pada prakteknya tak semudah isapan jempol. Waktu dan tenaga harus banyak diperas. dan yang pasti bekal sabar tidak bisa diabaikan. Karena ia adalah teman terbaik selama dalam proses kepada tujuan.


Ulul Azmi
Lihatlah bagaimana para Ulul Azmi memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari pada manusia mulia lainnya. Sifat sabarlah yang mampu menjadikan mereka bertahan pada panggung perjuangan. Mereka memulai kebaikan atas perintah Allah ta’ala.
Ketika masyarakat saat itu menuhankan hawa nafsu, mereka justru harus melawan arus kebiasaan masyarakat. Mengembalikan fitrah manusia kepada yang hanif. Dari situ gelombang ujian muncul. Bertubi-tubi menyerang Ulul Azmi tiada henti.
Tetapi tak akan dianggap Ulul Azmi jika tak ada kesabaran.


فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka.”. (QS. Al-Ahqaf: 35).
Dikatakan Ulul Azmi, karena diantara deretan para Nabi ada diantara mereka yang memiliki kesabaran yang luar biasa dari Nabi lainnya. Ujian yang berlipat dihadapi dengan sikap sabar yang tiada batas. Besarnya ujian membuat mereka tinggi dalam derajat dimata Tuhannya. Semakin besar ujiannya, semakin tinggi  kedudukan mereka.


Dibawah para nabi, ada sahabat Rosul dari para muhajirin dan Anshor. Mereka memiliki kemuliaan dimata Allah dengan gelar yang langsung disematkan oleh-Nya. Tak ada kata bosan dalam usaha memperjuangkan Islam serta menapaki jejak Nabi-Nya.


وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ
Artinya: “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah”. (QS. At-Taubah: 100).

Abu Ja’far berkata: “Merekalah yang pertama beriman kepada Allah dan rosulnya, dari para muhajirin, mereka yang rela hijroh bersama kaumnya maupun keluarga mereka, dan rela meninggalkan rumah-rumah serta cocok tanam mereka. kaum anshor, mereka yang menolong agama Allah ini dari para musuhnya yaitu orang kafir terhadap Allah dan Rosul-Nya. Dan orang-orang yang mengikuti dengan baik adalah mereka yang meniti jalan kepada iman Allah dan Rosul-Nya, kemudian hijroh dari negeri jahiliyah kepada islamiyah dan berharap hanya Ridho-Nya saja.”


Memulai Kebaikan, mengalirnya Pahala Berlimpah

Mungkin kita ingat sytem MLM yang berjalan pada salah satu perdagangan yang mengandung kontroversi.  Hanya orang pertamalah yang akan mendapat untung melimpah. Walaupun orang pertama usaha yang dilakukan mungkin tidak sekeras orang-orang yang ada dibawahnya. Begitulah system kerja orang yang memulai kebaikan. Ia menuai pahala dari orang-orang yang meniru dan mengikutinya.
Hal seperti ini hampir sama persis dengan para da’I yang mendakwahkan ajaran-ajaran Islam kepada lapisan masyarakat. Dimana jika mereka mengamalkan atas apa yang telah mereka ketahui dari da’I tersebut, maka pahala akan mengalir kepada sang Da’i. Tidak sampai disitu saja.
Jika satu orang saja yang telah mengetahui kebaikan dari si Da’i, lalu menyampaikan kepada yang belum tahu lantas diamalkan, pahala itu akan terus mengalir ke si da'i tanpa mengurangi pahala orang yang mengikuti. Itulah efek positif dalam mengajarkan kebaikan. Pengaruhnya sungguh luar biasa.
Rosulullah bersabda, “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” (HR. Muslim no. 1017)


Menjaga Kebaikan
Kebaikan hari ini terasa asing dilihat manusia. Alih-alih menjaganya, mengamalkannya pun rasanya berat. Maka sebuah istiqamah pada sesuatu yang baik akan bernilai besar, walaupun sedikit. Karena untuk memulai amalan yang banyak tentunya dimulai dari amalan yang sedikit. Allah pun lebih suka kepada seseorang beramal sedikit kebaikan tetapi mampu istiqamah. Dari pada banyak beramal tetapi tidak bertahan lama.
Dalil.
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ


”Amalan yang paling dicintai oleh Allah Ta’ala adalah amalan yang kontinu walaupun itu sedikit.” ’Aisyah pun ketika melakukan suatu amalan selalu berkeinginan keras untuk merutinkannya. HR. Muslim no. 783, Kitab shalat para musafir dan qasharnya, Bab Keutamaan amalan shalat malam yang kontinu dan amalan lainnya.


Terlebih dalam memulai langkah untuk memulai kebaikan, keistiqomahan harus senantiasa dipupuk agar menumbuhkan kebaikan yang berlipat-lipat.
Bertahan mengkokohkan istiqomah lebih terasa berat dan melelahkan dari pada meninggalkan perintah dan mengikuti rayuan nafsu. Bertahan untuk berdiri di kegelapan malam ketika manusia tertidur dalam rangka mengamalkan kebiasaan orang shalih, keadaannya lebih sulit dari pada tertidur pulas di atas kasur mengikuti buaian mimpi.


Memang hati ini akan terpaut dan condong kepada kebaikan jika telah membiasakannya. Tapi hal itu butuh proses. Karena emas menjadi murni melalui proses pembakaran dengan super panas untuk memisahkan antara pasir dan emas itu sendiri sehingga jadilah emas 100%.
Orang pun akan memiliki derajat sholeh jika telah melewati tahap-tahap dan proses yang panjang dalam membiasakan amalan-amalan sunnah.

#OneDayOnePost

No comments:

Post a Comment