Friday, 23 December 2016

Ujian Setelah Liburan (Tamat)

“Ya udah pak, beli yang seken aja, lagian ini motor jarang dipake. Kita tinggal ke pulau terus”.
Aku langsung meluncur lagi setelah ganti ban dalam. Semoga saja mereka yang sudah dipelabuhan tidak lama menunggu.
Saat belum jauh dari bengkel, tiba-tiba ada orang yang mencegatku.
“Mas, antarkan saya ke perumahan villa indah ya?” pinta seorang laki-laki yang cukup tua. Aku perhatikan sepertinya dia habis lelah berjalan jauh. Kasihan. Lebih baik aku antarkan dulu orang ini. Semoga saja rumahnya tidak jauh.

“Ya pak, naik aja”. Aku mengiyakan permintaan bapak itu. Sebenarnya aku buru-buru. Tapi tidak apa-apa lah. Menolong orang.
“Masih jauh pak?” tanyaku memastikan alamatnya. Sudah 15 menit aku dan bapak itu menyusuri jalur dua yang lengang.
“Nanti didepan ada belokan yang jalannya tanjakan ya, kita langsung belok”. Ujar bapak itu memberi tahu.
Tak lama ada belokan, aku langsung membanting setir mengikuti arahan bapak itu. Tak jauh dari situ sang bapak minta berhenti. Kami berhenti didepan rumah yang minimalis.
“Ini mas ongkosnya”. Bapak itu menyodorkan uang dua puluh ribuan kepadaku.
“Gak usah pak. Saya cuma mau nolong aja kok. Gak usah”. Aku menolak tawaran bapak itu. Padahal aku sekedar menolongnya. Tidak mengharapkan imbalan apapun.
“Gimana sih mas, masa ojek gak mau dikasih uang?”. Bapak itu ternyum tipis melihat kelakuanku. Looo..berarti dari awal aku memang dikira ojek sama bapak itu!!
Alamak... apa tampangku seperti tukang ojek?? Ah. Biarlah. Tapi aku tetap menolak pemberian uang itu.
“Terima kasih ya mas”. Bapak itu mengangkat tangannya. Aku berlalu dan menyisakan sedikit keheranan. Masa aku dikira ojek??! Aku jadi tertawa sendiri mendengarnya.
Motorku terus melesat kearah dimana barang-barang dan oleh-oleh kami berada. Aku harus cepat. Aku tak ingin Rosyid dan sopir menunggu lama.
Setelah sampai di kantor, segera aku bawa barang-barang yang ada. Saat keluar kantor langsung kupanggil salah satu taxi yang nongkrong tak jauh dari aku berdiri.
“Kapal jemputan belum dateng?” tanyaku memastikan pada Rosyid melalui handphone. Setengah perjalanan lagi aku sampai di pelabuhan.
“Belum, ini masih nunggu. Si sopir udah gak sabar nih, nunggu lama bener”. Ujar Rosyid. Dia sepertinya jadi tidak enak sama sang sopir. Walaupun mungkin si sopir tidak ada urusan saat itu, tapi bila menunggu lama tanpa kepastian rasanya sangat membosankan.
Akhirnya aku sampai di pelabuhan. Karung-karung berisi daging yang dibawa Rosyid sudah dipojokkan ke pelabuhan. Agar nanti saat kapal jemputan datang, tinggal mengangkatnya ke kapal.
“Gimana kapalnya, udah dateng belum?” tanya Aan dari seberang handphone. Dia pun yang di pulau mulai gelisah. Pokoknya hari itu pencacahan daging dan tulang harus segera selesai sebelum sore tiba. Sedangkan saat itu aku dan Rosyid sedang menunggu kapal tiba. Darah dari dalam karung terus bermunculan. Terkadang menetes ke beberapa kapal yang berlabuh di pelabuhan.
“Pak, darah-darah yang netes ke kapal nanti dibersihkan”. Kata penjaga mengingatkan. Ia mungkin tidak mau hanya gara-gara ada tetesan darah, dia terkena semprot sang pemilik kapal. Memang terlihat kapal-kapal yang bertengger disana bagus-bagus. Sepertinya milik tentara. Penjaga kapal itu mungkin orang baru. Biasanya pemilik kapal yang akan menjemput kami sudah biasa lewat pelabuhan itu. Waktu pertama kali datang membawa daging saja, kata Rosyid, saat disebutkan “Pak amin dari pulau Terong”, dia tidak tahu.
Padahal pak Amin sangat dekat dengan pemilik pelabuhan tersebut. Sebelumnya pun kalau keluarga pak Amin ingin ke pulau atau mengantar anak-anaknya ke Batam, lewat pelabuhan ini. Dan penjaga sudah paham. Tidak seperti penjaga ini. Dapat dipastikan kalau penjaga ini orang baru.
Siang sudah  hampir bergeser menjelang sore. Aku semakin gelisah. Batrai Hpku juga sudah lowbet. Namun, kegelisahanku sirna saat kapan jemputan datang. Dengan segera kami dan dibantu sang sopir mobil dan kapal mengangkat semua daging. Tidak lupa setiap tetesan darah aku bersihkan kembali dengan menyiramkan air laut.
Setengah jam berlalu. Aku, Rosyid dan sang tekong (sopir kapal) sudah meluncur menuju pulau membawa daging sapi. Aku rebahkan badan ini ke dinding kapal.  Termenung memandang luasnya lautan KEPRI. Hari itu, mungkin hari yang melelahkan bagiku. Hari yang mungkin dari bentangan ujian yang Allah beri. Dari ban yang bocor, sampai dikira tukang ojek. Tapi ini juga menjadi pengalamanku pertama kali menjadi salah satu penanggungjawab hewan qurban. Dari awal pembeliannya, pemotongan, dan kontribusi sampai ketangan para masyarakat pulau.

Tamat

#OneDayOnePost

1 comment:

  1. Mas ntar antarkn saya ke alamat bla bka bla...ya...hehe. just kidding mas

    ReplyDelete