Monday, 16 January 2017

Dahsyatnya Wara’ Terhadap Harta


Imam Ahmad merupakan salah seorang Ulama Ahlu sunnah yang banyak memberikan cahaya ilmu dimana ia tinggal, yaitu di kota Baghdad. Ia hidup dimasa daulah abbasiyah dan merasakan dalam kepemimpinan 4 rezim. Yaitu rezim Al-Amin, Makmun, Watsiq, dan Al-Mutawakkil.

Setiap Rezim, Imam Ahmad merasakan corak bagaimana mereka mengatur pemerintahan. Ujian berat fisik yang berat dialami oleh salah seorang imam Mahdzab ini ada pada masa Makmun dan Watsiq. Khalifah sebelumnya, Harun Arrosyid berpegang teguh terhadap sunnah. Jika ada pemahaman lain yang sesat, tanpa kompromi akan ia habiskan. Salah satu pemahaman yang tersebar saat itu adalah yang kita kenal dengan Islam liberal untuk saat ini, Mu’tazilah.


Begitu tegasnya harun Arrosyid, sampai Basyar, pembawa aliran sesat itu dikejar-kejar dan akan dihukum mati jika tertangkap. Tapi dia bersembunyi dan muncul lagi pada khalifah Al-Makmun. Pada khalifah al-Makmun, dia mudah terprovokasi untuk menerapkan ajaran sesatnya.
Salah satu imbasnya aliran itu dipaksakan kepada seluruh rakyatnya, tak terkecuali para ulama di baghdad. Aliran itu menyatakan bahwa Al-Qur’an bukan kalamullah, tapi makhluk.
Imam Ahmad mendapat siksaan yang keras dari para algojo khalifah tanpa ampun. Hingga beberapa kali beliau pingsan. Ujian itu Imam Ahmad alami hingga 60 tahun.

Ujian Harta

Atas taqdir Allah kekhalifahan berganti ke tangan Al-Mutawakkil. Khalifah ini memiliki pemahaman sebagaimana harun Arrosyid dan Al-Amin. Ia membebaskan banyak para ulama yang dipenjara semasa rezim Al-Makmun dan Watsiq. Al-Mutawakkil begitu menghormati Imam Ahmad. Karena beliau ulama terpandang dan sudah banyak siksaan yang ia dapatkan pada khalifah sebelumnya.
Sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf, Al-Mutawakkil memanggil imam Ahmad ke Istana. Sesampainya disana, beliau diberi hadiah yang sangat banyak, dari dirham dan dinar, serta harta benda lainnya.

Namun Imam Ahmad tidak bereasi sedikitpun dari harta itu. Bahkan tak satupun harta itu ia sentuh. Ia berkata, “ ”Enam puluh tahun aku diuji dengan berbagai penderitaan. Tapi kini, di penghujung usiaku, engkau uji aku dengan yang ini.”
Berkali-kali khalifah memberi harta kepada Imam Ahmad, tapi selalu ditolak.
Jadi, selain termasuk ulama yang berpengaruh, beliau juga terkenal kewara’annya. Berhati-hati terhadap harta. Terlebih harta yang diberi khalifah.

Pernah anak Imam Ahmad mengambil pemberian dari khalifah.
Tapi Sang imam menyuruh anaknya mengembalikan pemberian tersebut. Lalu anaknya berkata, “Bagaimana akan kita kembalikan, sedangkan kita sedang membutuhkan harta?”.
Imam Ahmad tetap menyuruh untuk mengembalikan harta itu. Lantas anaknya mengembalikan pemberian tersebut kepada khalifah.

Pada tahun berikutnya, Imam Ahmad memanggil anaknya.
“wahai anakku, kamu masih ingat pemberian harta dari khalifah?”
Anaknya menjawab,”Iya ayah”.
Imam Ahmad bertanya lagi, “Apakah sejak saat itu sampai hari ini engkau kelaparan?”
“Kita tidak kelaparan”, jawab anaknya lagi.
“Imam Ahmad berkata, “Allah maha pemberi rizki, jangan bergantung pada pemberian orang.”
Imam Ahmad memberi pelajaran kepada anaknya bahwa rizki sudah diatur oleh sang maha pencipta. Maka tidak layak seorang manusia bergantung kepada selain sang pengatur rizki para hambanya.
Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah dalam kitab majmu fatawa, “Jika kamu diberi sesuatu dari orang, dan kamu tidak dapat membalasnya, maka disebut ajiir atau asiiir (orang yang terpenjara dengan jasanya orang yang memberi). Tapi kalau kamu diberi dan kamu membalasnya dengan memberi, maka itu namanya nadhiiir, (sebanding dengannya). Lalu jika kamu memberi orang, maka kamu disebut amir, (penguasa). Dengan ini lebih merdeka, tidak ada balas budi.

Pemberian tunjangan masih saja diberikan dari khalifah untuk keluarga Imam Ahmad. Bahkan setiap bulan. Tidak hanya dirham dan dinar, tetapi makanan-makanan yang bernutrisi. Namun Imam Ahmad tidak mau mencicipinya walau saat itu beliau sedang sakit.

Pernah suatu ketika beliau ditanya oleh muridnya.
“Wahai Imam Ahmad, kenapa engkau tidak menerima harta dari khalifah?””
Beliau berkata, “Kalau harta saya terima, nanti kita dijasai, dan tidak akan bisa berbicara yang benar.”
Itulah sebabnya imam Ahmad menolak pemberian harta itu. Karena pengaruhnya sangat besar terhadap jalannya dakwah beliau.
Sungguh sikap wara’nya beliau begitu mulia. sangat hati-hati dari perkara yang boleh, karena takut terjerumus pada hal yang makruh.
Kendatipun demikian, Imam Ahmad tidak putus kontak terhadap khalifah. Jika ada permasalahan yang membutuhkan solusi dalam agama, beliau memberikan solusi kepada mereka. Dan bahkan tidaklah khalifah Al-Mutawakkil menjalankan kebijakannya, kecuali melalui pengarahan Imam Ahmad.

Demikianlah kewara’an Imam Ahmad. Ilmu yang benar-benar bermanfaat, bukan hanya sekedar ucapan, tapi dengan praktek yang luar biasa.


#OneDayOnePost

disarikan dari:
-http://juragansejarah.blogspot.co.id/2014/10/biografi-imam-hambali-lengkap-sejarah.html



No comments:

Post a Comment