Monday, 12 December 2016

Gadis Kecil Dan Syukur Yang Besar 2

“Pak, obat untuk ibu beberapa hari lagi mau abis, nanti beli lagi ya”. Lisa memegang beberapa lempengan obat kapsul yang akan diberi ke ibunya. Itulah satu-satunya obat yang dapat menenangkan ibunya jika kambuh.
Pagi dan siang minum dua kapsul, dan pada malam hari minum 3 kapsul. Jika kumat, Lisa menambah takaran obatnya.
Tidak ada yang diinginkan Lisa kecuali hanya satu permintaan saja. Yaitu agar ibunya diberi kesembuhan. Ia ingin agar ibunya memasak untuknya. Karena anak-anak yang lain juga seperti itu. Memasak untuk anaknya.

Disebuah tempat, sekumpulan orang sedang memperhatikan Ibu Lisa. Sesekali terdengar tawaan dari orang-orang yang melihatnya.  Tapi wanita itu tak menghiraukan. Ia merebut makanan yang ia lewati tanpa ada kata-kata. Ia berjalan lagi lalu diikuti anak-anak kecil sambil tertawa-tawa. Tergambar pada wajah wanita itu pandangan yang kosong. Raut muka yang tak beraturan. Terkadang menyunggingkan giginya. Jika sedang keluar tanpa dipantau, ia keliaran bermain tak jelas entah kemana.
“Ibu kemana sih?!”  Khawatir Lisa dalam hati.
Ia takut terjadi apa-apa pada ibunya. Dia susuri terus jalanan yang sedikit ramai. Senja sebentar lagi akan pudar. Namun kegelisahan serasa tidak pernah pudar dari hati Lisa. Dari kejauhan mata Lisa menangkap sosok yang sedang berjalan. Langkahnya gontai dan tersedat-sedat. Sesekali berhenti. Lisa melangkah cepat menyusul sosok itu. Dugaan Lisa benar. Ternyata itu ibunya. Dengan lari kecil Lisa mengejarnya. Lisa harus cepat segera menjemput ibunya. Sebab  malam akan tiba.
“Ayo buk, pulaaang”. Suaranya sedikit serak. Lisa tarik lengan ibunya. Ibu Lisa masih tetap pada pendiriannya. Dia seakan ingin jalan terus tanpa berhenti. Lisa menarik lengannya lagi. Kini lebih kuat. Ibunya berontak. Ia hempaskan tangan Lisa yang mencengkeram lengan ibunya. Namun Lisa tak mau kalah. Cengkaramannya semakin kuat. Berontak ibunya juga tak tak mau kalah. Semakin kuat cengkraman Lisa, semakin besar berontak ibunya.
Cengkaraman tangan Lisa di lengan ibunya terlepas. Ibunya menjauh dari Lisa. Ia memegang ibunya dari belakang dengan menarik bajunya. Ibunya seakan merasa terganggu. Ia hempaskan tangan Lisa. Lalu ia dorong tubuh mungilnya itu. Lisa tak bisa menyeimbangi dorongan ibunya yang cukup kuat. Akhirnya ia terjatuh.
“Ya Allah...”Lisa mengeluh dalam hati. Air matanya menetes. Semakin deras, dan menganak sungai di pipinya. Lisa masih tersungkur diatas tanah. Ibunya tetap berjalan tanpa tujuan. Lisa bangkit, menghapus air mata dipipinya dengan cukup keras. Ia kejar lagi ibunya. Ia tarik kembali lengannya. Ia tahan, agar tidak pergi lebih jauh lagi. Ibunya terus saja memberontak.
“ibuuuu, ayo pulaaaaang, buu....”. Lisa terus memohon kepada ibunya. Walaupun ia tahu bahwa ibunya gila, tapi tidak membuatnya berhenti memohon sambil menahan lengan sang Ibu. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Terkadang ia hapus dengan punggung tangannya.

Bersambung....

#OneDayOnePost


2 comments: