Monday, 21 November 2016

Penjual Tas Di Emperan Jalan


Suatu kali saya bersama seorang teman berbelanja buku di pasar Senen. Pulangnya kami menggunakan bus jurusan Pasar Rebo. Saat hendak melewati lampu merah, tepatnya sebelum stasiun Senen, dari kaca bis teman saya menunjuk ke suatu objek di pinggir jalan. Ternyata ada seorang ibu yang sedang berjualan tas emperan jalan. Dari segi penampilannya sedikit lusuh dan tidak meyakinkan untuk orang yang ekonominya normal. Terlihat tidak banyak barang yang dijual. Lapaknya pun hanya menggelar sebuah tikar kurang lebih seluas 2 X 2 meter.
Teman saya mengatakan bahwa ternyata ibu itu berjualan hanya karena nganggur di rumah. Suaminya kerja di konveksi pribadi. Dari pada tidak ada pekerjaan, katanya dia berinisiatif untuk memasarkan tas karya suaminya. Teman saya sebelumnya pernah berbincang-bincang dengannya saat sedang menunggu bis beberapa minggu lalu.
Saya lihat sekilas ibu itu seperti sedang benar-benar menghidupkan keluarganya. Tanpa suami mati-matian menjadi punggung keluarga. Tapi dugaan saya meleset jauh. Penampilannya telah menipu. Dia berjualan hanya karena ingin  mengisi kekosongan.

Ada satu hal yang tidak saya kira dari ibu penjual tersebut. Dia memiliki seorang anak yang sedang kuliah di jurusan kedokteran. Tinggal  2-3 semester lagi kuliahnya selesai. Padahal untuk masuk kuliah jurusan dokter tidaklah murah. Butuh mengeluarkan uang yang banyak. Dan rata-rata jurusan itu diambil oleh orang yang terbiasa hidup mapan. Keluarga yang ekonominya menengah keatas. Namun ternyata hal ini bisa dijalani oleh seorang bapak yang berprofesi sebagai pekerja konveksi pribadi dan seorang ibu penjual tas di emperan jalan.
Bagi Ibu hanya satu saja yang ia khawatirkan saat berjualan. Yaitu satpol PP. Katanya semenjak gubernur ganti, banyak sekali penjual di emperan yang khawatir ditahan barang dagangannya. Kalau gubernur sebelumnya bebas-bebas saja. Tidak ada peraturan yang melarang.

Sepotong kehidupan dari seorang ibu penjual tas di emperan jalan, bagi saya ada hikmah tersendiri yang sayang bila diabaikan. Ibu itu seolah mengajarkan pada kita bahwa jangan mudah tertipu dengan penampilan. Belum tentu keadaan sesungguhnya mewakili dari seluruh kehidupannya. Bersikap berbaik sangka lebih menyelamatkan kita dari merendahkan orang lain. Karena banyak orang yang menghina berawal dari menilai apa yang dilihatnya. Kemudian muncullah sikap merendahkan atas keadaan orang yang dilihatnya.
Mari kita berusaha menjadi manusia yang saling menghargai pekerjaan orang lain selama itu halal, dan tidak memandang hina atas pekerjaan yang dilakoni. Sebab, bisa jadi Allah jauhkan dirinya dari api neraka hanya karena berusaha menghidupi keluarganya dari rejeki yang halal.

#OneDayOnePost

No comments:

Post a Comment