Wednesday, 28 December 2016

Teman Sesaat I

“Besok ada bagian desainer baru. Desainer yang dulu udah keluar. Coba besok kamu standby aja ya di kantor”. Pesan ketua redaktur kepadaku sore itu.

Aku sudah lama menjadi salah satu kru  di majalah anak Islam. Bagiku kerja di majalah sebenarnya hanya untuk sambilan. Karena waktu itu masih sedang tahap penyusunan skripsi.

Disela-sela penyusunan,  aku berinisiatif  untuk mengisi waktu dengan bergabung bersama kru majalah Islam. Disitupun aku belajar banyak. Bagaimana harus mengejar deadline dan tidak menyamakan antara tulisan orang dewasa dengan anak.

Karena targetnya bukan dewasa, jadi harus bahasanya mudah dicerna dan tidak bertele-tele. Menurutku menjadi tantangan sendiri. Disamping aku masih terbawa suasana penyusunan skripsi yang penuh dengan bahasa orang dewasa, akupun juga harus bisa membuat tulisan yang disajikan untuk anak-anak. Mudah dicerna dan tidak membosankan saat dibaca.

Begitu juga saat majalah mau naik cetak. Aku wajib ke percetakan mengantarkan data-data yang berisi file majalah. Dan itu tidak dicetak kecuali memasuki 10 akhir disetiap bulan. Karena dikhawatirkan kalau baru naik cetak pada 5 hari sebelum akhir bulan,  majalahnya baru akan jadi pada bulan selanjutnya. Otomatis sampai ketangan pembaca menjadi telat.

Pagi itu aku datang tidak seperti biasanya. Lebih pagi dari sebelumnya. Mengingat pesan dari ketua redaktur, agar calon desainer baru tidak kebingungan karena kantor sepi tidak ada orang. Maka aku datang lebih awal. Karena memang sehari-hari yang meramaikan kantor hanya aku. Dan kru yang lain mengajar di SDIT yang masih satu komplek dengan kantor majalah. Kebanyak para kru majalah yang mengajar di SDIT hanya sebagai kerja tambahan saja. Tidak lebih.

“Assalamu alaikum”. Suara salam terdengar dari balik pintu kantor. Aku langsung membalas salamnya dan membuka pintu. Aku langsung saja menebak kalau orang ini adalah calon desainer baru. Kupersilahkan masuk ke kantor.

“Pak Rudinya ada mas”? tanya nya. Ia berperawakan kurus, tidak terlalu tinggi. Malah aku lebih tinggi dari pada dirinya. Mukanya terlihat kurang cerah. Aku mengira mungkin lagi galau.

“Pak Rudi ada dikantor SDIT. Saya antarkan kesana aja sekalian!”.  Kataku menawar bantuan kepadanya.
Aku sudah berdiri didepan pintu kantor siang mengantarkannya. Ia pun bersedia aku antarkan bertemu dengan ketua redaksi majalah.


***


Seperti biasa aku berangkat pagi. Tidak sepagi kemarin. Sesampainya di kantor, sebuah sandal yang sepertinya tak asing sudah bertengger didepan pintu kantor. Siapa yang ada didalam kantor? Hati ku bertanya-tanya.
“Assalamu alaikum”.
Aku membuka pintu yang sedikit tertutup. Aku lihat ternyata desainer baru itu sudah didepan komputer, mengutak-atik apa yang ada dihadapannya.

Ia menoleh kepadaku dan memperkenalkan dirinya. Selain seorang desainer, ternyata dia seorang karikatur. Mahir membuat gambar manusia, dan mirip dengan wajah manusia asli. Aku melihat saat dia mengotak-atik gambar menyelami aplikasi PhotoShop sangat luar biasa. kecepatan dalam mengolahnya membuat aku takjub.

“Mas Iyan belajar PhotoShop udah berapa tahun sampe mahir begini?”.
Tanyaku  penasaran. Dia senyum tipis. Sambil fokus tanpa menoleh dia jawab pertanyaanku. Katanya dia hobi sekali kalau mengotak-atik gambar. Setiap harinya tidak pernah absen belajar terus dalam mengolah. Pengolahannya selalu dikolaborasikan dengan imajinasinya yang cukup pandai. Akhirnya mampu mengubah gambar biasa menjadi menarik dan enak dilihat.

Dia bilang memang awalnya rumit. Harus tahu fitur-fitur setiap menu yang tersedia di aplikasi pengolah gambar itu. Tapi karena mengolah gambar sudah menjadi hobi, tanpa terasa ia paham itu semua. Bahkan ia kerjakan setiap hari sampai bertahun-tahun. Maka akhirnya apa yang aku lihat saat itu hasilnya sungguh menakjubkan.

Bersambung

#OneDayOnePost

2 comments: