Thursday, 22 December 2016

Ujian Setelah Liburan II

“Yang penting kita menyampaikan amanah niat tulus kakak kelas kita itu, apapun kondisi hewan yang diqurbankan nanti.” Nasehatku kepada Rosyid setelah pulang dari menaruh sapi di masjid.
Lebaran kali ini kami shalat idhul adha di kota. Aan shalat ied di Pulau, bahkan kabarnya ia menjadi khotib.
Sholat dan pemotongan sapi selesai. Hanya tinggal bongkahan-bongkahan daging dan tulang. Itu semua diangkat kesebuah mobil box untuk nantinya akan dibawa ke pelabuhan.
“Gimana bil, daging udah siap?” tanya Aan dari seberang handphone. Ia standby sembari mengkondisikan masyarakat yang siap membantu di pulau dalam penyacahan daging sapi hingga pembungkusan.

“Daging udah siap dibawa. Nanti setelah dhuhur kita star menuju pelabuhan” jawabku. Saat itu keadaan fisikku sudah bukan bau manusia lagi. Bau hewan sapi. Untung saja bukan kambing. Lebih amis lagi jika mengurus pemotongan kambing.
Rosyid berangkat duluan ke pelabuhan bersama sopir membawa daging. Aku harus kembali dimana pakaian, barang-barangku dan termasuk oleh-oleh kami yang ditaruh dikantor.
“Astaghfirullah....bannya bocor”. Aku berhenti melihat ban. Pantesan dari tadi berasa ada yang oleng. Jalur dua siang itu lengang, namun penas terik tak menghalangi jalanku untuk terus mencari tambal ban. Aku harus segera. Karena Rosyid pasti sudah menunggu. Apalagi jika jemputan dari pulau yang siap mengambil daging datang, pasti akan menungguku lebih lama lagi. Kalau makin lama menunggu akhirnya proses pemberian daging ke masyarakat semakin tertunda.
Sekeliling jalanan jalur dua sepi dengan rumah. Hanya sedikit hutan, dan terdapat seperti danau ditengahnya. Aku terus mengamati jalan jauh kedepan. Berharap ada tambal ban agar bisa menyelesaikan segera urusanku siang itu.
“Nah, alhamdulillah ada”. Mataku menangkap objek kecil cukup jauh. Aku duga bahwa itu adalah tambal ban. Dan rasa yakin ini makin besar saat mendekatinya. Motor yang sedari tadi dituntun dengan lambat, kini makin kupercepat.
“Harus ganti ban dalem pak?”. Aku heran, padahal hanya bocor, kenapa harus mengganti ban dalam.
“Ini mas, liat, sekitar tempat lubang untuk meniup anginnya udah rusak” tukang bengkel itu menunjukkan ban dalam motor.
Tadi masnya naiki terus ya waktu bannya bocor? Tanya tukang bengkel.
Tadi naikin motor cuma sebentar. Karena waktu itu belum tau kalo bannya mulai bocor. Kerasanya cuma gak seimbang aja. Baru sadarnya waktu udah bener-bener kempes. Dari situ saya tuntun terus”. Jelasku kepada tukang tambal ban.
“Mungkin gara-gara dinaikin waktu bannya bocor, ban dalemnya jadi makin rusak”. Analisa tukang tambal ban.
“ini harus diganti mas”. Serunya.

Bersambung....

#OneDayOnePost


2 comments:

  1. Replies
    1. Hehee...sangat betul mbak...wktu tugas kampus di batam...

      Delete