Tuesday, 6 December 2016

Mungkin Ini Bagian Dari Kasih Sayang-Mu 2

Setelah shalat ashar, Ahmad dipanggil oleh pak Tomo yang tidak lain adalah pamannya. Dia lah yang menyuruhnya untuk pulang.

“Sudah tahu kan kabarnya, Ahmad?”. Tanya pak Tomo dengan duduk santai bersilah di lantai dalam masjid. Raut wajahnya seakan memiliki jawaban yang memutus benar merah pada Ahmad atas peristiwa yang sebenarnya terjadi. 
“Memang kenapa pak, saya gak tahu masalah ini, apa sebabnya saya disuruh pulang?” Ahmad senyum getir. Ia terus diselubungi pertanyaan yang sepertinya sedikit mulai terbuka tabir rahasia itu.

“Ahmad, bapak kamu..... di penjara, sekarang ada dilapas Cikarang”. Kata Pak Tomo berat, terbata-bata. Ia harus memberitahu kan ini. Karena Ahmad adalah satu-satunya anak yang paham agama, dan telah menyelesaikan sekolahnya dari pada adek-adeknya yang lain.
Ahmad nampak kaget dan sedikit shock. Ia tak menyangka, bapaknya yang selama ini mengantarkan uang bulanan saat di pesantren, kini harus mendekam di jeruji besi.

Ia menyembunyikan rasa kaget itu dengan diam. Tapi tatapannya sedikit kosong. Ia harus 
mengeksperikannya dengan bagaimana lagi.  Ia tak tahu. Sudah sekian lama dia memiliki ekspresi seperti itu. Namun, ini mungkin sebagai puncaknya dari ekspresi. Hanya saja ia memendam dalam-dalam agar orang lain, termasuk pak Tomo tidak melihat ekspresi itu.

“Nanti kamu diantar sama mas Ram ke polsek Cikarang. Sekalian bawa dua kresek jajan-jajan, ya.” Kata pak Tomo mengingatkan Ahmad. Ia segera undur diri dari hadapan Ahmad yang masih terpaku atas kabar tersebut. Ahmad serasa mimpi disiang bolong. Dan tak sadar sepenuhnya bahwa yang dialami hari itu adalah kenyataan. Namun dari lubuknya yang paling dalam, seberkas cahaya menyadarkannya. Iya. Ini memang ujian. Bentangan kasih sayang-Nya tak selalu diberikan dengan banyaknya akan nikmat dan kebahagiaan.

Namun hal itu diberikan dengan bentuk ujian pahit dalam menjalani hidup. Ia cukup paham dalam masalah ini. Bahkan secara teori sudah banyak  ia pelajari di pesantren dalam memahami makna sabar dan hakekatnya. Namun, terkadang fakta bicara lain. Saat terjadi musibah, disitulah teori diuji coba. Apakah dia bisa mengaplikasikannya dari teori itu, atau hanya sekedar teori belaka?
Saat itu Ahmad sedang berjuang, menata hati untuk menjalani sedikit kesabaran. 


Tak memakan satu jam, akhirnya Ahmad dan pak Ram sampai di polsek Cikarang. Namun Ahmad seperti tak percaya dengan pemandangan disana. Sekali lagi ia pastikan kalau itu bukan mimpi. Ia melihat sosok di balik jeruji besi. 
"Apakah benar itu ayahku ?"
Dada terasa sesak. Bulir air menggelinding dari mata Ahmad.

Bersambung...

No comments:

Post a Comment