Wednesday, 7 December 2016

Mungkin Ini Bagian Dari Kasih Sayang-Mu 3

“Kenapa....ba..pak bisa..gini?” suara Ahmad tertahan ditenggorokan. Tak sempurna mengeluarkan semua kalimat dari mulutnya. Ia tersekat atas pemandangan yang serasa tak mungkin ia alami. Namun, lagi-lagi ini adalah kenyataan. 

Polisi datang dan memberi tahu Ahmad dan pak Ram, bahwa bapaknya terjerat kasus dugaan Terorisme. Dia diciduk saat setelah lebaran idhul adha. Ya, waktu itu Ahmad sedang dalam tugas pesantren. Menikmati lebaran idhul adha di kampung orang. 

Namun ada beberapa malam disaat tugas, ia memiliki perasaan yang aneh. Ada kehampaan marasuk jiwanya. Entah ini sebagai naluri seorang anak ke bapaknya atau sekedar perasaan yang lewat. 
Tapi, perasaan itu terpecahkan saat si Ahmad disuruh pulang kampung, dan benar-benar perasaan tidak enak itu terbukti.

“Ahmad, Jaga ibu di rumah ya. Urus adek-adekmu, jangan sampe kluyuran kalo maen, nasehatin mereka semua”. Pesan bapak Ahmad. Mukanya sedikit sembab. Tangannya memegangi jeruji besi. 

Pak Ram tak jauh dari situ memperhatikan nasehat bapak Ahmad ke anaknya.  Disana hanya terdapat satu penjara saja. Namun ruangnya cukup besar. Disitulah ayah Ahmad mendekam dengan satu temannya lagi. Pengap, bau, gelap dan sunyi. Mungkin itu yang dirasakan bapak Ahmad.

“Ram, bilang ke pak Jan. Tolong  usahakan kalau bisa tebus saya dari penjara. Karna udah dipindahin ke penjara yang besar, nanti dicampur sama pidana lainnya. Saya gak mau kesana”. Mohon bapak Ahmad ke pak Ram. Dia tidak mau berlama-lama dipenjara. Dan ingin segera keluar. Memang bisa ada penebusan untuk dikeluarkan sebelum di pindahkan ke penjara yang lebih besar. Dan disana nanti akan bercampur dengan napi-napi  berbagai macam kasus kejahatan mereka. Jelas bapak Ahmad tak mau bertemu mereka.

Setelah berpamitan, Ahmad dan Pak Ram pulang. kini Ahmad sudah mengetahui semua kondisi ini. Ya, tinggal apakah si Ahmad memilih untuk tidak bersabar atau menebal kesabaran dengan banyak-banyak mengingat bahwa ada orang yang lebih menderita dari pada dirinya. Karena, setiap manusia diuji dengan berbagai lapis kemampuannya. Besarnya ujian berarti segitulah kemampuan yang ada untuk diatasi.
“Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuan”.
Allah bicara sendiri didalam Al-Qur’an. Ayat yang tidak bisa dipungkiri. Namun manusia bisa saja tidak paham hakekat ujian itu. Atau malah bisa jadi justru terbalik dalam memaknai kesabaran.

“Ibu mau dagang susu kedelei dulu, jaga adek-adekmu ya.” Pesan ibu Ahmad sebelum pergi kerja. Wajahnya menunjukkan ketegaran. Ia harus tetap menjalani ini. Saat ibu-ibu sibuk dengan  menonton gosip-gosip di televisi, ibu Ahmad berjuang menjadi tulang punggung. Setelah bapak Ahmad dipenjara, tidak ada lagi penopang keluarga sementara. Itulah satu-satunya cara untuk menghidupi keluarga. Setidaknya dapat uang hanya untuk mendapat sesuap nasi dan meneruskan hidup.

Untuk sementara Ahmad menjaga adek-adeknya di rumah. Memang sudah ada yang sekolah. Tapi ada adek bungsu yang perlu diurusnya hingga ibunya kembali dari kerja.

Bersambung..... 

2 comments: