Thursday, 15 December 2016

Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah I

Matahari seakan enggan muncul kepermukaan. Mendung masih saja betah menggantung di awan. Menahan terpaan sinar matahari yang membasahi bumi. Angin cukup kencang bertiup dipagi hari. Meniup berhelai rambut seorang yang duduk termenung menatap nasib. Fadli memandang bisu hamparan kebun dihadapannya. Tenggelam bersama masa lalu yang saat itu baru ia sesali.
“Kenapa, kenapa dan kenapa?”
Serunya dalam hati.
Kini ia hidup seperti dipengasingan. Sebuah rumah yang cukup sederhana di pinggiran kota, mungkin itulah sebagai tempat pilihan terakhir memulai hidup baru untuk menutupi semua aibnya di masa lalu.

5 bulan yang lalu dianggap sebagai awal dimana ia bisa meraih kebahagiaan. Sebuah pintu mengawali bahtera yang akan ia bangun. Namun kandas begitu saja dengan persoalan sepele.
“Yang namanya nikah itu ya serius.  Nikah kok kayak mainan”.
Kata mantan kakak ipar diseberang telpon dengan bersungut-sungut. Dadanya seolah lautan bergejolak yang akan tumpah kedaratan. Ia tidak tega melihat adeknya, seperti dipermainkan dengan pernikahan bersama Fadli.
“Pokoknya ceraikan adek saya”. Katanya lagi dengan tegas. Telpon langsung terputus.
Fadli menghela nafas berat. Ia pandang hp yang barusan ditutup dari seberang. Bercampur sudah perasaan dalam hatinya. Namun ada sebuah sedikit kelegaan hati. Dia kurang tertarik dengan akhwat yang baru beberapa minggu ia nikahi.
“kalo kita poligami atau cerai, gimana dek?” kata fadli saat dimalam pertama pernikahan. Entah reaksi apa yang ada didalam hati istrinya kala itu.  Semestinya malam yang bertabur keindahan untuk merayakan cinta tiap detiknya. Tapi harus terluka dengan pilihan “poligami dan cerai”.
Ah, mungkin bagi sang istri seperti cerita dalam dongeng saja. Atau cinta fantasi yang jauh dari realita. Tapi malam yang dirasakan memang benar adanya.
Dari situlah si istri mencium ada keanehan dalam rumah tangga yang akan dibangun. Namun si istri mencoba mengalihkan kepembicaraan lain. Ia tidak menyangka bahwa si Fadli, suaminya harus mengatakan sesuatu yang begitu menusuk dan merobek hatinya.
Dua bulan kemudian akhwat tersebut cerai atas desakan kakaknya.
“Malam pertama kok yang dibicarain cerai sama poligami, aneh bener”. Celetuk kakak akhwat kepada temannya. Ia merasa jengkel dengan kelakuan Fadli.

“Kenapa dia itu tidak bilang dari awal.  Kalau memang tidak suka bilang saja saat taaruf. Bukan bilangnya saat malam pertama.” emosinya makin tidak stabil. Terkadang sampai mengeluarkan kata-kata kotor.
Bersambung
#OneDayOnePost

1 comment: