Thursday, 29 December 2016

Teman Sesaat (TAMAT)

Ada status terbaru dari beranda facebook ketua redaksi majalah yang membuatku kaget. Mas Iyan telah meninggal.
Kenapa secepat itu? Padahal baru beberapa hari ini aku sering berkomunikasi. Status dari ketua redaksi itu disertai upload foto yang berisi saat kami bersama kru yang lain. Ada juga aku dan mas Iyan serta satu kru yang lainnya.
Tak lama komen membanjiri status ketua redaksi itu. Semuanya berbela sungkawa. Tak terkecuali aku.
Kematiannya benar-benar tidak aku kira. Pasalnya, biasanya dia upload banyak foto obat-obatan yang akan ia minum hampir setiap hari. Namun tiba-tiba berhenti. Aku saat itu hanya menebak, mungkin dia bosan dan lebih mementingkan istirahatnya. Foto-foto yang ia kirim via WhatsApp masih tersimpan di memory handphoneku.

Wednesday, 28 December 2016

Teman Sesaat III

Tak terasa mas Iyan sudah sebulan. Majalah perdana hasil karyanya sangat beda. Cover majalah menjadi Berubah setelah adanya mas Iyan. Gambarnya lebih familiar untuk anak-anak. Tapi dia sering ngelembur hingga larut malam untuk menyelesaikan lay out dan desain cover.
Aku perhatikan dia jarang sekali makan. Dan suka sekali memesan jus kepadaku. Aku dengan baik hati membelikannya. Sebenarnya dengan keberadaannya saja sudah dibilang untung bagiku. Dulu, saat desainer yang lama begitu  kaku dan membosankan. Tapi semenjak ada yang baru justru menjadi teman dekat. Apalagi sering mengeluarkan uneg-uneg kepadanya perihal masalah pribadi.

Teman Sesaat II

Dengan cepat dan lihai gerakan-gerakan jarinya memainkan shortcut di keyboard. Melihatnya seperti itu, ingin sekali aku belajar PhotoShop. Memang sebenarnya aku sedikit tahu menu-menu di aplikasi itu. Tapi yang jelas sangat jauh dari kata mahir. Apalagi sepandai mas Iyan ini.
“disini bagian apa mas?” dia melihatku sejenak, lalu fokus lagi ke layar komputer.
“saya bagian ngelobi sekolah-sekolah untuk konten rubrik sekolah sahabat. Jadi setiap hari kamis saya keluar”.

Teman Sesaat I

“Besok ada bagian desainer baru. Desainer yang dulu udah keluar. Coba besok kamu standby aja ya di kantor”. Pesan ketua redaktur kepadaku sore itu.

Aku sudah lama menjadi salah satu kru  di majalah anak Islam. Bagiku kerja di majalah sebenarnya hanya untuk sambilan. Karena waktu itu masih sedang tahap penyusunan skripsi.

Disela-sela penyusunan,  aku berinisiatif  untuk mengisi waktu dengan bergabung bersama kru majalah Islam. Disitupun aku belajar banyak. Bagaimana harus mengejar deadline dan tidak menyamakan antara tulisan orang dewasa dengan anak.

Friday, 23 December 2016

Melangitkan Do’a untuk Aleppo

BELUM usai umat Islam menghadapi kasus pelecehan Qur’an, tragedi Rohingya dan musibah di Aceh, kini perhatiannya menuju Aleppo. Salah satu tempat di negeri Syam yang Allah berkahi. Sudah sekian lama Negeri Suriah memanas. Namun yang lebih panas hari ini adalah Aleppo. Kondisi umat Islam disana sedang berada dalam puncak ujian. Dikepung, disiksa, diperkosa dan dibantai. Darah menggenang dimana-mana. Bangunan luluh lantak. Bau kematian tersebar disegala sudut kota. Seakan kehidupan telah hilang meninggalkan mereka.

Ujian Setelah Liburan (Tamat)

“Ya udah pak, beli yang seken aja, lagian ini motor jarang dipake. Kita tinggal ke pulau terus”.
Aku langsung meluncur lagi setelah ganti ban dalam. Semoga saja mereka yang sudah dipelabuhan tidak lama menunggu.
Saat belum jauh dari bengkel, tiba-tiba ada orang yang mencegatku.
“Mas, antarkan saya ke perumahan villa indah ya?” pinta seorang laki-laki yang cukup tua. Aku perhatikan sepertinya dia habis lelah berjalan jauh. Kasihan. Lebih baik aku antarkan dulu orang ini. Semoga saja rumahnya tidak jauh.

Thursday, 22 December 2016

Ujian Setelah Liburan II

“Yang penting kita menyampaikan amanah niat tulus kakak kelas kita itu, apapun kondisi hewan yang diqurbankan nanti.” Nasehatku kepada Rosyid setelah pulang dari menaruh sapi di masjid.
Lebaran kali ini kami shalat idhul adha di kota. Aan shalat ied di Pulau, bahkan kabarnya ia menjadi khotib.
Sholat dan pemotongan sapi selesai. Hanya tinggal bongkahan-bongkahan daging dan tulang. Itu semua diangkat kesebuah mobil box untuk nantinya akan dibawa ke pelabuhan.
“Gimana bil, daging udah siap?” tanya Aan dari seberang handphone. Ia standby sembari mengkondisikan masyarakat yang siap membantu di pulau dalam penyacahan daging sapi hingga pembungkusan.

Wednesday, 21 December 2016

Ujian Setelah Liburan I

Sunrise di Pulau Geranting, Kel. Pulau Terong
“Besok kita ketemu di bandara Soekarno Hatta jam 9 pagi ya...”. Pesan Aan melalui handphone.
Ia ketua perjalananku nanti untuk menuju pulau dimana kami tugas. Kami sebelumnya berlibur 3 hari dikampung masing-masing setelah mengikuti wisuda di Kampus Jakarta. Aku yang tinggal di Solo harus menuju pulau terpencil, yang ukurannya tak lebih dari 5 hektar. Yaitu Pulau Terong, Kepulauan Riau. Meski dari peta jaraknya sangat jauh, tapi ternyata menggunakan pesawat hanya memakan satu jam saja.
Kami harus kembali ke pulau sebelum idhul adha. Itulah perintah dari atasan. Terpaksa lebaran qurban tidak di rumah karena ada permintaan tersebut. Kami tidak bisa membantah permintaan itu. Walaupun berat dihati, tapi kami tetap harus rela berlebaran dipulau.

Tuesday, 20 December 2016

Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah TAMAT

Aziz dan Arif telah mencium aroma ke tidak harmonisan pernikahan Fadli. Sebab tak ada satupun curhat atau sharing. Padahal mereka berdua termasuk sahabat yang cukup dekat.

 Terlebih Aziz dan Amir masing-masing telah berkeluarga, yang tentunya pernah mengalami masa-masa kritis dalam pernikahan dan bagaimana mencari jalan keluarnya.
 Namun Fadli hanya curhat pada saudaranya di dunia maya.

“Saya kurang cocok mbak sama istri saya. dia egois bener orangnya.”
“Mau cari yang lain lagi, Fadli?”
“Iya mbak, saya juga mau cari kerja di tempat lain. Mungkin gak di Jakarta lagi. Saya mau pindah ke Jawa Tengah. Biar temen-temen gak ada yang tahu masalah saya.”

Monday, 19 December 2016

Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah 3

“Tolong carikan akhwat ya. Yang cantik, sholehah,  putih, tinggi, kaya, manis”.
Pinta Fadli suatu hari.
"Eh Fadli, kalo saya dapet akhwat sesempurna itu, mending untuk saya. Bukan untuk ente. Karena cari kayak gitu ibarat nunggu bidadari yang jatuh dari langit. gak akan dapet". Kata temannya yang biasa dipanggil Aziz. Suara dari seberang telepon itu sedikit menyolot. Aziz menyayangkan sikap Fadli dalam mencari pasangan hidup yang penuh kriteria.
"kalo pun ada, kemungkinan seribu satu. Toh meski tetep mau nyari, mending mati aja dulu. Baru nanti kalo memang taqdirnya masuk syurga, otomatis ketemu sama bidadari. Sekarang mah mana mungkin dapet akhwat sesempurna itu." Lanjut Aziz. Fadli hanya cengengesan. Namun dalam hatinya tumbuh rasa ragu. Apa iya akhwat seperti itu langka ditemukan.

Friday, 16 December 2016

Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah 2

Fadli kembali membujang seperti 3 bulan yang lalu. Hidup yang ia rasakan begitu sempit. Menghimpit dirinya setiap jengkal menit yang ia lalui. Dan ia menarik diri dari pergaulan sosial, khususnya kepada teman-teman sekelas dulu. Mungkin berjuta-juta rasa malu sudah menghantui dirinya.
Ia tidak mau teman-temannya tahu kalau dirinya telah bercerai. Kehidupannya semakin memburuk. Bahkan sampai mengganggu pekerjaannya, hingga ia terpaksa dipecat karena terbebani dengan masalah cerai.

Thursday, 15 December 2016

Pilihan Takdir Itu Telah Berbuah I

Matahari seakan enggan muncul kepermukaan. Mendung masih saja betah menggantung di awan. Menahan terpaan sinar matahari yang membasahi bumi. Angin cukup kencang bertiup dipagi hari. Meniup berhelai rambut seorang yang duduk termenung menatap nasib. Fadli memandang bisu hamparan kebun dihadapannya. Tenggelam bersama masa lalu yang saat itu baru ia sesali.
“Kenapa, kenapa dan kenapa?”
Serunya dalam hati.
Kini ia hidup seperti dipengasingan. Sebuah rumah yang cukup sederhana di pinggiran kota, mungkin itulah sebagai tempat pilihan terakhir memulai hidup baru untuk menutupi semua aibnya di masa lalu.

Wednesday, 14 December 2016

Gadis Kecil Dan Syukur Yang Besar (Tamat)

“Bapak, ibu kumat!” Lisa terus membangunkan sang bapak. Ibunya tidak berhenti bergumam, Terkadang menjerit. Jeritannya seolah tak ingin kalah dengan petir. Bola matanya tak beraturan memandang sekitar. Terasa gagal Lisa membangunkan bapaknya, ia berusaha mendiamkan ibunya. Lisa duduk disampingnya.
“Tidur buk, udah malem!” dikuceknya mata Lisa. Ia sepertinya tidur hampir pulas. Namun terbangun gara-gara suara ibu. Tangan Lisa memegangi badan ibunya itu.

Monday, 12 December 2016

Gadis Kecil Dan Syukur Yang Besar 3

Malam sebentar lagi tiba. Dan jalanan saat itu telah lengang. Pematangan sawah disudut jalan sudah hampir tak terlihat. Usaha Lisa mengajak ibunya pulang tak membuahkan hasil. Namun Lisa tidak pantang menyerah, walaupun setiap tangan yang mendarat ditubuh ibunya dihempaskan begitu saja. Lisa terus mengikuti ibunya. Minimal ada yang menjaganya meski malam segera tiba.
“Lisaaaa.....” sebuah teriakan memanggilnya dari arah belakang. Dilihatnya sumber suara itu. Ternyata bapaknya. Ia berlari kecil mengejar Lisa yang membuntuti ibunya.  Lisa sedikit tenang. Ia bersyukur ayahnya menyusul dan membantu untuk menahan ibunya.

Gadis Kecil Dan Syukur Yang Besar 2

“Pak, obat untuk ibu beberapa hari lagi mau abis, nanti beli lagi ya”. Lisa memegang beberapa lempengan obat kapsul yang akan diberi ke ibunya. Itulah satu-satunya obat yang dapat menenangkan ibunya jika kambuh.
Pagi dan siang minum dua kapsul, dan pada malam hari minum 3 kapsul. Jika kumat, Lisa menambah takaran obatnya.
Tidak ada yang diinginkan Lisa kecuali hanya satu permintaan saja. Yaitu agar ibunya diberi kesembuhan. Ia ingin agar ibunya memasak untuknya. Karena anak-anak yang lain juga seperti itu. Memasak untuk anaknya.

Saturday, 10 December 2016

Gadis Kecil Dan Syukur Yang Besar

Matahari mulai merangkak muncul. Aktifitas seluruh manusia pagi itu mulai berjalan. Setetes embun segar terjatuh dari daun yang menampungnya. Tampak dari kejauhan, sesosok gadis keluar dari pintu belakang mengangkat ember kejemuran. Gadis kecil ini pagi-pagi sekali sudah beraktifitas layaknya ibu-ibu rumah tangga. Terkadang ia elap wajahnya yang terciprat air dari pakaian yang basah. Seakan tak ada kelelahan dari cerminan mukanya. Bisa dibilang muka semangat dalam memulai hari. Seumurnya terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan itu.

Friday, 9 December 2016

Mungkin Ini Bagian Dari Kasih Sayang-Mu (The end)

Selang beberapa hari Ahmad membantu Mang Dadang yang bekerja di toko. ia membantu apa saja untuk sekedar meringankan beban orang tua.  Setiap pulang kerja, ia juga mengajar anak-anak TPA yang tak jauh dari rumah. Ia ditemani dengan salah seorang temannya. 
Fahim namanya. Ia seorang perantauan. Saat itu ia hanya bekerja dan mengajar anak TPA. Ahmad pun banyak menumpahkan berbagai curhatan kepada Fahim. Jika terasa suntuk di rumah, terkadang si Ahmad bermain ditempat Fahim, yang tinggalnya di sebuah mushalla kecil.

Wednesday, 7 December 2016

Mungkin Ini Bagian Dari Kasih Sayang-Mu 3

“Kenapa....ba..pak bisa..gini?” suara Ahmad tertahan ditenggorokan. Tak sempurna mengeluarkan semua kalimat dari mulutnya. Ia tersekat atas pemandangan yang serasa tak mungkin ia alami. Namun, lagi-lagi ini adalah kenyataan. 

Polisi datang dan memberi tahu Ahmad dan pak Ram, bahwa bapaknya terjerat kasus dugaan Terorisme. Dia diciduk saat setelah lebaran idhul adha. Ya, waktu itu Ahmad sedang dalam tugas pesantren. Menikmati lebaran idhul adha di kampung orang. 

Namun ada beberapa malam disaat tugas, ia memiliki perasaan yang aneh. Ada kehampaan marasuk jiwanya. Entah ini sebagai naluri seorang anak ke bapaknya atau sekedar perasaan yang lewat. 
Tapi, perasaan itu terpecahkan saat si Ahmad disuruh pulang kampung, dan benar-benar perasaan tidak enak itu terbukti.

Tuesday, 6 December 2016

Mungkin Ini Bagian Dari Kasih Sayang-Mu 2

Setelah shalat ashar, Ahmad dipanggil oleh pak Tomo yang tidak lain adalah pamannya. Dia lah yang menyuruhnya untuk pulang.

“Sudah tahu kan kabarnya, Ahmad?”. Tanya pak Tomo dengan duduk santai bersilah di lantai dalam masjid. Raut wajahnya seakan memiliki jawaban yang memutus benar merah pada Ahmad atas peristiwa yang sebenarnya terjadi. 
“Memang kenapa pak, saya gak tahu masalah ini, apa sebabnya saya disuruh pulang?” Ahmad senyum getir. Ia terus diselubungi pertanyaan yang sepertinya sedikit mulai terbuka tabir rahasia itu.

Monday, 5 December 2016

Mungkin Ini Bagian Dari Kasih Sayang-Mu



“Kebetulan kalo kamu ada disitu. Besok kamu pulang ya, ada urusan dirumah”.
Tanda tanya menggunung dipikiran Ahmad. Sebuah informasi penting dan sangat singkat datang dari pamannya melalui pesan singkat SMS. Padahal jarang sekali sang paman mengontak dirinya. Bahkan hampir tidak pernah. 

Saat itu Ahmad baru sehari main di Depok, dimana temannya berada. Ia memasuki 3 bulan tugas dari pesantren. Memang sudah menjadi peraturan bagi pesantren yang tidak bisa diganggu gugat. Yaitu usai lulus Aliyah para alumni wajib tugas setahun. Tempatnya dipilih oleh salah seorang ustadz yang diamanahkan sebagai penentuan tempat. Saat itu Ahmad ditugaskan di Jakarta. Tepatnya Lebak Bulus.

Thursday, 1 December 2016

Jauh Akhlak Dari Manhaj


Hidup tentu perlu arahan dan tujuan. Tidak sekedar menjalani rutinitas keseharian tanpa adanya tuntunan. Maka seseorang yang baik akan butuh yang namanya manhaj. Apa itu manhaj? Secara bahasa manhaj artinya jelas dan terang. Berarti orang yang sudah memiliki manhaj, dia akan berjalan dengan jelas dan terang. Adapun arti manhaj secara syar’i adalah sebagaimana dikutip dari pustakasunnah.wordpress, menyadur dari kitab Al-Ajwibah al-Mufiidah ‘an As-ilati Manaahij Jadiidah, bahwa  manhaj adalah jalan hidup yang lurus dan terang dalam beragama menurut pemahaman para Shahabat.