Saturday, 10 December 2016

Gadis Kecil Dan Syukur Yang Besar

Matahari mulai merangkak muncul. Aktifitas seluruh manusia pagi itu mulai berjalan. Setetes embun segar terjatuh dari daun yang menampungnya. Tampak dari kejauhan, sesosok gadis keluar dari pintu belakang mengangkat ember kejemuran. Gadis kecil ini pagi-pagi sekali sudah beraktifitas layaknya ibu-ibu rumah tangga. Terkadang ia elap wajahnya yang terciprat air dari pakaian yang basah. Seakan tak ada kelelahan dari cerminan mukanya. Bisa dibilang muka semangat dalam memulai hari. Seumurnya terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu.

Ia senang sekali memiliki ibu. Tidak ada yang melebihi kegembiraan melain ada seorang ibu disisinya. Itu yang ia katakan suatu hari didepan ibunya sendiri. Mungkin orang lain berbeda pandangan kepada gadis ini. Tapi gadis kecil ini memandang dari sudut yang lain. Seusianya banyak anak kecil bermain riang bersama ibu dan ayahnya. Bergurau, Saling tawa dan senyum. Tapi gadis ini tidak. Memang Ibu selalu berada disisinya. Bahkan ia jaga sebagaimana ibu menjaga anaknya. Jika ibunya keluar rumah, bisa pergi hingga jauh dari rumah. Itu bukan karena kehendaknya. Tapi kehendak ibunya.
Iya, ibunya mengalami gangguan otak. Ia seorang gila. Terkadang tertawa, marah, dan bermain sendiri. Tapi gadis kecil itu tetap semangat mengurus ibunya dengan segala kondisi. Ia rela mengejar ibunya dikerumunan orang. Orang-orang tahu kalau orang gila itu adalah ibu dari gadis kecil tersebut.
Masyarakat sekitar sudah paham masa lalu keadaan ibu Lisa. Dulunya ia seorang yang waras dan berparas cantik. Entah kenapa setelah menikah dan melahirkan, ia menjadi gila. Mungkin bagi ibu itu kalau saja sadar memiliki gadis kecil, ia patut bersyukur.
Walaupun ibunya gila, tapi sang gadis tetap semangat dalam mengurusnya. Cemoohan, ejekan, hinaan dari temannya tidak berarti baginya. Ia selalu memandang senang ada ibu disisinya.
“Lisa ngerawat ibu, jaga ibu waktu bapak kerja”. Begitu kata Lisa kepada orang yang simpati ingin tahu kehidupan Lisa dan keluarganya.

Ayah Lisa kerja di kebun, mengangkat kayu-kayu besar kedalam mobil untuk dibawa ke pabrik. Saat pagi tiba dia selalu berangkat tanpa telat. Dan jika bekerja tidak banyak bicara, semua dikerjakan dengan baik. Namun kata bos yang memperkerjakannya, ia pernah mendapat musibah, bahwa kepalanya dua tahun yang lalu terbakar. Dari situ ia tidak bisa berfikir keras. Kerjanya yang begitu berat, dari pagi hingga petang, hanya mendapat uang sedikit. Itu juga dibagi untuk pengobatan ibunya.
Tidak selalu ibunya tenang dan mau diurusi oleh Lisa. Terkadang ia berontak, menjerit-jerit jika obatnya habis.

Bersambung
#OneDayOnePost

1 comment: