Wednesday, 28 December 2016

Teman Sesaat III

Tak terasa mas Iyan sudah sebulan. Majalah perdana hasil karyanya sangat beda. Cover majalah menjadi Berubah setelah adanya mas Iyan. Gambarnya lebih familiar untuk anak-anak. Tapi dia sering ngelembur hingga larut malam untuk menyelesaikan lay out dan desain cover.
Aku perhatikan dia jarang sekali makan. Dan suka sekali memesan jus kepadaku. Aku dengan baik hati membelikannya. Sebenarnya dengan keberadaannya saja sudah dibilang untung bagiku. Dulu, saat desainer yang lama begitu  kaku dan membosankan. Tapi semenjak ada yang baru justru menjadi teman dekat. Apalagi sering mengeluarkan uneg-uneg kepadanya perihal masalah pribadi.
“Besok saya udah gak kerja di majalah lagi mas Iyan”. Kataku saat di kantor. Aku merasa sedih akan meninggalkan para kru di majalah. Ditambah meninggalkan teman yang baru akrab. Belum banyak aku belajar tentang pengolahan gambar. Pihak kampus sudah memutuskan bahwa aku dan dua teman yang lain akan dikirim kesuatu daerah setelah sebelumnya berperang menghadapi penguji di ujian skripsi.
“Yang penting kalo udah disana bawa oleh-olehnya lo mas”. Pintanya kepadaku. Ia senyum tipis.
Aku mengangguk mengiyakan.
Pasti aku membawa oleh-oleh untuknya. Apalagi dua bulan setelah itu aku akan wisuda.Otomatis sekaligus membawa oleh-oleh dari sana.
Aku saat itu susah sekali melupakan banyak kejadian yang aneh dan unik bersama teman yang belum lama kenal dan akrab tersebut. Pernah ketika kami hendak membeli keperluan kantor di mangga dua, tanpa sengaja kakinya terbentur pinggir mobil. Ia hanya mengaduh saja. Juga ketika berdebat dalam masalah apa saja dia seolah tak mau kalah. Kalau sudah seperti itu aku hanya diam. Karena memang aku lihat dia hanya cakap berbicara. Tapi dalam agamanya kosong.
Esoknya aku pergi dan meninggalkan semua aktifitas saat itu. Belum sempat aku berpamitan dengannya. karena saat itu ia sedang pergi ketempat saudaranya. Selang beberapa minggu ditempat tugasku, ia menghubungiku via whatsAap. Dia dalam Keadaan sakit-sakitan. Tapi katanya tetap ia paksakan untuk bekerja. Aku upload semua foto makanan yang ada ditempat tugas. Dia langsung memesan semua yang aku upload. Wah, jadi salah sendiri kenapa saya upload.
Beberapa hari setelahnya dia di karantina. Lebih banyak istirahat dan dibebaskan dari berbagai pekerjaannya. Kemudian dia gantian meng upload foto. Bukan makanan, tapi banyak obat-obatan yang setiap hari harus ia minum. Aku sarankan agar mengkonsumsi obat herbal saja. Katanya untuk sementara meminum obat-obatan dokter dulu.
Hampir setiap hari dia upload foto obat-obatan yang akan diminumnya via whatsApp. terkadang sampai bosan melihat foto-fotonya itu. Mungkin dia sedikit setres. Lama dipembaringan dalam masa penyembuhan membuatnya bosan. Akhirnya akupun seperti terkena imbasnya.

***
Seminggu lagi aku akan wisuda. Tak lupa pesanan mas Iyan aku siapkan. Krupuk tenggiri dan makanan khas melayu lainnya dari masyarakat pulau Terong. Aku upload foto oleh-oleh itu biar dia makin penasaran. Tapi tidak ada tanda-tanda balasan. Mungkin dia sedang istirahat. Jadi tak sempat buka handphone.


Disuatu pagi aku membuka halaman facebook. Sudah lama tidak aku cek. Banyak sekali notifikasi. Namun ada notifikasi terbaru. Penasaran, akupun membukanya.
"Ya Allah......"


Bersambung

#OneDayOnePost

1 comment: