Monday, 19 December 2016

Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah 3

“Tolong carikan akhwat ya. Yang cantik, sholehah,  putih, tinggi, kaya, manis”.
Pinta Fadli suatu hari.
"Eh Fadli, kalo saya dapet akhwat sesempurna itu, mending untuk saya. Bukan untuk ente. Karena cari kayak gitu ibarat nunggu bidadari yang jatuh dari langit. gak akan dapet". Kata temannya yang biasa dipanggil Aziz. Suara dari seberang telepon itu sedikit menyolot. Aziz menyayangkan sikap Fadli dalam mencari pasangan hidup yang penuh kriteria.
"kalo pun ada, kemungkinan seribu satu. Toh meski tetep mau nyari, mending mati aja dulu. Baru nanti kalo memang taqdirnya masuk syurga, otomatis ketemu sama bidadari. Sekarang mah mana mungkin dapet akhwat sesempurna itu." Lanjut Aziz. Fadli hanya cengengesan. Namun dalam hatinya tumbuh rasa ragu. Apa iya akhwat seperti itu langka ditemukan.

"Entahlah". Kata Fadli dalam hati.
Dalam ilmu yang lain, seperti teori fiqih, aqidah, dan wawasan Islam memang dia sangat menguasai. Namun jika ilmu mengenai pernikahan, Fadli kurang begitu paham. Dalam pernikahan justru nanti dari kedua belah pihak bisa saling menyempurnakan.  Artinya, dari sama-sama memiliki kekurangan, kedepannya bisa saling melengkapi.
Memasang kriteria tinggi seperti Fadli akan menyusahkan diri sendiri. Semakin lama kemungkinan besar seluruh akhwat akan menjauh dari ikhwan yang memperketat kriteria semacam itu. Orang-orang pun menilai dengan sebelah mata. Alangkah hinanya mencari kesempurnaan. Namun bila mencari pendamping hidup dengan tujuan membangun sebuah keluarga, disitulah kesempurnaan akan berusaha dibentuk. Bukan dengan mencari kesempurnaan baru membangun keluarga.
Fadli telah resmi menikah kedua kalinya dengan akhwat pilihannya yang masih muda belia. Baru lulus Aliyah. Air mukanya nampak berseri-seri dengan pernikahan tersebut. Serasa hidupnya penuh dengan kebahagiaan. Setiap detik dan menit dilaluinya tanpa sedih, galau dan guratan kehampaan tidak sebagaimana setelah perceraian waktu lalu. Saat itu dia akan memulai lembaran baru akan kisah bahtera yang siap lepas dari pelabuhan. Lautan masih tenang. Sebab masih baru memulai. Belum saling tahu sifat masing-masing. Mungkin itulah yang belum disadari oleh Fadli.
Suatu saat, pasti akan menemui badai-badai yang akan menjadi ujian dalam bahtera rumah tangga.
“Ada apa? Udah nanti aja, assalamu alaikum.” Fadli menutup hp. Wajahnya masam, sedikit kesal dengan sikap sang istri dari seberang telepon. Dia merasa istrinya egois. Setiap beberapa jam Fadli pergi, selalu ditanya. Baik kabar keadaannya, sedang apa, lagi dimana, dan apa saja sampai membuat Fadli bosan dengan rentetan pertanyaan itu.
Bukankah itu tanda bahwa sang istri perhatian kepada Fadli? Bukankah itu bukti ada cinta dihati pasangannya?
Perhatian yang besar akan lahir dari rasa cinta yang tinggi. Dan cinta di ekspresikan oleh wanita yang baru menikah dengan bentuk pertanyaan-pertanyaan saat orang yang dicintai tidak ada dihadapannya. Tinggal bagaimana sikap sang suami dalam menghadapi hal itu agar si istri mengerti pasangannya saat bekerja. Sehingga nantinya tidak mengganggu rutinitas kerja suami.
Kegembiraan pada muka Fadli semakin mengendur. Tidak seperti diawal-awal ia menikah. Terkadang jika malam ahad banyak ia habiskan bersama temannya. Bahkan sering sekali menginap di rumah Aziz dan teman kuliah lainnya yang saat itu mengontrak, dari pada meluangkan waktu liburan bersama sang istri.
“Fadli, mana istrinya, kok gak malming sama istri? Kasian lo sendirian di rumah...hahaha!” goda Aziz bersama temannya, Arif.
Malam itu Fadli mampir disalah satu warung yang ditunggu Aziz dan Arif dalam acara pasar malam. Aziz sedikit tertawa sambil memandang Fadli yang hanya sendiri sambil memencet tombol hp. Arif pun yang sedang membantu di warung Aziz tersenyum kecut. Wajah Fadli hanya memandang monitor layar kecil HP saja. Ia tidak mau berkomentar satu patah katapun dari candaan Aziz dan Arif itu.
Pernikahan Fadli masuk 1 bulan. Namun masalah-masalah itu telah nampak, walaupun ia menyembunyikan dengan rapih. Ia tidak mau terlihat ada yang tahu lagi kalau dirinya punya masalah dengan istri dari pernikahan yang kedua. Sebab, dari perceraian yang pertama saja sudah dianggap aneh oleh teman-temannya. Teman yang sudah nikah saja bisa terus langgeng hubungan nikahnya. Tapi kok Fadli tidak.

Alasannya memutuskan untuk cerai pada pernikahan yang pertama karena mengikuti perintah sang mantan ipar. Dan Fadli pun dulu tidak berjuang mempertahankan pernikahannya. Langsung memutuskan kalau akhwat pilihannya kurang cocok.
Bersambung...

OneDayOnePost

4 comments:

  1. Ditunggu lnjutanya mas. Afwan mas, kl ga slh kta bang syaiha "hp" lbh baik diganti "ponsel" kl nulis

    Saya suka kalimat "alangkah hinanya mencari kesempurnaan. Namun bila mencari pendamping hidul dengan tujuan membangun sebuah keluarga, disitulah kesempurnaan akan berusaha di bntuk. Bkn dg mncri kesempurnaan br mbngun keluarga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip masukannya mbak..dah lama gx dpet masukan...hehe
      Nanti saya revisi lgi tuh cerbungny

      Delete
  2. Ini komentar dari sisi perempuan ya...kok begitu sih Fadli...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak...mnrut saya mmng gitu fadlinya..diambil dr kisah nyata.
      Moga jdi plajaran tuk ikhwan yg lgi nyari jodoh biar gx mncari yg smpurna...

      Delete