Sunday, 8 January 2017

Ada Apa Dengan Gaya Hidup yang Berlebihan?


Gaya hidup berlebihan merupakan suatu keinginan yang tidak begitu penting. Karena dia hanya sebagai keinginan. Tidak mengandung unsur kebutuhan. Namun saat gaya telah masuk dalam kehidupan, maka akan banyak menyita kesempatan dan uang. Malahan, kebutuhan hidup tersingkir karena menuruti gaya hidup yang berlebihan. Akhirnya hidup penuh dengan sandiwara karena mengedepankan gaya.

sebenarnya kalau kita tahu hakekat dari kehidupan, tentu kita akan sadar bahwa gaya hidup hanya sebatas penampilan belaka. Kalau penampilan, berarti hanya dilihat dari luarnya saja. Namun anehnya, banyak orang yang lebih mementingkan penampilan luar dari pada apa yang ada dalam hati. Padahal bila hati baik, penampilanpun akan terpengaruh. Meski berpenampilan sederhana, tapi mampu memancarkan aura wibawa.


Ingatkah kita, bahwa orang-orang terdahulu telah tiada? Mereka semua telah terganti oleh generasi demi generasi hingga kehidupan kita. kitapun nanti akan diganti oleh generasi berikutnya. Seberapa lamapun hidup, bahkan hingga ribuan tahun, ajal tetap datang juga. Justru bagi yang hidupnya lama, akan mempertangggung jawabkan nikmat setiap detiknya semakin berat. Sebab segala gerak-gerik manusia tidak pernah lepas dari nikmat Allah.
"Kemudian kamu pasti akan di tanyai pada hari itu, Tentang kenikmatan yang kamu megah-megahkan di dunia itu" (QS. At-Takasur: 8).

Gaya hidup yang berlebihan tanpa sadar sama saja telah menghamburkan nikmat yang Dia berikan. Karena gaya hidup hanya sebatas keinginan, bukan kebutuhan. Kebutuhan tentu lebih mengarah pada kemaslahatan dalam hidup seseorang. Seperti membeli baju, Sepatu, celana dan lain sebagainya untuk kebutuhan sandang. Orang tidak dikatakan hidupnya gaya kalau dia membeli mobil. Dia membelinya karena dia butuh. Tapi bisa disebut gaya hidup diluar batas bila membeli mobil bagus padahal mobil dirumahnya masih ada, bahkan nganggur.
Makanya, seberapapun besarnya uang, akan terlihat kecil untuk memenuhi gaya hidup. Tapi terkadang uang yang tidak begitu banyak mampu menghidupi satu keluarga.

Bisa jadi orang yang terlalu mengedepankan gaya hidup dari pada kebutuhan, kehidupannya tertekan karena orientasinya berlebihan terhadap harta. Mungkin ada benarnya, sebuah ungkapan berbentuk teori fisika untuk orang yang memiliki gaya hidup yang berlebihan.
“Menurut ilmu fisika, tekanan berbanding lurus dengan gaya.
Jadi kalau kamu merasa hidupmu banyak tekanan, mungkin karena kamu kebanyakan gaya.”
Hidup sebenarnya gampang dan murah. Hanya terkadang yang membuat mahal adalah merk dan gengsi.

Gaya hidup, kata salah seorang ahli di Barat, berarti persamaan status kehormatan yang ditandai dengan konsumsi terhadap simbol-simbol gaya hidup yang sama.
gaya hidup merupakan pola atau budaya konsumtif manusia masa kini yang mengkonotasikan individualitas, ekspresi diri, serta kesadaran diri yang semu, tubuh, busana, bicara,  hiburan saat waktu luang, dipandang indikator individualitas selera, serta gaya dari pemilik konsumen.
Itu artinya gaya hidup menggiring manusia untuk bersikap apatis dan memunculkan bibit egois yang tinggi. Makin jauh, penyakit ini akan menyeret pelaku pada pemborosan yang tak berujung.

Sebelum itu terjadi, mari kita sadar diri sebelum gaya hidup secara berlebih benar-benar merenggut segala kebutuhan. Tidak hanya itu. Ia juga mampu mendorong seseorang untuk membuang qonaah dan mengikis rasa syukur. Bila syukur telah tiada, kehidupannya akan dipenuhi dengan kufur kepada-Nya. Allahu musta’an.

#OneDayOnePost


No comments:

Post a Comment