Tuesday, 1 November 2016

Saya Menyesal Menulis


Menulis itu susah. Harus disiplin, membagi ruang waktu setiap hari. Menulis itu harus terus memikirkan ide, gagasan dan memikirkan kerangka tulisan yang dibuat. Dan menulis itu dituntut banyak baca buku dan keadaan sekitar.  Agar menambah kosakata baru dan menemukan ide untuk tulisan.

Istiqomah menulis itu berat. Ada saja godaan yang datang mengalahkan keinginan untuk terus menulis. Apalagi kalau tulisannya jelek, tidak enak dibaca, tidak paham apa maksud dari tulisan yang dibuat, bagi penulis amatir jadi makin mundur untuk jadi penulis.

Itulah susahnya jadi penulis. Namun ternyata susah itu hanya diawal. Awal mendisiplinkan untuk menulis sangat-sangat susah. Harus mencari judul setiap tulisan yang akan dibuat. Terkadang perlu menguras otak hanya karena mencari judul yang menarik.  fokus mengulas kesatu pembahasan dari awal hingga akhir tulisan tidak mudah. Tapi sekarang mencari ide untuk bahan tulisan susah-susah gampang. Ternyata Ide tidak hanya dari buku-buku yang kita baca. Tapi ide yang nantinya diolah menjadi tulisan ternyata bisa didapat dari lingkungan sekitar. Tidak perlu jauh-jauh. Saat sedang macet-macetnya di jalan, ada saja ide nyantol. Saat naik busway, ada saja ide muncul. Saat sedang naik KRL, tiba-tiba ide datang. Jadi ide menulis sebenarnya mudah sekali didapat. Tapi ingat, bahwa ide juga mudah hilang. 

Itulah kenapa saya menyesal sekali menulis sampai saat ini. Ya, saya menyesal menulis kenapa tidak dari dulu. Kenapa waktu sekolah-sekolah dulu tidak pernah berfikir untuk menulis.  Meski tidak selengkap fasilitas sebagaimana hari ini, tapi waktu itu tidak pernah tergerak sedikitpun membuat tulisan. Dulu jarang sekali ada pelatihan menulis atau seminar kepenulisan. Gerakan menulis tidak segembor hari ini. Bahkan sekarang bermunculan komunitas-komunitas menulis di media sosial.  Jadi untuk belajar begitu mudah. Banyak teman yang satu cita-cita. Bisa menjaga semangat untuk selalu menulis. terlebih bisa saling berbagi tips agar kwalitas tulisan meningkat.

Menulis bagi saya bisa berbagi kebaikan yang banyak. Tidak sekedar menuangkan ide. Tapi manfaatnya lebih besar dari itu. Yaitu mampu mengubah seseorang menuju kebaikan. Saya sampai saat ini masih saja merasa menyesal kenapa tidak menulis dari dulu. Karena begitu bahagiannya dapat menuangkan ide dan keluhan berbagai kejadian yang saya alami. Tulisan bisa menjadi curhat yang baik. Pendengar yang tak pernah mengecewakan penulisnya. Membuat seorang puas dan lega dalam hidupnya. Bahkan dalam suatu penelitian bahwa menulis mampu mengurangi rasa stres dalam pikiran seseorang. Kelebihan-kelebihan itu yang saya sesalkan. Kenapa dari dulu tidak menulis agar saya meraih kelebihan itu semua.

Namun, ternyata memang butuh proses. Bisa jadi proses nikmatnya menulis untuk saya pribadi memang umur-umur sekarang. Terbilang sangat lama memang. Orang lain bisa jadi menikmati proses menulis saat masih-masih sekolah. Tidak sedikitpun merasa bosan kalau sudah berjam-jam menulis. Karena mereka sudah lama sebelumnya melewati masa dimana harus disiplin waktu dan melawan rasa bosan. Saya sendiri sebelum fokus menulis, hanya angin-anginan saja. kalau lagi mood, baru menulis. Tapi kalau mood itu hilang, ya sudah, hilang semua semangat nulisnya.

jadi setelah memaksa dan mendisiplinkan diri, serta didasari adanya tekad yang harus diraih, maka menulis hampir menjadi bagian dari hidup saya. Aktifitas ini harus terjaga bagaimanapun keadaannya. Karena yang namanya menyebarkan kebaikan, suatu saat akan menuai hasilnya. Kalau hasilnya tidak ada didunia, setidaknya diakherat sudah tersimpan. Setelah mati tinggal memetik saja manfaat itu. Insya Allah.

Selain menyesal menulis, saya juga insaf menulis. Istilah tersebut saya pinjam dari Bambang Trim. Menurut dia kata insaf berarti memutar balik arah dari sesatnya suatu jalan. Artinya tidak pernah berhenti memperbaiki tulisan-tulisan sebelumnya dan menambah formula agar tulisan nampak lebih menarik dibaca. 
Jika tulisan kita dirasa kurang bergema, mari berinsaf dengan merevisinya.
Sedikit agak melenceng mungkin dari tulisan saya. Tapi siapa tahu menambah wawasan untuk kita. Saya ambil kutipan dari salah satu artikelnya,

"Ada dua dimensi insaf menulis buku. Pertama, jika Anda benar-benar memiliki ilmu dan pengalaman berguna, insaflah untuk segera menuliskannya. Jika Anda sudah menulis buku, tetapi buku Anda kurang bergema atau mengandung formula yang keliru, insaflah untuk merevisinya."

Itulah saya yang masih terus merasa menyesal, kenapa tidak dari dulu mulai menulis. Sampai hari ini jika tidak menulis seakan ada yang kurang. Walaupun kwalitas masih dibilang jauh, tapi proses itu sudah bisa saya rasakan nikmatnya.
Dan hari ini, saya masih terus menyesal menulis.

Salam semangat Pena


#OneDayOnePost
Tulisan ke16


4 comments:

  1. Mantap... Jadi semakin terdorong untuk senantiasa menulis... Amin

    ReplyDelete
  2. Iya, saya juga menyesal kenapa nggak Dari dulu menulis. Tapi bersyukur sekali bertemu dengan odop

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak...syukur skali saya bsa ketemu ODOP..dari sini banyak belajar istiqomah trus menulis....

      Delete