Sunday, 8 January 2017

Dilema Responsif Dalam Kebenaran


Kebenaran datangnya dari Allah. Semua disebarkan melalui para nabi kemudian dilanjutkan oleh Para Ulama hingga saat ini. Namun terkadang kita menemukan suatu kebenaran yang tersampaikan tidak datang dari ucapan Ulama dan ustadz saja. Tapi dari manusia yang level ilmunya rendah. Bahkan dari orang yang diluar agama Islam. Dari situ sebenarnya menguji seseorang untuk menghadirkan terbukanya hati untuk menerimanya.


Pernah suatu ketika Aisyah ditemui dua wanita tua Yahudi.
Dia mengatakan bahwa di alam kubur nanti akan ada adzab. Namun Aisyah tidak percaya karena yang mengatakan seorang Yahudi. Kemudian ia laporkan kepada Rosul perihal tersebut. Rosulullah membenarkan perkataan dua wanita tua tersebut bahwa di alam kubur akan ada adzab.


Dalam sebuah riwayat dari ath-Thufail bin Sakhbarah r.a., saudara seibu Aisyah melihat dalam mimpi seolah bertemu segerombolan orang Yahudi. Ia mengkirik para sahabat yang mengatakan “Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.”
Lalu ia kabarkan mimpi itu kepada Rosulullah. Beliau bersabda, “"Sesungguhnya Thufail telah bermimpi sesuatu yang telah diceritakannya kepada sejumlah orang di antara kamu. Dan sesungguhnya kamu telah mengucapkan suatu ucapan yang saat itu aku segan untuk melarangmu mengucapkannya. Maka janganlah kamu mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad.'" (Shahih, HR Imam Ahmad [V/72]).


Dalam riwayat dari Qutailah binti Shaifi al-Juhaniyyah r.a. berkata. Rosulullah pernah ditemui pendeta yahudi. Dia melaporkan bahwa salah seorang sahabat ada yang mengatakan ucapan syirik.
Rosulullah bertanya, "Subhaanallaah, apa itu?"
Ia berkata, "Kalian berkata dalam sumpah, 'Demi Ka'bah!'
Rasulullah saw. diam sejenak, lalu berkata, "Memang ada yang mengatakan seperti itu. Maka barang siapa bersumpah hendaklah ia mengatakan, 'Demi Rabbul Ka'bah.'" Pendeta Yahudi itu berkata lagi, "Wahai Muhammad, kalian adalah sebaik-baik ummat bila saja kalian tidak menjadikan sekutu bagi Allah!" "Subhaanallaah, apa itu?' tanya Rasulullah. Ia berkata, "Kalian mengatakan, 'Atas kehendak Allah dan kehendakmu!'" Rasulullah diam sejenak, lalu bersabda, "Memang ada yang berkata seperti itu, barang siapa mengucapkan, 'Atas kehendak Allah,' maka hendaklah ia mengiringinya dengan ucapan, 'Kemudian dengan kehendakmu.'


Dari kisah rosul diatas, kritikan dari orang-orang  diluar Islam beliau terima sepanjang tidak bertentangan dengan kebenaran. Meski Yahudi mengakui bahwa Uzair dianggap anak Allah, tapi tidak lantas beliau menolak mentah-mentah perkataan yang mengandung kebenaran.


Sikap Rosul yang sangat terbuka mengajarkan kepada kita agar mudah menerima kebenaran dari siapa saja selama tidak bertentangan dari ajaran Islam. Tidak taqlid dan taashub pada suatu kelompok. Sebab, melihat dari fenomena hari ini banyak umat Islam yang menerima kebenaran hanya dari kelompoknya saja. Jika yang disampaikan bukan dari kelompoknya, maka akan ditolak mentah-mentah.
Sikap seperti itu justru akan memunculkan bibit permusuhan. Selain kebenaran akan mental, ukhuwah ikatan persaudaraan diatas Islam terancam putus.  Sebaiknya saat ada kebenaran datang, lihatlah apa yang disampaikan. Bukan siapa yang mengatakan.
Sahabat Ali Rodhiyallahu anhu berkata,
“Lihatlah apa yang disampaikan, jangan melihat siapa yang mengatakan”.
Abu Hurairah pernah menangkap Syetan yang mencuri di baitul mall. Saat hendak dibawa kepada Rosul, Syetan itu menyampaikan sebuah kebenaran. Lalu Abu huraiarah tanyakan kepada Nabi perihal kebenaran tersebut. Nabi membenarkan apa yang disampaikan Syetan kepada Abu Hurairah. Padahal syetan suka berbohong. Tapi saat itu mengatakan sesuatu yang benar.

Fudhail bin Iyadh adalah salah seorang ulama besar di zamannya. Tapi saat ada kebenaran datang meski keluar dari mulut orang yang bodoh akan ia ambil. Karena yang keluar adalah kebenaran, dia mendengarkannya tanpa melihat status siapa yang menyampaikannya.
Jika dalam menerima kebenaran dari siapa saja telah menjadi, maka kebaikan dan hidayah akan selalu menyertai. Persatuan akan mudah terjalin. Syetan pun kesulitan menggoda agar putusnya tali persaudaraan iman.
Namun, dengan adanya ini tidak serta merta terlalu mudah menerima kebenaran. Karena dalam menilai sebuah kebenaran harus dengan cahaya ilmu. Dengan tanpa ilmu melihat dua hal yang bertentangan akan nampak sama. Hal yang syubhat dikira baik. Itu karena pandangan tanpa didasari ilmu. Tapi dengan adanya ilmu, meski suatu urusan tampak sama, maka tetap akan terlihat berbeda. Begitu juga dalam menilai kebaikan. Sesuatu yang baik belum tentu benar. Dan suatu kebenaran sudah tentu baik. Karena kebaikan bukan dari sudut pandang manusia. Tapi dari Allah yang menciptakan kebenaran. Walaupun mungkin dimata manusia tidak baik, belum tentu dimata Allah buruk. Begitu juga sebaliknya.
"Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah : 216)


Pada intinya kebenaran bukan milik per orangan. Bukan pula milik organisasi. Tapi kebenaran mutlak milik Allah. Dari manapun kebenaran tersampaikan, selayaknya kita terima dengan hati yang tulus. Semanis apapun itu sebuah kebatilan, sampai yang menyampaikan adalah keluarga, saudara, bahkan ustadz terkenal, selama itu menyalahi kebenaran, maka harus ditolak. Tentu penolakannya tidak meniadakan akhlak yang baik.

#OneDayOnePost

No comments:

Post a Comment