Tuesday, 15 November 2016

Hilangnya Saldo Direkening Amal


Bagaimana rasanya jika kita memiliki tabungan dalam rekening dan yang kita tahu bahwa isinya 10 juta. Namun ternyata setelah dicek rekening itu kosong. Hanya menunjukkan nominal 0. Tentu alangkah kagetnya dengan peristiwa tersebut. Uang yang mungkin telah dikumpulkan berbulan-bulan, bahkan tahunan, bisa hilang tak tersisa.
Namun peristiwa tadi tidak lebih besar bahayanya ketika hal itu terjadi didunia. Sebab uang hilang bisa dicari lagi. Lalu bagaimana jika amal sholeh tiba-tiba kosong diakherat? Ketika maut datang merasa segudang amal sholeh telah dibawa. Namun alangkah kagetnya amalan itu menjadi debu yang berterbangan. Terhapus tanpa bekas.

Jika masih didunia, mungkin masih ada kesempatan beramal lebih banyak lagi. Tapi sayang, posisinya telah berada dialam lain. Alam bukan tempat bertanam. Alam yang dikatakan Ali Rodhiyallahu anhu adalah alam tempat perhitungan atau tempat menuai. Tidak ada lagi kesempatan beribadah. Disana hanya menunggu keputusan akan balasan dari apa yang dilakukan di dunia.

Sudah dapat ditebak kalau saldo dalam rekening amal hilang, maka bertumpuk-tumpuk penyesalan akan dirasakan. Sebelum mati dia sadar bahwa ia membawa banyak bekal akherat. Bekal shalat 5 waktu, Shodaqoh, haji, zakat dan amalan sholeh lainnya. Tapi saat tiba diakherat, alih-alih ditolong dengan amal sholeh, ternyata telah ludes, hilang tidak tersisa.

Kemanakah saldo amal dalam rekening pribadinya?
Ada beberapa sebab saldo rekening amal diakherat hilang tanpa tersisa. Diantara penyebabnya sebagai berikut.

Suka Menyakiti Orang Lain, Baik Dengan Perkataan Maupun Perbuatan.
Sebanyak apapun seorang hamba dalam beramal, namun dia tidak melek akhlak yang baik kepada orang lain, maka amal ibadahnya akan dipindahkan kepada orang yang ia sakiti. Inilah yang disebut oleh Rosul sebagai manusia bangkrut.
Dari Abu Hurairah, suatu ketika Rasulullah Saw bertanya kepada para sahabat:

“Tahukah kalian, siapakah muflis (orang yang bangkrut) itu?”. Para sahabat menjawab: “Di kalangan kami, muflis itu adalah seorang yang tidak mempunyai dirham dan harta benda”. Nabi bersabda : “Muflis di antara umatku itu ialah seseorang yang kelak di hari qiyamat datang lengkap dengan membawa pahala ibadah shalatnya, ibadah puasanya dan ibadah zakatnya. Di samping itu dia juga membawa dosa berupa makian pada orang ini, menuduh yang ini, menumpahkan darah yang ini serta menyiksa yang ini. Lalu diberikanlah pada yang ini sebagian pahala kebaikannya, juga pada yang lain. Sewaktu kebaikannya sudah habis padahal dosa belum terselesaikan, maka diambillah dosa-dosa mereka itu semua dan ditimpakan kepada dirinya. Kemudian dia dihempaskan ke dalam neraka.  ( Hadits Riwayat  Muslim).
            Semakin banyak menyakiti orang lain, maka makin besar peluang rekening amalnya hilang. Muslim yang baik merupakan pribadi yang seimbang dalam kehidupannya. Baik hubungannya kepada Allah, dan juga baik hubungannya kepada manusia. Dan sebenarnya jika dia benar-benar ibadahnya baik, tentu semakin bagus pergaulannya kepada manusia. Namun jika tidak, berarti ada kesalahan dalam ibadah tersebut.


Niat Yang Salah Dalam Ibadah
Semua ibadah yang dilakukan seorang hamba seharusnya hanya untuk Allah saja. Tapi terkadang syetan menghembuskan godaannya untuk melencengkan niat yang tulus itu kepada sesuatu yang lain. Akhirnya banyak yang beribadah hanya untuk dilihat manusia, ingin didengar dan dipuji. Hal yang paling mudah godaannya dizaman multimedia hari ini adalah dengan menyebut-nyebut ibadahnya disosial media. Baik hanya sekedar tulisan maupun unggah foto.

Memang manusia tidak tahu menilai isi dari hati orang lain. Namun menampakkan ibadah (ibadah sunnah) yang sebenarnya lebih utama dilakukan secara sembunyi, akan membuka celah besar agar diganggu oleh syetan. Supaya apa yang akan dan telah dilakukan mendapat pengakuan baik dimata manusia. Kalaulah hal itu tidak ditampakkan kekhalayak umum itu lebih selamat. Kecuali jika untuk memperlihatkan sumbangan-sumbangan yayasan tertentu, untuk menunjukkan bahwa shodaqoh telah disalurkan.
Tapi selayaknya kita menaruh husnudzhan kepada mereka. Mungkin niatan mereka baik. Untuk memotivasi orang lain agar bisa beribadah sebagaimana mereka.

Perlu kita ingat, bahwa orang yang pertama kali masuk neraka adalah bukan orang yang berada dipinggir jalan minum khomer, atau berzina dan perbuatan keji lainnya. Tapi golongan manusia yang pertama kali masuk neraka adalah mereka yang beramal shalih. amalannya besar. Jihad, membaca Al-Qur’an dan shodaqoh.

Kenapa mereka masuk neraka, padahal 3 ibadah diatas termasuk mulia?
Karena golongan itu salah dalam meletakkan niat. Dia berjihad agar disebut pejuang. Dia membaca Al-Qur’an agar didengar orang lain. Dia bershodaqoh agar disebut sebagai orang yang dermawan.
Akhirnya Allah Seret tiga golongan ini kedalam neraka. Abu Hurairah, sahabat yang meriwayatkan hadist tentang 3 golongan dan membacakan pula dihadapan para sahabat seketika itu menangis. Bahkan sempat pingsan. karena begitu mengerikan perkara niat. Hanya salah meletakkan niat balasannya begitu keras.

Orang yang selalu beribadah niatnya  hanya untuk selain Allah, ia seolah mengumpukan bekal dikantong besar. Tapi dia tidak menyadari bahwa kantong itu bolong. Kemudian ketika akan mengambil bekalnya ternyata sudah habis, tercecer dijalanan.
Begitu juga dengan orang yang ibadah niatnya salah. Diakherat pahala amalnya habis. Alih-alih akan merasakan dari pahalanya, justru dia diseret kedalam neraka dalam keadaan hina.
Begitu lembutnya syirik kecil ini masuk ketengah-tengah ibadah seorang muslim, hingga Nabi mengajarkan kepada umatnya agar dijauhi dari godaan yang melencengkan niat.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لا أَعْلَمُ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu, agar tidak menyekutukan kepadaMu, sedang aku mengetahuinya dan minta ampun terhadap apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad dan imam yg lain 4/403)

Melakukan Syirik Besar.
Inilah sebab yang paling besar. Banyak kaum muslimin tidak menyadari apa itu syirik besar. Mereka hanya tahu jika menyembah pohon atau patung itu namanya syirik besar. Tapi tidak sadar kalau menganggap ada kekuatan yang diyakini dan dapat menolong selain Allah, maka itu dapat dikategorikan sebagai syirik besar.
Amal ibadah akan hangus tidak tersisa.
Artinya: “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan terhapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi” (Qs. Az Zumar: 65).
Selevel Nabi saja diingatkan oleh Allah akan dahsyatnya syirik besar. Dia mengatakan kepada nabi-nabinya jika berbuat syirik akan hilang amalannya. Terlebih manusia biasa seperti kita. Maka sangat merugi orang yang berbuat syirik ini. Ibadah yag dilakukan tiap hari dengan susah payah, tapi balasan yang didapat malah adzab, bukan kenikmatan syurga. Naudzhubillah min dzalik. Semoga Allah menjauhkan amalan syirik, baik yang disadari maupun yang tidak kita disadari.

Beramal Tanpa Tuntunan Nabi
Perkara dalam Islam sebenarnya telah sempurna. Baik dari bangun tidur, hingga mau tidur lagi sudah Rosulullah contohkan. Tinggal apakah umatnya mau mengikutinya atau tidak. Namun sayangnya tidak sedikit amalan sunnah yang ditinggalkan. Karena tersibukkan dengan amal diluar tuntunan junjungan-Nya.

            Hanya dengan dalih kalau niatnya untuk Allah, mereka dengan mudah melakukan ibadah. Bahkan semangatnya mengalahkan mengamalkan sunnah. Hasilnya, berjenggot dan celana diatas mata kaki sudah sangat jarang ditemukan. Shalat sunnah setelah shalat wajib saja banyak yang meninggalkan. Namun sebaliknya. Masyarakat lebih semangat saat melakukan ibadah yang tidak ada arahan dari nabi.
Padahal kalau mau dihitung, amalan sunnah masih banyak yang belum diamalkan. Lah ini malah mengamalkan perkara yang baru dalam agama.

Rosulullah telah memberi peringatan kepada orang yang mengamalkan hal yang baru. Bahwa amalan mereka tertolak. Dengan kata lain, sebanyak apapun mereka beribadah diluar tuntunan Nabi, maka sia-sia belaka, meski niatnya ikhlas.
Perlu diketahui, bahwa Syarat diterima amalan hanya ada dua. Yaitu pertama, Ikhlas, niat tulus beribadah hanya kepada Allah. Kedua, mengikuti petunjuk Nabi.
Orang yang mengamalkan tanpa tuntunan Nabi saja tidak masuk syarat amalannya diterima. karena telah meniadakan tuntunan Nabi.

Orang yang melakukan ibadah diluar ajaran nabi, seolah mereka tidak puas dengan amalan dalam islam. Lalu dengan mudah membuat syariat baru. Contohnya saja jika seandainya seseorang bekerja disebuah perusahaan. Semua peralatan kantor telah berada ditempatnya masing-masing. pot bunga berada dipinggir. Komputer berada ditempatnya yang cocok. Lalu ada orang baru tanpa disuruh siapapun memindahkan barang itu semua. dan menganggap bahwa ditempat lain lebih terlihat bagus dan enak dipandang.
Apakah pemilik perusahaan akan diam saja dengan kelakuan orang tersebut?
Tentu bisa saja ia dimarahi, meski orang baru tadi beranggapan memindahkan barang barang itu untuk kebaikan. Itulah orang yang beramal hanya bermodal ikhlas.

Patut kita sadari bahwa beramal tanpa adanya tuntunan sangat disenangi oleh syetan dari pada ahli maksiat, kata Sufyan At-tsauri (seorang tabi'in). Sebab mereka merasa melakukan hal yang baik. Amal yang dilakukan telah diniatkan untuk Allah sehingga mereka menduga mana mungkin bertentangan dengan ajaran Allah.
Dari situlah mereka betah dalam ibadah yang salah, lalu susah bertaubat. Sedangkan ahli maksiat mudah mengakui diri mereka salah, dan mudah untuk bertaubat. 

Tentu Allah akan menolak amalan mereka meski setiap hari dilakukan. Karena Rosulullah diberi petunjuk dari Allah agar hambanya beramal sesuai petunjuk Nabinya. Dari situ supaya umatnya mengikuti tuntunan nabi bukan malah berbuat hal baru dalam islam.
Rosulullah menyebutkan kalau beramal tanpa tuntunan, maka amalnya tertolak. 
“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” (HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)
Secara otomatis saldo dalam rekening amal tidak menambah sedikitpun.
Sebenarnya masih banyak perbuatan yang bisa mengancam keutuhan amal ibadah kita. Tapi mungkin 3 hal diatas yang sering kita temukan disekitar kita.

Kita memohon kepada Allah agar rekening ibadah kita selalu terjaga dari unsur-unsur yang siap kapan saja mengurangi saldo amal kita didunia.
Amin.


#OneDayOnePost

1 comment:

  1. Kita memohon kepada Allah agar rekening ibadah kita selalu terjaga dari unsur-unsur yang siap kapan saja mengurangi saldo amal kita didunia.

    Aamiin

    ReplyDelete