Wednesday, 14 December 2016

Gadis Kecil Dan Syukur Yang Besar (Tamat)

“Bapak, ibu kumat!” Lisa terus membangunkan sang bapak. Ibunya tidak berhenti bergumam, Terkadang menjerit. Jeritannya seolah tak ingin kalah dengan petir. Bola matanya tak beraturan memandang sekitar. Terasa gagal Lisa membangunkan bapaknya, ia berusaha mendiamkan ibunya. Lisa duduk disampingnya.
“Tidur buk, udah malem!” dikuceknya mata Lisa. Ia sepertinya tidur hampir pulas. Namun terbangun gara-gara suara ibu. Tangan Lisa memegangi badan ibunya itu.

“Aaaaa, grrrrmmmm,hhhhhhh.....”. masih saja jeritan-jeritan kecil itu keluar dari mulut sang ibu.
Ibunya berontak. Lisa terus memaksa agar ibunya cepat tenang. Namun ia semakin berontak. Lisa biarkan ibunya dalam jeritan. Dengan tumpukan kesal, Lisa kembali ketempat tidur. Ketika hendak berbaring, tiba-tiba Lisa ditarik, kemudian diangkat oleh ibunya dengan kasar. Lisa kaget bukan main. Mata yang tadinya kantuk hilang seketika.
Dalam keadaan hujan deras, pintu belakang terbuka. Entah apa yang di mau sang lbu mengangkat tubuh kecil Lisa dengan kasar keluar rumah.
Lisa menjerit-jerit dan minta tolong. Memanggil-manggil bapaknya. Lisa terus berada dalam kekagetan. Sebelumnya ia tidak pernah memperlakukan Lisa seperti ini. Walaupun pernah tidak diberi obat, tapi kumatnya tidak sebrutal ini.
Hujan membasahi Lisa dan ibunya. Ia membawa Lisa menjauh dari rumahnya. Anak dan ibu ini menyusuri kegelapan malam. Namun tak jauh dari situ terdapat kolam. Tanpa butuh waktu lama ibunya langsung melemparkan Lisa ke kolam penuh air. Tubuh gadis kecil itu terhempas kencang. Saat didalam rumah Lisa sudah cukup kedinginan. Kedinginan itu bertambah saat ia dilempar ke kolam. Dalam kekagetan itu Ia memanggil-manggil bapaknya.
“Eeeee...ggrrrrr...aaaaa”. ibunya menjerit di tepi kolam. Ia seolah kesal terhadap Lisa. Lisa yang berusaha berenang dibawah guyuran hujan, tanpa henti memanggil bapaknya.
Tangan Lisa bergerak tak karuan. Menahan air agar tidak menenggelamkannya. Air sudah banyak ia minum. Kini hanya jeritan-jeritan kecil yang keluar dari mulut mungilnya. Tangannyapun semakin lemah bergerak. Lisa telah berada di ujung lelah. Ia menyerah. Tak tampak derasnya air mata. Sebab bercampur dengan air hujan yang menghujam pipinya.
“Lisaaaa”.
Jerit bapaknya. Ia Langsung menjeburkan diri ke kolam. Cukup dalam baginya. Ia menolong tubuh kecil anaknya itu yang sangat kelelahan dan kedinginan. Mukanya agak membiru. Matanya setengah melek. Kesadarannya hampir hilang. Bapaknya memeluk Lisa saat dipinggir kolam sambil menangis sesunggukan. Ia tidak menyangka anaknya malam itu bisa ditengah kolam.
Ibunya masih saja ditepi kolam. Berdiri, namun jeritannya sudah tak terdengar. Hanya gumaman tanpa suara dari mulutnya.
Malam itu adalah malam musibah untuk Lisa. Esoknya Lisa demam. Ia mengalami panas hebat. Lisa langsung dilarikan kerumah sakit. Ayahnya sudah tak memperdulikan uangnya yang sedikit. Buru-buru ia membawa anak semata wayangnya, yang selalu mengurus keluarga menggantikan ibunya. Ia tidak rela jika anaknya menderita, disamping dia juga harus mendapati ujian seorang istri yang gila.
Tak sampai dua hari, kesehatan Lisa telah pulih. Ia kembali bekerja sebagaimana sebelumnya. Ia kembali mengurus ibunya setelah selesai menyelesaikan kerja rumah. Tentang riwayat ibunya, bahwa ibu dari gadis kecil itu dulunya adalah kembang desa. Ia sangat cantik dan pintar bernyanyi. lisa sama sekali belum pernah mendapatkan kasih sayang, ataupun pelukkan dari sang ibu. Sama sekali tidak pernah.
Lisa mendapatkan garis keturunan dari sang ibu. Dia mewariskan suaranya yang indah. Kadang jika kehutan bersama ayahnya mencari bambu untuk dijual dan kebutuhan rumah, ia bernyanyi dengan riang. Terkadang ia juga berpantun dan berpuisi. Seolah garis keras dalam menjalani hidupnya sirna saat melantunkan pusi dan lagu yang keluar dari mulut mungilnya.
Rumahnya banyak sekali kerusakan. Tak ada sisa uang sedikitpun untuk memperbaiki. Sebagian besar uangnya habis untuk keperluan berobat sang ibu. Hanya diupah dua puluh ribu saja, bekerja dari pagi hingga petang. Tak ada modal sama sekali. Semuanya habis.
Atas kepedulian orang-orang tetangga, dan warga sekitar, akhirnya bantuan sedikit demi sedikit datang. Tak banyak, namun terus-terusan. Hingga akhirnya terkumpul ratusan juta, untuk gadis kecil Lisa bersama kedua orang tunya. yaitu Sang ibu yang gila, dan sang ayah yang susah berfikir.
TAMAT
#OneDayOnePost


4 comments:

  1. Saya kira td lisanya bakal meninggal saat di cebur ke kola. Alhamdulillah lisa selamat...hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe..kalo meninggal sad anding mbak...yang nulis makin sedih....

      Delete
  2. Replies
    1. Iya mbak...diambil dr kisah nyata...seorang gadis kcil yg mmiliki ibu gila...
      Kisahny ada di you tube..

      Delete