Saturday, 14 January 2017

Berpura-Pura Menjadi Pengemis Demi Ilmu


Budaya menuntut ilmu kepada para ulama di zaman Abbasiyah sangat besar perkembangannya. Tidak diragukan lagi, selain dari ekonomi yang melimpah berkat Khalifah Harun Arrosyid, Baghdad juga menjadi pusat peradaban ilmu saat itu.
Banyak para penuntut ilmu yang datang kepada para ulama dimana berdirinya khalifah disana. Termasuk salah seorang yang datang dari jauh, Baqi’ bin Makhlad. Ia datang dari Andalusia (Spanyol hari ini) untuk berguru kepada Imam Ahmad bin Hanbal. Atas taqdir Allah saat itu Imam Ahmad masih berada di dalam penjara, karena mempertahankan keyakinannya yang benar.

Biografi singkat mengenai Baqi bin Makhlad. dijelaskan dalam Ikhtisarun Nablusi li Thabaqatil Hanabilah, karya Ibnu Ya’la, hal.79, Imam Baqi bin Makhlad Al-Andalusi. Dia adalah Abu Abdurrahman Baqi bin Makhlad Al-Andalusi Al-Hafidz, lahir tahun 201 H.

Perjalanan Baqi’ dari Andalusia ke Baghdad merupakan perjalanan yang sangat panjang. Butuh perbekalan yang banyak dan semangat yang tidak pernah padam. Sesampainya Baqi’ di Baghdad, Ia langsung mencari Imam Ahmad. Tak lama ia pun mendapatinya dan mengutarakan akan kedatangannya.
“Wahai Imam Ahmad, saya datang dari Andalusia ingin belajar kepada anda”.
“Saya tidak bisa mengajarkan anda, karena saya masih dipenjara”. Ujar Imam Ahmad dari balik jeruji besi.
“Saya datang dari jauh-jauh hanya untuk belajar. Kenapa saya tidak bisa belajar kepada anda?”. Kata Baqi’’ dengan sedikit mendesak.
“Bagaimana caranya, pokoknya saya harus tetap belajar kepada anda”. tegas Baqi’.
Imam Ahmad tetap memberi jawaban yang sama. Sebab khalifah melarang untuk melakukan aktifitas mengajar dalam penjara.
Namun dalam hati Imam Ahmad merasa bahwa orang ini memiliki kesemangatan yang tinggi. Lantas Imam Ahmad bertanya, “Kamu datang dari daerah mana? Afrika?”
“Lebih jauh dari pada itu, Andalusia”. Jawab Baqi’ dengan mantap.
Imam Ahmad akhirnya membolehkan ia belajar dengannya. Tapi dengan satu syarat.
Baqi’ menyanggupi syarat apa saja yang diberikan oleh Imam Ahmad, yang penting beliau bisa mengambil ilmu dari ulama besar tersebut.

Apa itu syaratnya? Syaratnya adalah Baqi’ harus datang setiap hari kepada Imam Ahmad sebagai pengemis yang meminta-minta roti. Kemudian Imam Ahmad datang membawa makanan sekaligus membawa hadist-hadist. Lalu hadist yang diberikan itu harus dihafal dan dicatat.
Jadi setiap hari datang kepada beliau memakai pakaian compang-camping dan meminta-minta roti. Hal itu berjalan hingga dua tahun lamanya.
Setelah Imam Ahmad keluar dari penjara disebabkan sudah pergantian masa kekuasaan, maka Imam Ahmad bisa kembali mengajarkan ilmu kepada para muridnya.

Datanglah Baqi’ dalam majelis ilmunya. Kemudian Imam Ahmad berkata didepan murid lainnya,
“Inilah penuntut ilmu/thalibul ilmi”. Kata Imam Ahmad yang Seolah membanggakannya kepada murid yang lain akan besarnya semangat dalam mencari ilmu. Atas keberkahan yang didapat dari usaha Baqi’ tersebut, lahirlah sebuah karya besar. Yaitu kitab hadist terbesar karangan Baqi’ bin mahklad.
Baqi bin Makhlad wafat pada yahun 276 H. di Andalusia. Semoga Allah merahamatinya.

Demikianlah kisah yang penuh perjuangan dalam menuntut ilmu. Jarak yang jauh serasa dekat saat hati telah cinta terhadap ilmu. Keberkahan itu akan lahir saat seseorang  bersusah-susah dalam memperjuangkan  sesuatu yang Allah suka perbuatan itu. Salah satunya menuntut ilmu. Begitu banyak karangan para ulama terdahulu dan begitu bermanfaat hingga hari ini. Salah satunya adalah karena keberkahan yang melimpah. Mereka semangat tiada surut. Dan ikhlas yang tidak pernah luntur. Rela melakukan apa saja (dalam koridor syariat) demi mencapai apa yang didapatkan.

Bandingkan dengan diri kita, Apakah semangat belajar masih lebih kecil dari pada memburu dunia? Sudahkah pernah merasakan bersusah payah dalam mencari ilmu Allah? Jika hal itu belum kita rasakan, bisa jadi keberkahan dalam menuntut ilmu akan susah kita raih. Karena diantara keberkahan ilmu adalah pelakunya mudah beramal dari ilmu yang didapat.
Kata Imam Ahmad, “Dari tinta (menulis) aku menuntut ilmu sampai keliang lahat.
Mari kita jaga keikhlasan dan semangat menimba ilmu hingga kematian menjemput.

Wallahu a’lam bisyowab.

#OneDayOnePost

No comments:

Post a Comment