Wednesday, 18 January 2017

Diluar Dugaan


Banyak hal tak terduga yang terjadi disekitar kita. Sebagaimana yang pernah saya alami saat ada keperluan. Belum jauh saya menempuh perjalanan, tiba-tiba dikagetkan dengan pandangan ke sebuah objek di pinggir jalan. Ada kendaraan motor yang terperosok. Sebab yang saya lihat, sepanjang jalan yang dicor itu lebih meninggi dari tanah. Jadi mudah ditebak ketika berkendaraan terlalu menepi bisa jatuh seperti kendaraan tersebut.

Saat itu saya hanya melewati saja sambil melihat sebentar kearah orang yang kecelakaan. Saya merasa kejadian itu terjadi belum lama. Kemungkinan setengah menit sebelum saya lewat. Karena posisi motor dan pemiliknya belum beranjak dari tempat kejadian. Mungkin si pengendara begitu kaget tiba-tiba terperosok.



Jarak kurang lebih 1 kilo setengah dari tempat itu, saya melewati jalanan yang lumayan rusak. Kondisi jalan disitu semestinya dicor sebagaimana jalanan yang pertama saya lewati. Keadaan jalan saat itu kalau diperhatikan cukup parah. Sudah banyak lubangnya, ditambah lagi dengan genangan air. Setiap melewatinya sering sekali adu kecepatan dengan pengendara lainnya dari arah berlawanan. Iya, adu kecepatan biar tidak melewati jalanan berlubang. Karena jalan ditengah tidak begitu rusak. Kanan kiri jalan selalu dihindari oleh pengendara. Namun jika jalannya santai kemungkinan besar akan melewati jalanan yang penuh lubang dan genangan air.

Ketika itu saya sedang melewati jalan tersebut dengan santai. Terdengar dari belakang saya suara rem yang lumayan kencang. Saya tengok kebelakang dari sumber suara, ternyata ia nyaris saja jatuh. Kemungkinan kakinya lebih dulu dengan cepat menjadi pijakan dan sebagai penyeimbang. Kondisi jalan yang licin memang bisa membuat motor seolah lepas kendali.
Menurut saya, motor tadi sebelumnya berjalan dengan kecepatan yang cukup tinggi. Ketika melewati tempat itu, ia mencoba untuk mengerem. Namun dia mengerem agak lebih kuat. Sedangkan jalanan sedikit licin. Maka yang terjadi ban depan terpeleset.
Kalau saja kakinya tidak lebih dulu reflek, kemungkinan besar orang itu jatuh. Alhamdulillahnya tidak. Kalau saja jatuh tentu sangat repot. Luka sekaligus kotor dari air yang sedikit berlumpur.

Sudah lama sekali jalan itu tidak diperbaiki. Pernah lubang-lubang yang ada disitu hanya ditutupi bekas-bekas reruntuhan bangunan. Tapi jika hujan turun tidak akan lama akan berlubang lagi.

Saat hendak pulang dari keperluan dihari itu, saya menemui kejadian lagi. Memang tidak membuat saya luka. Hanya saja kaget dan hampir terbawa emosi. Ketika itu motor saya sedang dalam keadaan kencang. Tiba-tiba ada bapak-bapak yang akan mutar balik. Anehnya dia tidak melihat motor dari arah berlawanan. Saat itu dia baru melihat motor saya yang hanya beberapa meter saja. Dengan cepat dia mengerem motornya. Saya kaget bukan main dengan bapak itu. Asal putar balik saja tanpa melihat keadaan jalan. Saya hanya berkata pelan, “Gimana sih orang ini!!”

Perbuatan bapak tadi bisa membahayakan pengendara lain. Coba saja jika dia tidak mengerem, langsung asal putar balik. Tentu saat ada pengendara lain dari arah berlawanan bisa menyebabkan tabrakan.

Dilain tempat dan waktu, hal seperti ini juga pernah terjadi. Nyaris tabrakan. Yang saya sayangkan hanyalah pengendara itu membonceng seorang ibu yang menggendong anak kecil. Si pengendara sepertinya memang tidak paham jalanan. Kondisi saya saat itu sedang dalam keadaan kencang. Tiba-tiba saja dia belok dari arah kanan dan akan kearah yang sama dengan saya. Tapi yang jadi salahnya adalah dia beloknya sangat lebar, hingga mengambil sampai ke kiri jalan. Padahal saya juga sedang berada dipinggir untuk menghindari ibu itu berbelok. Nyaris saja saya tabrak.
Kalau saja saya tidak langsung menghindar, bisa saja saya tabrak dari belakang. Saya hanya memberi tlakson yang panjang. Biar menjadi peringatan untuknya. Seharusnya kalau belok dan putar arah di jalan yang besar, jangan berputar terlalu lebar. Harus ingat, ada pengendara lain dari arah yang sama. Kecuali memang kondisi jalan sedang sepi.

Ada sesuatu yang mungkin sudah bisa diprediksi. Yaitu ketika ada ibu-ibu sedang mengendara motor. Sering saya temukan. Saya tebak biasanya mereka mengendarai motor cukup pelan dan cenderung ke tengah jalan. Saya paham, karena seminggu dua kali ke Jakarta menggunakan motor. Kalau menemukan seperti itu, saya sering mendahuluinya lewat kiri. bukan dari arah kanan. Agar dia sadar kalau ditengah itu untuk kendaraan yang kencang. Bukan kendaraan yang pelan.

Anehnya dari ibu-ibu yang suka mengendarai motor (tidak semuanya), suka lupa mematikan lampu sen. Baik yang kearah kiri maupun kanan. Jadi orang akan ragu untuk mendahuluinya. Dari situ juga bisa saja memunculkan musibah. Sennya ke arah kanan, eh tiba-tiba dia belok kiri. Kalau jalanan sepi tidak akan jadi masalah. Masalahnya adalah kalau jalanan ramai. Mungkin ibu itu bisa tertabrak dengan pengendara lain.

Itulah hal-hal terjadi yang tidak kita duga. Saat sebelum berangkat, tentu tidak ada dalam pikiran kita akan menemui seperti potongan kisah diatas. Kita hanyalah berusaha menghindari hal-hal tersebut. Peritiwa diatas tidak lebih buruk dari pada apa yang orang alami ditempat lain. Salah satunya seperti kecelakaan yang terjadi di Jawa Timur. Kecelakaan itu mengakibatkan hampir 20 orang tewas. Kendaraan yang membawa orang-orang itu memakai bak mobil terbuka. Mungkin karena kondisi sopir sedang mengantuk, maka mobil jadi tidak terkendali. Akhirnya masuk ke dalam jurang yang tidak begitu dalam.

Secara umum, peristiwa diatas adalah musibah yang terjadi pada manusia. Disatu sisi hal itu akan menjadi ujian bagi seorang muslim. Keluarga yang ditinggalkannya jika mampu bersabar akan berbuah baik bagi ahlul musibah. Namun disisi lain bisa menjadi adzab. Jika ada salah satu orang yang tertimpa musibah suka berbuat bermaksiat. Allah tutup hidupnya dengan perantara kecelakaan tersebut. Karena bisa jadi jika dia terus hidup, maksiat yang lain akan dilakukan.
Terakhir, peristiwa itu akan menjadi peringatan bagi yang Selamat dari maut. Hanya mengalami luka-luka. Setelahnya kemungkinan hidupnya berubah. Dulunya mungkin sering lalai, tapi setelah kecelakaan menjadi semangat dalam ibadah. Atau dulunya dia muslim yang pernah melakukan maksiat. Melalui kejadian itu Allah kurangi dosanya.

Rosulullah Bersabda:
“Tidaklah seorang Mukmin ditimpa sakit, letih, demam, sedih hingga kekhawatiran yang mengusiknya, melainkan Allah mengampuni kesalahan-kesalahannya”. Ditakhrij Al-Bukhari 7/148-149, Muslim 16/130.
Musibah yang dialami seorang mukmin, sebenarnya itu menandakan Allah masih cinta kepada hambanya.
إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Barang siapa yang ridho (terhadap ujian tersebut) maka baginya ridho Allah dan barang siapa yang marah (terhadap ujian tersebut) maka baginya murka-Nya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah At Tirmidzi berkata bahwa hadits ini Hasan Ghorib)

Peritiwa apa saja yang terjadi pada manusia tidak akan keluar dari tiga hal tadi. Yaitu ujian, peringatan dan adzab. Tinggal apakah manusia mau berfikir salah satu dari tiga hal tersebut?
Terkadang kita hanya melihat dari sisi teknis saja. Menepis unsur kaitannya dengan agama. Padahal semua itu sangat saling berkaitan. Sebab segala peristiwa atas takdir Allah.
Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa (seseorang) kecuali dengan izin Allâh; barang siapa yang beriman kepada Allâh, niscaya Dia akan memberi petunjuk ke (dalam) hatinya. Dan Allâh Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs at-Taghâbun/64:11)
Semoga Allah membuka hati kita untuk menerima takdir-Nya atas setiap musibah yang kita alami dan saksikan.
Wallahu a’lam.

#OneDayOnePost



No comments:

Post a Comment