Wednesday, 28 December 2016

Teman Sesaat II

Dengan cepat dan lihai gerakan-gerakan jarinya memainkan shortcut di keyboard. Melihatnya seperti itu, ingin sekali aku belajar PhotoShop. Memang sebenarnya aku sedikit tahu menu-menu di aplikasi itu. Tapi yang jelas sangat jauh dari kata mahir. Apalagi sepandai mas Iyan ini.
“disini bagian apa mas?” dia melihatku sejenak, lalu fokus lagi ke layar komputer.
“saya bagian ngelobi sekolah-sekolah untuk konten rubrik sekolah sahabat. Jadi setiap hari kamis saya keluar”.

Aku  duduk di bangku sampingnya. Tanganku tak kalah dengannya memainkan keyboard mengolah tulisan untuk deadline bulan itu. Seminggu yang lalu aku berhasil melobi sekolah yang ingin profil sekolahnya dimuat di majalah. Tak perlu jauh-jauh mendatangi sekolah. Cukup via handphone dan email saja.
Aku sedikit terhibur dengan desainer baru. tidak seperti desaner yang lama. Sebelumnya pendiam sekali. Melihat mukanya saja seolah dia mau marah. Riwayat kerjanya pun sikapnya dinilai tidak baik. Malah pernah sampai memarahi ketua redaksi. Padahal hanya masalah sepele.
Sejak hari itu aku suka sharing dan banyak tanya kepada mas Iyan tentang pengolahan gambar. Aku pun mengajarkannya bagaimana cara membuat blog praktis dan mudah. Sayang sekali kalau hasil karyanya hanya di Facebook saja. Seharusnya dia juga memposting di blog. Lebih baik lagi kalau bisa mencari komunitas karikatur tentang kreasinya. Agar bisa saling sharing penyuka hobi yang sama. Minimal ilmunya bisa dibagi-bagikan.
Pernah suatu kali meminta kepadanya untuk dibuatkan karikatur untukku. Sebab aku lihat ketua redaksi upload foto di facebook karikatur dirinya. Wah... aku jadi iri melihat itu. Aku yang sudah jadi teman dekat masa belum dibuatkan.
***
“Kok banyak gambar hindunya ya.” Komentar pak Ruli. Dia kru redaksi yang tidak mengajar di SDIT yang sama sepertiku. Aku pun tetap bekerja di majalah anak tersebut meski penyusunan skripsi selesai. Sambil menunggu penugasan dari kampus. Kalau suatu saat surat penugasan sudah keluar, berarti mau tidak mau aku tinggalkan bekerja di majalah itu.
Pak Ruli melihat banyak gambar-gambar kartun berpakaian adat Bali berserakan diatas meja dekat layar komputer. Aku sedikit kaget.  Aku lihat memang banyak gambar karikatur  busana Bali. Suatu kali aku pernah bertanya perihal hasil gambar kartun adat Bali. Dia mengatakan suka dengan tradisi dan pakaian Bali.
Selain itu dia memiliki gambar kartun dari berbagai agama. Setiap tokoh kartun terdapat pula rumah ibadahnya. Aku tanyakan lagi padanya. Dia mengatakan kalau gambar-gambar itu hanya pesanan orang saja. Dia membuat bukan karena kemauan sendiri.
“Gambar-gambar  gitu kayak orang pluralis aja.” komentar pak Ruli saat aku memberi tahu bahwa ada gambar dengan tokoh-tokoh dari berbagai agama dan tempat ibadahnya. Saat itu desainer belum sampai kantor. Hanya kami berdua sambil mengedit naskah yang sudah masuk dari kru lain.
“Yah mungkin dia belum tahu pak, bisa kita jelasin tentang agama secara bertahap”. kataku menengahi persoalan.
Bersambung
#OneDayOnePost

2 comments:

  1. Apa ini terinspirasi dari kisah nyata juga?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak..bener..saya kurang bisa kalo cerpen tpi murni imajinasi.
      Jadi pasti diangkat dr kisah nyata..hehe

      Delete