Monday, 12 December 2016

Gadis Kecil Dan Syukur Yang Besar 3

Malam sebentar lagi tiba. Dan jalanan saat itu telah lengang. Pematangan sawah disudut jalan sudah hampir tak terlihat. Usaha Lisa mengajak ibunya pulang tak membuahkan hasil. Namun Lisa tidak pantang menyerah, walaupun setiap tangan yang mendarat ditubuh ibunya dihempaskan begitu saja. Lisa terus mengikuti ibunya. Minimal ada yang menjaganya meski malam segera tiba.
“Lisaaaa.....” sebuah teriakan memanggilnya dari arah belakang. Dilihatnya sumber suara itu. Ternyata bapaknya. Ia berlari kecil mengejar Lisa yang membuntuti ibunya.  Lisa sedikit tenang. Ia bersyukur ayahnya menyusul dan membantu untuk menahan ibunya.


“Tadi ayah cari kemana-mana, kemana Lisa sama ibu”. Ayahnya sudah menggendong Lisa, sambil tangan satunya memegangi tangan ibunya. Tanpa perlawanan sang ibu menurut. Reaksi mukanya datar. Tak ada gerungan atau komat-kamit. Hanya diam membisu, dan pandangan kosong kedepan.
Sudah berapa kali Lisa mengalami seperti itu. Ia kewalahan menghadapi ibunya jika berontak. Dan Lisa tak bisa mengandalkan ayahnya. Terkadang ayah Lisa pulang hingga larut malam. Namun untung saja sore menjelang malam ayah Lisa datang membantu.
***

Tak jauh dari belakang rumah, kepulan asap memenuhi ruangan. Malam telah memasuki tahapnya. Sesekali terdengar suara glotekan dari dapur. Ya, saat itu Lisa sedang memasak nasi. Setelah nasi jadi, ia merebus daun singkong yang diambilnya dari tepi kubun yang tak jauh dari rumah. Layaknya ibu-ibu, untuk anak ukuran gadis kecil, ia sudah mampu mengerjakan itu semua dengan mudah.
“Setiap hari Lisa memasak untuk ibu dan bapak. Kalo nunggu bapak pulang, Lisa kasian, bapak abis kerja. Pasti capek”. Jawab Lisa saat ditanya aktfitasnya oleh tetangga. Daun singkong yang direbus sudah matang. Barulah orang tua Lisa datang untuk menyantap makanan yang sangat sederhana. berkumpul ketika makan, barulah keluarga kecil itu begitu terasa. Jarang sekali Lisa makan daging. Mungkin hanya setahun dua kali. Saat idhul fitri dan idhul adha saja. Selain itu tidak pernah.

***
Suatu malam yang dingin dan hujan deras turun tanpa henti, Ditambah raungan petir yang menggelegar, ibu Lisa tidak tidur. kelakuannya macam anak kecil. Dari mulutnya keluar jeritan-jeritan pelan. Lalu menjambaki rambutnya sendiri. Lisa yang tak jauh berada didekat ibunya terbangun. Melihat tingkah polah ibunya, Lisa bisa menebak jika sikapnya itu menunjukkan ibunya sedang kumat.
“Bapak, bapak, ibu kumat!” Lisa berusaha membangunkan ayahnya yang tak jauh dari tempat Lisa tidur. Beberapa kali dibangunkan tidak bisa. Suara petir sesekali mengiringi turunnya hujan. Cahayanya menerangi sudut ruangan dimana bapaknya beristirahat.


Bersambung...

#OneDayOnePost

2 comments: