Tuesday, 20 December 2016

Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah TAMAT

Aziz dan Arif telah mencium aroma ke tidak harmonisan pernikahan Fadli. Sebab tak ada satupun curhat atau sharing. Padahal mereka berdua termasuk sahabat yang cukup dekat.

 Terlebih Aziz dan Amir masing-masing telah berkeluarga, yang tentunya pernah mengalami masa-masa kritis dalam pernikahan dan bagaimana mencari jalan keluarnya.
 Namun Fadli hanya curhat pada saudaranya di dunia maya.

“Saya kurang cocok mbak sama istri saya. dia egois bener orangnya.”
“Mau cari yang lain lagi, Fadli?”
“Iya mbak, saya juga mau cari kerja di tempat lain. Mungkin gak di Jakarta lagi. Saya mau pindah ke Jawa Tengah. Biar temen-temen gak ada yang tahu masalah saya.”



“Ya, mbak cuma nyaranin ke Fadli, cinta itu butuh pengorbanan dan harus ada usaha untuk selalu cinta kepasangannya. Adanya kekurangan dalam pasangan itu wajar. Kita yang harus nerima kekurangan itu sambil memperbaiki kesalahan dan mengajarkan yang baik. Tapi kalo itu udah pilihan kamu, bahkan memutuskan pergi biar temen-temen kamu gak pada tau masalahmu....ya mbak gak bisa ngelarang. Tapi Mbak cuma pengen kamu ngerti satu hal. Cinta itu kata kerja. Jadi harus diusahakan.”

Chat berhenti. Fadli semakin gundah dengan nasehat mbaknya yang berada di seberang Sumatera. Perjalanan pernikahan yang baru seumur jagung ini sudah goyah. Fadli memutuskan kembali untuk mundur dan kembali ke dermaga seperti sebelumnya. Dia memutuskan untuk mencari kapal lagi yang cocok baginya. Dia telah bulat akan pergi dari kehidupan Jakarta dan memulai hidup baru. Mungkin dengan pasangan barunya nanti.

Dia membuat alasan kepada saudaranya yang tahu persis seluk beluk masalah Fadli, bahwa akhwat yang akan dia cerai adalah akhwat yang suka menjelek-jelekkan gurunya. Bahkan merendahkan suaminya sendiri. Itulah alasan terkuat kenapa dia bercerai.

Sebenarnya sejak pertama kali ingin menikahi akhwat yang kedua ini adalah sekaligus merubah pemahamannya yang sedikit bengkok. Akan ia luruskan semua kesalahan dan kesalahpahaman istrinya. Tapi  menurutnya terlalu berat diluruskan, akhirnya dia memutuskan untuk mundur.
Memang dari segi face dan postur tubuh masuk kriteria yang dicari Fadli. Tapi sayangnya dia hanya mementingkan segi fisik belaka. Sebelumnya Tidak mencari tahu terlebih dahulu lewat saudara-saudara dan teman akhwat tersebut mengenai sifat dan perangainya.


                                                                         ***


Perceraian kedua telai usai. Tidak ada satupun teman dan saudaranya yang tahu. Kecuali hanya seorang saudaranya saja. Fadli telah pindah kerja dan tinggal di Jawa tengah. Di sebuah gubuk kecil di pinggiran kota. Ia termenung memandang kosong pemandangan indah dihadapannya. Pemandangan didepannya terlalu indah dari pada kehidupan rumah tangganya. Dua kali menikah, dan dua kali bercerai, terlalu dini untuk seorang yang umurnya masih 27 tahun. Namun, tidak semua perceraian sebuah solusi akhir dari permasalahan. Selayaknya menurup rapat pintu solusi cerai jika masalahnya tidak begitu besar.

Fadli terpekur, mengamati jejak terjangnya selama ini. Betapa aneh dirinya. Sebagai penyempurna agama baginya telah hilang dua kali. Pengalaman pahit itu jadi cambukan keras untuknya. Kedepannya ia semakin hati-hati dan tidak memasang kriteria begitu tinggi dalam mencari jodoh. Ia begitu teringat dengan nasehat mbaknya saat curhat dulu, “Cinta itu butuh pengorbanan dan harus ada usaha untuk selalu cinta kepasangannya. Adanya kekurangan dalam pasangan itu wajar aja. Kita yang harus menerima kekurangan itu sambil memperbaiki kesalahan dan mengajarkan yang baik”.

Fadli menatap langit-langit depan gubug. Hatinya bergemuruh. Dadanya sedikit sesak. 
"Ya Allah, buka kan hati hambamu ini, untuk mudah menerima kekurangan yang ada".
Lirih Fadli penuh sesal.

TAMAT

#OneDayOnePost 

6 comments:

  1. Ish egois Kali ya..geram kok an rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe..ya gitu deh...trinspirasi dr kisah nyata mbak...

      Delete
    2. ya Allah..kisah nyata..gutu kali cowoknya

      Delete
    3. Iya mbak...dah izin juga sama pelakunya ...hehe

      Delete
  2. Kisah nyata toh mas. Pengalaman pribadi kah? Doa saya: semoga Fadli diprtmukan Allah jodoh trbaik dunia akhirat. Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak...kisah nyata...tmn sendiri...jiga dah izin ma tmn saya untuk dibuat cerpen...ni mngkin jdi plajaran para ikhwan agar jngan trllu tinggi dlm kriteria mmilih akhwat

      Delete