Thursday, 26 January 2017

Hidup Tak Sekedar Membanggakan Karya

Manusia memiliki kelebihan masing-masing. Dari kelebihan itu muncullah karya-karya buah dari kreatifitas yang terkolaborasikan dengan memanfaatkan waktu. Dengan karya ini manusia akan menilai positif terhadap produktifitas. Banjir pujianpun tidak bisa dibendung. Meski ada juga yang tidak suka.

Memang patut dibanggakan memiliki sebuah karya. Disatu sisi, dengan karya menunjukkan kualitas diri kepada orang lain. Disisi lain peluang pekerjaan yang khusus dibidang karyanya terbuka lebar. Usaha keras yang dulu telah dilakukan, dan ambisi yang diperjuangkan seolah tidak berkhianat.


Tapi yang perlu kita ingat, kehidupan bukan sekedar terus-terusan membanggakan karya. Menyebarkan di media sosial kalau karyanya telah lahir. Ingin diakui oleh orang-orang sebagai orang yang telah berhasil. Memang bersyukur dari pecah telurnya sebuah karya tidak ada yang salah. Dengan berbagi senang kepada teman seperjuangan yang dulunya tidak pernah putus untuk mendukung. Terlebih kedua orang tua, yang senantiasa do'a untuk kebaikan anaknya.

Namun terus-terusan tenggelam dalam eiforia, rasanya menjadi tidak baik. Terlebih untuk kemajuan Islam. Justru sebuah karya dirasa bermanfaat tatkala mampu memberikan kebaikan untuk orang lain.
Karya seperti itu Allah nilai sebagai karya yang tidak akan sia-sia. Bahkan sekecil apapun karyanya, selama diniatkan untuk amal shalih, maka akan dicatat sebagai pahala.
Sebenarnya, berbagai fasilitas yang kita pakai hari ini merupakan bagian dari karya-karya para pendahulu. Teori-teori ilmu alat seperti ilmu hisab/matematika, Ilmu alam/biology, Ilmu falak/Astronomi adalah karya-karya yang tanpa sadar setiap hari kita nikmati.
Tanpa teori pendahulu, kehidupan kita hari ini bakal merepotkan.


Contoh kecil saja karyanya Al-Khowarizmi. Ahli hisab yang pertama kali menemukan angka 0. Memang jauh sebelumnya angka 1-9 sudah ditemukan. Tapi tanpa ada angka 0 rasanya sulit dibayangkan bagaimana kelipatan menghitung setelahnya.


Contoh selanjutkan Az-Zahrawi, seorang ilmuan kedokteran spesialis bedah. Dimana saat itu tidak ada yang mampu menyembuhkan pasien jika berhadapan dengan luka dalam. Az-Zahrawi telah lama menemukan teori itu. Tak terhitung teorinya digunakan diseluruh kedokteran dunia. Namun Barat mengakuisasi bahwa teori itu milik mereka. Padahal dalam kitab sejarah Islam telah mengabadikan Nama Az-Zahrawi adalah salah seorang yang pertama kali menemukan teori dan praktek ilmu bedah.


Banyak alat-alat bedah sebelumnya tidak ada. Salah satunya adalah alat catgut. Alat untuk menjahit bagian dalam tubuh. Alat ini masih dipakai oleh kedokteran modern. Dia juga yang menemukan Gypsum untuk penderita yang patah tulang dan tulang yang bergeser dari persendian. Gunanya agar tulang yang patah secara bertahap bisa tersambung lagi.  


Masih banyak lagi ilmuan-ilmuan Islam yang tidak bisa disebutkan semua. Karya mereka sangat berharga dimata dunia.
Para pendahulu kita yang penuh dengan karya, tidak larut dalam rasa bangga. Mereka justru terus berinovasi dari karyanya untuk meningkatkan kualitas. Tidak ada waktu untuk merasakan bangga diri. Yang ada meng upgrade karyanya agar semakin terasa manfaatnya bagi orang lain.
Mereka tidak berfikir, “Sudah berapa ya fans saya?”.
“Penggemar saya makin banyak gak ya?”


Tapi berfikir, “Sudah bermanfaatkah  karya saya untuk orang lain?”
"Apakah karya saya masih kurang bermanfaat untuk orang lain?"
Para karya seperti inilah yang benar-benar hidup meski mereka telah lama tiada.
Mari, jangan terus membanggakan karya tapi lupa meningkatkan kualitas diri. Agar karya tidak hanya dikagumi, tapi bisa dinikmati oleh orang lain.

#OneDayOnePost


4 comments:

  1. Replies
    1. moga jadi renungan tuk kita semua mbak

      Delete
  2. Self reminder banget buatku mas Rohmat. Terimakasih sudah berbagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. moga jadi remender untuk kita semua...

      Delete