Thursday, 17 November 2016

Terhanyut dalam Duka


Luqman duduk mematung diatas kursi. Pandangannya kosong kedepan. Tak lama air matanya meleleh. Hatinya merasa terenyuh shubuh itu. Ia mendapatkan kabar dari kampung, bahwa sang paman telah meninggal jam 2 dini hari. Badan Luqman seolah lumpuh sejenak. Hampir saja hp yang ada digenggamannya terlepas. Dari semalaman memang mode internet luqman lupa matikan. Pada saat bangun banyak pemberitahuan, khususnya dari jejaring sosial. Padahal shubuh itu ia iseng-iseng membuka HPnya. Tak disangka, sepupunya menshare sebuah status kabar duka dari kampung Luqman.
“Innalillahi wainnailahi rojiun”, bibir Luqman bergetar, dadanya dipenuhi sesak kesedihan.


Padahal baru seminggu yang lalu pamannya langsung menelpon Luqman. Namun shubuh itu dia telah meninggalkan dunia. Cepat sekali rasanya. Ia merasa banyak memiliki kesalahan pada pamannnya itu.. bahkan, saat ia pergi ke Jakarta untuk kerja, ia tidak pamit kepadanya. Itu yang semakin membuat dirinya begitu sedih dan terpukul. Teringat masa lalu, sang paman begitu banyak membantu. Dalam keadaan keluarga Luqman yang hampir hancur karena hutang. Dengan tangan lebar, uluran bantuan darinya memperbaiki keluarga Luqman.
Disaat yang sama pula pamannya membimbing Luqman dalam menghadapi psikologinya yang kritis. Luqman terlahir sebagai anak pertama dari keluarga yang memiliki masalah hutang, ditambah kasus orang tuanya hingga kepolisian, menjadi goncangan besar pada dirinya. Khususnya dalam hal sosial. Sang paman dengan pemahaman agama yang kuat, menyadarkan Luqman dari keterpurukan. Menata kembali system hati yang sempat terhempas badai musibah.
“Musibah yang Allah beri, tidak akan diluar batas kemampuan manusia untuk mengatasinya”.
Pesan paman suatu hari kepada Luqman. Suatu nasehat yang mengalir dari hati yang tulus, benar-benar membasahi hati Luqman yang gersang. Tidak hanya sekali dua kali Luqman mendapatkan petuah yang begitu berharga. Ia sering mendengar kutipan nasehat itu saat pamannya mengisi rutin disebuah majelis ta’lim. Tidak hanya satu tempat kajian yang ia rintis. Sudah banyak lahan dakwah yang paman buka hingga diluar kecamatan dimana paman tinggal. Demi menegakkan kalimat Allah, dakwah disebar melalui kajian-kajian yang telah terbentuk. Terkadang Luqman disuruh menggantikan pamannya untuk menyampaikan ilmu yang telah ia dapat dipesantren dulu. Walaupun masih amatiran dan belum menguasai tehnik berpidato, tapi Luqman menunaikan amanah itu dengan semampunya.
Paman seakan menaruh harapan besar kepada ponakannya. Dalam berbagai kesempatan, Luqman sering diajak mengikuti kajiannya. Bahkan sempat sebelum kajian dimulai, Luqman dipersilahkan untuk menjabarkan makna suatu hadist dalam buku hadist arbain an-Nawawi.
“Luqman biar tau kondisi lapangan itu seperti apa. Biar nanti kedepannya tidak kaget”, kata paman suatu hari saat berbincang-bincang ringan.
Sempat pula, Luqman disuruh mengikuti daurah (kajian) hadist Umdatul Ahkam di Bekasi, yang diisi oleh Syaikh yang datang dari salah satu negara bagian Afrika. Meski jauh, paman mengantarkannya hingga ketempat kajian itu karena kebetulan juga dia berbelanja di Tanah Abang. Dalam waktu 10 hari syaikh mampu menjelaskan seluruh hadist dalam kitab umdatul ahkam. Setelah selesai, para peserta ditawarkan mengikuti daurah yang lebih lama lagi. Dua bulan. Yaitu daurah yang menjelaskan isi kitab Fathul Baari, karangan Ibnu Hajar  Al-Asqolany. Panitia mengabarkan bahwa selama dua bulan dalam mengikuti acara akan dibebaskan uang makan. Hanya mengikuti kajian saja.
Sebenarnya Luqman ingin mengikuti acara itu. Namun, ia tidak bisa lama-lama. Karena ia meninggalkan anak-anak TPA di kampungnya. Bila ia memaksa ikut, berarti anak-anak akan terbengkalai.
Sesampainya di kampung, Luqman langsung menggantikan kajian pamannya beberapa hari, menyampaikan semua yang sudah didapat dari daurah 10 hari waktu lalu.
Selain dari itu, Luqman menganggap ada yang unik dari pamannya. Meski fisik nampak tua, tapi dalam segi berkendaraan tak main-main. Seolah darah muda masih melekat dalam dirinya. Hal itu pernah dirasakan oleh Luqman sendiri saat berboncengan dengan pamannya dari kampung ke kota.
Jalanan yang macet dipersimpangan lampu merah, tidak membuat sang paman terus ikutan macet bersama puluhan mobil. Tapi dengan lihanya, motor yang besar dibuatnya seperti mengendarai sepeda. Beban motor laki yang sesungguhnya seakan menjadi ringan. Jantung Luqman terasa ingin lepas kalau sudah dibonceng. Apalagi saat arah berlawanan terdapat mobil. Bila sepersekian detik tidak menghindar, entah bagaimana nasib Luqman dengan pamannya itu.
“Mas, kalau sudah dijalan, gak usah takut mati. Ajal itu sudah ditentukan. Yang penting kita berani, jangan ragu,” pesannya kepada Luqman diatas kendaraan.
Jika sudah di jalan raya, pamannya seperti pembalap liar. Semua yang berada didepannya akan dibalap.  Kondisi yang tak mendukung pun tak membuatnya menurunkan gas. Tapi terus memainkan kelihaiannya dalam berkendaraan.
Rasa takut dan khawatir sepertinya sudah bukan kalimat yang ada pada diri pamannya. Sebab, beberapa puluh tahun silam, beliau termasuk salah satu pasukan yang ikut mengusir pasukan kejam beruang merah.  Ia bersama teman-temannya dengan penuh berani menghadang tanpa ragu, agar para penjajah hengkang dari negeri yang mayoritas dihuni kaum muslimin.
Makanya, hanya berkendaraan, terlebih dalam keadaan aman adalah hal yang tidak perlu ditakutkan.
Gaya dan tutur kata dalam kajian, Luqman memandang pamannya seperti salah seorang ustadz senior yang telah lama meninggal. Ustadz itu memiliki berbagai rekaman kajiannya yang sampai saat itu masih banyak tersebar. Bermula dari menyampaikan satu ayat, lalu dilanjutkan dengan penjelasan panjang. Tanpa lupa diselipkan perkataan para salaf untuk menguatkan dalil ayat yang telah disebutkan. Sempat beberapa kali luqman mendengarkan ceramah itu, ia selalu teringat dengan penyampaian pamannya.
Beberapa tahun sebelum pamannya meninggal, Luqman sudah tidak berada di kampung. Dengan alasan ingin kepesantren tahfidz, ia mulai meninggalkan kampungnya. Semenjak itu dia mulai jarang bertemu pamannya. Hanya mungkin diwaktu kepulangannya saja, atau jika ada hal-hal penting, baru Luqman akan bertemu.
Pernah Luqman tengah dipesantren mendapat tawaran sekolah di Yordania. Namun dia tidak bisa memutuskan secara pribadi. Lantas dia langsung menghubungi pamannya, bagaimana keputusan yang baik. Terlebih yayasan yang menawarkan sekolah diluar negeri tersebut asing didengar. Dua hari setelah tawaran itu, Luqman langsung bertemu pamannya.
Hasil dari pertemuan itu, Luqman disuruh menghubungi salah seorang ustadz seniornya dan memiliki pengalaman dalam yayasan yang memberangkatkan calon mahasiswa untuk sekolah keluar negeri, khususnya ke Timur Tengah. Ustadz itu mengatakan, “Saya tidak tahu yayasan itu, dan tidak pernah mendengar sebelumnya. Saya sarankan tidak usah ikut. Masih banyak beasiswa keluar negeri dari yayasan yang jelas dan bertanggung jawab”.
Atas saran dan masukan dari ustadz tersebut, Luqman tidak jadi ikut. Ia menaruh kepercayaan pada ustadz yang berpengalaman dan tidak mau menggantungkan nasib pada yayasan yang tidak jelas tanggung jawabnya. Akhirnya Luqman kembali lagi ke pesantren.
Dua tahun berlalu. Luqman telah selesai dari pesantren dan perkuliahan. Kini ia tinggal disebuah masjid. Dia menjadi imam di salah satu masjid dekat kampusnya. Baginya Menjadi imam sebagai mengisi kekosongan sekaligus menyelesaikan skripsi hingga selesai.
Selepas ashar HP Luqman berbunyi. Ia lihat nomornya asing. Nomor baru. Ia angkat suara tidak asing. Ternyata pamannya.
“Saya ada di Bekasi sekarang, mas. Kebetulan besok ada acara di Asrama Haji. Jadi malemnya rencana mau nginep di tempatmu aja. Kamu dimana sekarang?,” suara pamannya dari seberang telpon. Suaranya sedikit serak.
“saya di Bekasi, pak. Bapak ke arah Rawalumbu aja, nanti saya jemput dipersimpangan Rawa Lumbu”, ujar Luqman. Sebenarnya ia kaget. Tak menyangka ia akan kedatangan tamu. Dari keluarganya sendiri lagi. Ditambah dia sudah lama tidak bertemu.
Luqman sudah janjian, jam 5 sore ia akan menjemput pamannya diperempatan dekat jalan ke Arah Rawa Lumbu.
Malamnya, setelah berbincang-bincamg ringan sang paman menawarkan agar Luqman selepas tugas dari kuliah nanti membuka rumah tahfidz di kampungnya. Masalah bulanan nanti bisa dipikirkan, kata beliau. Dalam hati Luqman sudah tidak mau lagi kembali ke kampung. Ia ingin tinggal di Jawa saja. Entah kenapa, setiap ada yang menawarkan kerja atau bahkan menikah dengan orang kampung dan sekitar, Luqman tidak pernah mau. Ia seolah memiliki tekad, bahwa sukses itu jika berada diluar kampung. Tidak harus selalu di kampung saja.
Tidak enak jika Luqman menolak mentah-mentah tawaran baik pamannya itu. Tapi dengan halus Luqman akan mempertimbangkan tawaran itu nanti selepas tugas dari kampus. Mungkin ia bisa melegahkan hati pamannya. Paling tidak, pamannya tidak terlalu kecewa jika tidak jadi mengajar di rumah tahfidz.
Setahun kemudian, Luqman telah berada dipulau terasing. Ia ditugaskan oleh pihak kampus kedaerah yang jauh dari perkotaan. Bisa dibilang semuanya terbatas. Listrik, air bersih, sinyal HP, DLL. Namun dalam beberapa bulan saja, Luqman sudah mampu beradabtasi dengan lingkungan sekitar.
Dua bulan sebelum masa tugasnya habis, Luqman ditelpon oleh paman dari kampung. Ia menawarkan seorang akhwat kepada Luqman.
“Ini ada akhwat. Kalau memang mau diteruskan, nanti bisa nadhor dulu. Keputusan ia atau enggak, nanti setelah nadhor. Berarti kalau nadhor nunggu Luqman pulang dulu. Jadi selepas tugas, Luqman bisa nadhor dulu ke akhwatnya”, kata pamannya dari seberang telpon. Ada keceriaan yang terkandung didalam kata-katanya. Mungkin ia senang, sebentar lagi melihat keponakannya akan menyempurnakan agama.
Luqman memberi jawaban untuk mengikuti akan  masukan dari pamannya. Selepas dari tugas, Luqman akan nadhor. Keputusan lanjut atau tidak, nanti setelah nadhor. Sebenarnya tawaran itu sebagai gayung bersambut saat dua hari sebelum Luqman bertugas. Ia meminta kepada pamannya agar dicarikan akhwat. Dan saat itulah permintaannya terjawab. Walaupun belum tahu seperti apa gambaran akhwatnya.
dua minggu sebelum kepulangan ke kampung, niatan untuk nadhor telah pudar. Sebab, ada tawaran dari seorang teman lowongan kerja ke Saudi. Sebagai anak tertua dari keluarganya, terlebih keluarga masih ada hutang dengan beberapa orang, maka Luqman mengurungkan niatnya untuk menikah. Niatannya saat itu berubah menjadi ingin kerja ke Timur Tengah. Luqman seolah tak peduli dengan tawaran pamannya itu. Padahal mungkin bisa jadi pamannya telah menaruh harapan, jika memang Luqman jadi menikah dengan akhwat di kampungnya, kemungkinan besar ia akan tinggal di kampung. Dan itu akan membantu pamannya untuk mengisi kajian yang telah ia rintis.
Namun Luqman telah tertutup oleh tekad besar ingin bekerja di luar negeri. Sehingga ia seakan lupa bahwa tekad yang tiba-tiba muncul tersebut melahirkan kekecewaaan pada pamannya. Setelah sampai di kampung, ia bertemu pamannya dan sama sekali tidak membahas akhwat yang waktu dulu sempat ditawarkan.
Luqman tidak mengharapkan hal itu dibahas. Ia hanya ingin menyampaikan perihal keinginannya bekerja di luar negeri. Itu saja. Memang benar, sesuai dengan harapan Luqman. Dalam pertemuannya, sama sekali tidak membahas masalah tawaran tersebut. Namun dari guratan wajah pamannya, seakan menyimpan sesuatu. Tergambar garis rasa kekecewaan di mukanya. Ia kecewa atas keputusan Luqman yang menurutnya tiba-tiba dan mendadak. Kabar itu sebelumnya disampaikan lewat ibunya. Memang saat disampaikan, seolah pamannya mendukung. Sebab keluarganya Luqman masih memiliki hutang beberapa juta kepada sang paman. Ibu Luqman sedikit senang, karena kabar akan kerja di Saudi dapat restu dari pamannya.
Tapi saat melihat wajah pamannya saat itu, menjadi jawaban akan ketidak setujuan atas keputusan Luqman.
“Mas, kalo tau mau kerja ke Saudi, ngapain dulu kuliah ”, ujar paman suatu hari saat duduk-duduk diteras masjid. Wajahnya menunjukkan berat dengan kekecewaan.
"Soalnya tau info ke Saudi baru tahun-tahun ini pak. Kalo tau dari dulu mungkin udah berangkat”, sergah Luqman. Ia tersenyum getir. Sebenarnya ia ingin sekali diam. Tapi hatinya memberontak untuk membuat alasan yang masuk akal.
Alasan itu membuat perbincangan menjadi putus. Diam beberapa saat. Lalu berbicara kepembahasan lainnya. Namun perbincangan waktu itu sangat hambar. Seolah sup tidak diberi bumbu-bumbu, hanya air dan dan isi sup saja.
Suatu hari pamannya bertemu Luqman lagi.
“Lo, masih disini toh, kapan berangkat ke Saudi?”, tanya paman dengan wajah datar. Pertanyaan seperti itu bagi Luqman seolah mengusir dari kampungnya secara halus.
Luqman sangat tersinggung oleh pertanyaan itu. Tapi dia tetap menjawab dengan alasan masih menunggu pemberitahuan dari orang yang akan memberangkatkannya.
Tiga hari setelahnya, Luqman pergi dari kampungnya untuk tes. Sekaligus membawa barang-barangnya. Mungkin jika tes gagal, dia sudah persiapan untuk bekerja di Jawa. Apapun kerjaannya. Ia tidak pamit kepada pamannya. Ia juga kecewa terhadap pertanyaannya waktu itu yang seolah mengusir dirinya. Dan ketidak pamitan itulah menjadi penyesalan Luqman. Karena saat akan meninggalkan kampung hari itu, adalah terakhir Luqman melihat pamannya. Tidak menyangka bakal penyakit yang diderita pamannya akan membawanya pergi dari dunia.
Kini, Luqman hanya mematung diatas kursi. Berita duka dari kampung membuatnya shock sejenak. Ia biarkan air menganaksungai diatas pipinya. Ia keluarkan semua sebagai bentuk penyesalan dan kesedihan. Tidak ada nasehat, tidak ada orang yang suka membantu seperti dulu, dan tidak ada orang yang paling disegani di kampung kecuali pamannya. Kini paman telah pergi. Untaian nasehat yang biasa ia dengar jika bertandang kerumahnya tidak akan ia dapatkan lagi. Semua sirna tenggelam oleh masa.
Luqman sampai mengandai, coba saja saat pulang dari tugas kampus ia langsung menerima tawaran pamannya, mungkin tidak seperti ini. ia akan membantu seperti dulu. Tidak melahirkan kekecewaan pada pamannya. Dan yang paling penting ia bisa bertemu didetik-detik akhir sebelum ajal. Namun itu hanya pengandaian.  Bahkan, sampai pemakaman Luqman sama sekali tidak datang. Ia hanya bisa berbelasungkawa dari jauh. Ingin sekali ia menyolatkan pamannya. Tapi karena terhalang jarak, membuat Luqman memutuskan untuk tidak pulang. Toh walaupun pulang, pamannya sudah dikuburkan. Karena dalam Islam menyegerakan mayit ke pemakaman lebih baik. Sesuatu yang baik harus disegerakan.
Berlapis-lapis kebaikan disisi paman seolah tak bisa dipungkiri oleh Luqman. Kenangan mengajak yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar telah memenuhi hati orang-orang di sekitar. Saat sahur biasa lewat TOA masjid sang paman membangunkan masyarakat sekitar. Itu berlangsung setiap ramadhan. Begitu juga majelis ta’lim, TPA, dan kajian remaja selalu menjadi kegiatan dibawah pantauannya. Semangat dalam menyebarkan Islam begitu besar. Namun entah bagaimana nasib sepeninggalnya. Tentu ada yang berubah saat ditinggalkannya. Tapi meneruskan sesuatu yang baik adalah sebuah keharusan. Bagaimanapun keadaannya. Estafet menyebarkan Islam tidak  boleh berhenti hingga ruh meninggalkan badan.
Selamat tinggal paman, selamat tinggal tokoh perjuangan.
#OneDayOnePost


2 comments:

  1. Replies
    1. Iya mbak...saya biasa kalo buat cerpen dr true story..susah kalo buat cerpen dr kisah ngarang sndiri mbak...hehe..prlu blajar sama man teman di odop nih...

      Delete