Wednesday, 23 November 2016

Menjaganya Tak semudah Mendapatkan


Salah seorang prajurit muslim terluka parah pada perang badar. Banyak luka dalam tubuhnya. Tak lama setelah itu dia mengambil pedang, lalu ditusukkan pada jantungnya. Ia bunuh diri.

Padahal sebelumnya dia berperang bersama pasukan kaum muslimin di garda depan. Terlihat gagah saat menghancurkan pasukan kafir quraisy. Namun tidak ada yang mengira pada akhirnya dia  mati menggunakan tangannya sendiri.
Dari potongan kisah diatas memberi gambaran kepada kita bahwa tidak ada yang tahu akan nasib kita. Seperti apa kondisi kita saat mati. Hal itu sangat terkait dengan hidayah. Petunjuk yang Allah berikan kepada para hambanya.


Bagi muslim keturunan, bersyukur sekali sejak lahir telah berstatus Islam dan memiliki keluarga muslim. Hidayah Islam telah tergenggam karena agama turunan dari orang tua. Namun hidayah perlu dijaga. Dirawat agar awet hingga akhir hayat. Sebab tak seorangpun tahu apakah sampai akhir nanti hidayah masih melekat pada kita. dikhawatirkan nasib kita tidak jauh beda sebagaimana potongan kisah diatas.
Maka dari itu perlunya memohon kepada Allah agar senantiasa dalam petunjuk-Nya. Dalam shalat saja sebenarnya kita telah memohon kepada-Nya supaya diberi hidayah.

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
“(Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim). (QS. Al-fatihah: 6)

Memohon untuk selalu dalam petunjuk-Nya berarti meminta agar kita istiqomah dalam beramal shalih. Banyak kisah orang yang awalnya berislam, dipenuhi dengan amal shalih, tapi bisa keluar dari agamanya. Tidak lain dan tidak bukan karena istiqomah telah hilang tak tersisa.

Dikisahkan ada salah seorang muadzin disuatu masjid. Saat hendak menaiki tangga menara masjid untuk adzan, terlihat seorang wanita nasroni didepan rumahnya. Sang muadzin terpesona dengan keelokan parasnya. Lantas ia ingin menikahinya. Tapi gadis itu mengatakan tidak bisa. Karena ia muslim. Tapi wanita nasroni memberi satu syarat ke muadzin agar bisa menikahinya. Yaitu keluar dari agamanya. Lantas sang muadzin menuruti perintah wanita itu dan akhirnya murtad.

Kemudian ketika hendak turun dari menara untuk menemui wanita tadi, ia terpeleset dan terjatuh. Atas taqdir Allah dia mati dalam keadaan meninggalkan agamanya. Padahal sebelumnya dia seorang muadzin yang selalu rutin dan tepat waktu dalam memanggil manusia untuk shalat. Namun tidak ada yang menyangka kalau dia bisa mati dalam keadaan kafir.
Kisah yang lain disuatu tempat dan zaman yang berbeda, saat pasukan muslim sedang mengepung benteng romawi, terdapat seorang wanita diatas benteng musuh. Ada salah satu prajurit yang melihat keelokan wanita tersebut. Tanpa butuh waktu lama dia mengirimkan surat kepadanya. lantas wanita tadi membalas suratnya. Intinya bahwa prajurit Islam ingin meminangnya. Namun tidak bisa karena ia seorang muslim.

Karena pemuda telah gelap mata terhadap cinta, akhirnya menuruti perintah wanita tadi. Padahal ia hafal Al-Qur'an 30 juz. Setelah dia mendapati wanita yang dipujanya, hafalan Qur’annya hilang semua, kecuali dua ayat saja. Yaitu,
“Orang-orang yang kafir itu seringkali (nanti di akhirat) menginginkan, kiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang-orang muslim.”

“Biarkanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatan mereka). (QS. Al Hijr: 2-3).
Dari dua kisah tadi menunjukkan tidak ada yang mampu memprediksi bagaimana hati kita akan berbalik. Mungkin sekarang semangat ibadah, bisa jadi besok sudah putus asa. Allah sang penggenggam hati seorang hamba. Dia yang bisa membalikkan hati para hambanya.
“Sesungguhnya hati berada di tangan Allah ‘azza wa jalla, Allah yang membolak-balikkannya.” (HR. Ahmad 3/257. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini qowiy (kuat) sesuai syarat Muslim)
Sehingga ada doa khusus agar kita selalu istiqomah dalam ketaatan.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”

Jangan selalu merasa aman meski identitas muslim kita masih ada. Dan jangan merasa jumawa karena telah banyak mengantongi amal shalih. Itu semua tidak menjamin di akhir hayat nasib baik berpihak pada kita. Sebab syetan tidak akan pernah bosan menggelincirkan manusia, bahkan saat detik-detik nyawa akan dicabut.

"Para ulama telah menceritakan" kata Imam Al-Qurthubi, "bahwa setan mendatangi manusia pada detik-detik ajalnya, dalam bentuk ibunya atau bapaknya, teman dekat atau lainnya yang sangat ia nantikan bimbingannya. Kemudian setan dalam rupa semacam ini akan mengajaknya untuk mengikuti agama Yahudi atau Nasrani atau pemikiran menyimpang lainnya. Dalam kondisi semacam ini, ada beberapa orang yang tersesat, kecuali mereka yang mendapat taufik dari Allah.”  (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 33, dinukil dari Al-Yaumul Akhir I, karya Dr. Umar bin Sulaiman Al-Asyqar)

Imam Ahmad dalam detik-detik menjelang ajal didatangi syetan. Ia menggoda Imam Ahmad supaya memunculkan rasa sombong dalam hati. Anaknya Imam Ahmad menceritakan, bahwa dia melihat ayahnya mengatakan, “Tidak, menjauh, Tidak, menjauh”. sang Imam berkata seperti itu hingga berulang kali. Atas kejadian itu, Anak imam Ahmad bertanya, “Wahai ayahanda, apa yang Anda lihat? Beliau menjawab,
“Sesungguhnya setan berdiri di sampingku sambil menggigit jarinya, dia mengatakan, ‘Wahai Ahmad, aku kehilangan dirimu, tidak sanggup menyesatkanmu.  Aku katakan: “Tidak, menjauhlah…. Tidak, menjauhlah….” (Tadzkirah Al-Qurthubi, Hal. 186).

Syetan mendatangi Imam Ahmad dengan rasa tunduk dan menyerahkan diri. Ia hendak membuat sang Imam takjub atas usahanya yang mampu mengalahkan syetan. Namun Imam Ahmad menyadari hal itu, lalu mengusir syetan tersebut. Karena hal itu adalah gangguan agar dia besar hati sebelum ajal menjemput.

Mari kita jaga baik-baik perhiasan yang sangat berharga dalam hati kita sampai detik-detik menghembuskan nafas terakhir. Kematian adalah pasti. Tapi menjaga hati agar selalu mendapat hidayah adalah pilihan. Ia seakan cahaya. Tidak akan menerpa kamar bila jendela tidak dibuka. Kita memohon kepada-Nya agar selalu dalam naungan petunjuk, dan ada upaya-upaya menjaga iman, maka itu adalah pilihan yang baik bagi kita.
Wallahu a'lam bisyowab

#OneDayOnePost




11 comments:

  1. Keren, Mas... Pagi2 dapat pencerahan, terima kasih ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Moga brmnfaat mbak..trima kasih sdah mmpir

      Delete
  2. Ya allah...semoga allah perkenankan kita menghadapNya dalam keadaan khusnul khatimah aamiin

    ReplyDelete
  3. Replies
    1. Afwan....smoga brmnfaat tuk kita smua...aminnn

      Delete
  4. Tulisannya selalu bermanfaat...

    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Msih trus proses bljar mbak...moga brmnfaat...

      Delete
  5. Tulisannya selalu bermanfaat...

    Terimakasih

    ReplyDelete
  6. Tulisannya bermanfaat, Mas. Saya diam-diam sering mencari pencerahan di sini hehee

    ReplyDelete
  7. Kok pake diem2 mbak....heheee...terang2an aja gx pa2 kok...makasih mbak dah mmpir....

    ReplyDelete