Sunday, 6 November 2016

Dibalik Aksi Damai Ada Keindahan Akhlak

https://i1.wp.com/static.republika.co.id/uploads/images/inpicture_slide/ribuan-orang-memadati-kawasan-bundaran-air-mancur-bank-indonesia-_161104163548-572.jpg
Aksi damai yang terjadi pada tanggal 4/11 menjadi viral diberbagai media. Ada media yang benar-benar netral, memberitakan sesuai apa yang terjadi di tempat aksi. Namun ada pula yang sengaja memberitakan miring disaat aksi terjadi.
Mereka ingin mengisukan kalau para pendemo melakukan aksi anarkisme terhadap para polisi dan tentara. Citra buruk telah disebar luas kepenjuru sosmed.

Meski ditambah dengan foto-foto sebagai penguat pemberitaan, tapi sejatinya berita mereka sangat rapuh. Pemberitaan mereka akan hancur dengan realita yang terjadi.
Para peserta aksi meski berhadapan dengan polri, tapi tidak membuat mereka bersikap buruk.
Kita bisa menilai foto-foto yang ada dibawah. Seorang brimob saling membantu salah seorang pendemo untuk mengambil wudhu. Tidak ada kebencian apapun dari kedua belah pihak.
Begitu juga anggota demo membaur bersama para tentara. Terlihat akrab dan tidak ada sikap yang menunjukkan sikap benci dan jengkel. Malah terdapat foto antara pendemo dengan polisi saling berpegang erat dan tersenyum lepas.

 Ada pula salah seorang pendemo membagi makanan dan minuman kepada polisi dan brimob. Sama sekali tidak ada rasa canggung, apalagi saling benci. Karena aksi ini adalah aksi damai. Bukan aksi anarkis sebagai mana yang diberitakan oleh berita sekuler yang pro terhadap penista agama. Sebenarnya polisi dan tentara juga sama dengan para pendemo. Sama-sama sebagai rakyat. Hanya mereka diberi tugas oleh atasan untuk mengamankan tempat.

Aksi damai ternyata tidak terjadi hanya di jakarta. Tapi juga dihampir seluruh kota di Indonesia untuk menuntut agar penista segera dipenjara. Kota-kota yg yg bangkit untuk melakukan aksi yaitu Medan, Solo, Jogja, Surabaya, Makassar, Serang, Jambi, Mataram, Babel, Tasikmalaya, Poso, NTB, Sampit, Bandung, Palembang, Madura, Tegal, Samarinda, dan Malang.
Sebagai aksi damai berlandaskan Islam, maka kesopanan dan kerapian harus tetap terjaga. Para pendemo menjauhi taman-taman saat aksi berjalan agar tidak terinjak. Sebab bila itu terjadi media kafir akan memanfaatkan situasi itu untuk memperburuk citra umat Islam sebagaimana pada aksi damai sebelumnya.

Padahal buktinya wartawan sekulerlah yang merusak tanaman saat itu. Bukan umat Islam.
Namun kenapa adanya bom asap dan peluru karet yang menimpa para pendemo? Padahal tidak ada satupun umat islam yang melakukan perbuatan anarkis? Karena adanya penyusup dan provokator dari musuh-musuh Islam yang bertujuan agar para pendemo dan polisi saling baku hantam. Sehingga korban banyak yang berjatuhan. Kemudian dari situ menjadi kesempatan emas bagi media sekuler untuk menjatuhkan citra umat Islam.

Maka bila kita benar-benar cerdas melihat realita saat itu, apapun yang diberitakan oleh media sekuler akan kita tolak mentah-mentah. Karena semua pemberitaan mengenai umat Islam selalu disudutkan. Citra Islam dibuat hancur dimata masyarakat. Sehingga membuat yang mayoritas tak percaya diri, dan minoritas semakin tak tahu diri.
Mari cerdas dalam menerima berita
Seorang pendemo berjabat erat dengan seorang polisi
Seorang aksi membagi makanan kepada pak polisi
Seorang polisi dibantu untuk mengolesi odol oleh seorang aksi demo
Saling berbagi minuman antara brimob dengan para aksi damai
Seorang polisi membantu menuangkan air untuk wudhu salah seorang aksi
Para aksi damai menjaga taman agar tidak diinjak
Para aksi tidak sungkan bercengkrama dengan para tentara

No comments:

Post a Comment