Monday, 5 December 2016

Mungkin Ini Bagian Dari Kasih Sayang-Mu



“Kebetulan kalo kamu ada disitu. Besok kamu pulang ya, ada urusan dirumah”.
Tanda tanya menggunung dipikiran Ahmad. Sebuah informasi penting dan sangat singkat datang dari pamannya melalui pesan singkat SMS. Padahal jarang sekali sang paman mengontak dirinya. Bahkan hampir tidak pernah. 

Saat itu Ahmad baru sehari main di Depok, dimana temannya berada. Ia memasuki 3 bulan tugas dari pesantren. Memang sudah menjadi peraturan bagi pesantren yang tidak bisa diganggu gugat. Yaitu usai lulus Aliyah para alumni wajib tugas setahun. Tempatnya dipilih oleh salah seorang ustadz yang diamanahkan sebagai penentuan tempat. Saat itu Ahmad ditugaskan di Jakarta. Tepatnya Lebak Bulus.

Malam itu yang seharusnya ceria bersama teman satu tugas, menceritakan pahit manis bagaimana aktifitas di tempat masing-masing, namun berubah semua. Informasi dadakan dari kampung penuh dengan tanda tanya. Ahmad terus penasaran apa dibalik perintah paman itu untuk pulang ke kampungnya.
Padahal 3 bulan yang lalu Ahmad baru pulang. Tapi besok dia harus kembali lagi ke kampungnya dengan membawa segudang tanda tanya. Ada apa dibalik perintah pulang itu.
Di pagi hari Ahmad segera pulang. Sesampainya dikampung, ia mampir sejenak ditoko pamannya.

“Ni Ahmad udah pulang.”  

Sambut mang Dadan saat melihat Ahmad muncul di depan toko dimana mang dadan kerja. Ia masih saudara dengan Ahmad. Kerjanya menunggu toko bangunan di Pasar Bekasi. Setelah mengobrol sejenak, Ahmad diantar ke rumahnya oleh mang Dadan. Dua kilo lebih jaraknya antara pasar dengan rumah Ahmad.

Sesampainya di depan rumah, Ahmad melangkahkan kaki dengan terus berpikiran sama dengan pertama kali mendapat kabar dari pamannya. Rumahnya seakan tak ada yang berubah dari 3 bulan yang lalu. Sama. Langkahnya gontai memasuki daun pintu sambil menjawab salam. Terdengar dari dalam, suara lirih, seakan memaksa untuk menjawab salam Ahmad.

Tanpa menaruh dulu tas yang ada di punggungnya, ia langsung menuju sumber suara itu berasal. Sesosok wanita yang sedang berada di dapur duduk memasak nasi dengan kayu.

“Sabar ya Mad. Sabar.....” 
Katanya lirih mencoba untuk menghibur Ahmad. Raut wajah ibunya yang dingin seakan menahan gelombang ombak ujian. Ahmad semakin dibuat penasaran. Dia sama sekali belum tahu apa dibalik ini semua. Dikira ibunya Ahmad  tahu masalah ini sejak awal. Padahal justru dari kemarin sampai saat itu pertanyaan yang menggunung masih saja bertengger di pikirannya.


“kenapa sih, bu? kok sabar, emang ada apa? Ahmad gak tau apa-apa” Dengusnya. Ia sedikit kesal karena belum menemukan benang merah dari kejadian aneh ini. Ia ambil langkah menuju kamar depan untuk menaruh tas yang dari tadi menempel dipunggungnya.  Kamar kecil itu sedikit berantakan.

Bersambung......

No comments:

Post a Comment