Wednesday, 2 November 2016

Mengukur Diri Menilai Manusia


Adalah sebuah fitrah bila manusia menilai sesuatu pada apa yang terlihat. Kita bisa menilai seseorang buruk atau baiknya, suka berbuat maksiat atau rajin menunaikan ibadah dari dzahirnya. Tapi tak satupun manusia yang dapat menilai seseorang apa yang ada dalam hati. Lalu bagaimana kita bisa menilainya?

Sebenarnya tidak ada tuntutan seorang muslim untuk mengetahui kwalitas seseorang. Sebab jika pekerjaannya selalu menilai orang yang ada disekitarnya, ia semakin sibuk terhadap orang lain yang akibatnya lupa pada diri sendiri dan lupa meningkatkan kwalitas dihadapan-Nya. Tapi dalam beberapa kasus, tidak mengapa kita menilai apa yang dilakukan manusia untuk kesemangatan beribadah. 

Sebagaimana apa yang terjadi dengan salah seorang sahabat Nabi. Semenjak nabi mengatakan bahwa ada salah satu sahabat yang terompahnya sudah berada disyurga, maka ada satu orang yang mendengarkan ucapan nabi tersebut ingin sekali memantau amalan harian orang itu. Sampai dia izin kepada sahabat yang sandalnya telah disyurga tadi untuk menginap dirumahnya.

Saat malam tiba ia sengaja tidak tidur. Penasaran amalan apa yang menyebabkan sandalnya telah mendahuluinya kesyurga. Ia pantau hingga larut malam. Namun sepanjang pemantauannya, tidak menemukan amalan khusus dari sahabat tersebut. Bertambah besarlah rasa penasarannya. Lantas pada pagi hari ia memberi tahu maksud datang untuk menginap, sekaligus bertanya mengenai amalan yang sampai balasannya disebutkan oleh Nabi. Maka sahabat tadi mengatakan, amalan yang biasa dia lakukan adalah setiap setelah berwudhu ia membiasakan diri shalat dua rakaat. Amalannya sederhana dan sepele. Namun karena dilakukan setiap hari, ada nilai tersendiri untuk dirinya.

Kisah diatas menunjukkan pada kita tentang besarnya semangat beribadah. Sampai sahabat tadi rela menginap untuk tahu sebuah amalan dan hendak menilainya, apa sih amalan yang dilakukan sahabatnya itu sampai nabi menyebutkan sandalnya sudah berada disyurga. Hal ini bertolak belakang dengan orang yang sibuk terus-terusan menilai baik buruknya seseorang. Akhirnya amalannya sedikit dan tidak terurus.

Ada hal lain bila memang ingin menilai seseorang. Yaitu lihatlah bagaimana keadaannya saat kematian itu menjemput. Sebab kondisi saat kritis dan berat, apalagi diujung kehidupannya, akan keluarlah sifat-sifat asli yang mungkin selama hidupnya tidak terlihat. Terkadang kondisi fisik juga mempengaruhi dari amal yang dulu dilakukan. Peristiwa di ujung ajal bisa menunjukkan diri seseorang apakah nantinya dihadapan Allah itu baik atau buruk. Sebagaimana kisah seseorang yang selama hidupnya berlebihan dalam bermain catur. Maka saat dicabut nyawanya, dia mengeluarkan kata-kata yang sama saat sedang bermain. Dan juga ada seorang yang sangat suka bernyanyi. Hingga nyawanya akan dicabut, bukannya mengucapkan kata-kata yang baik, dia malah bernyanyi. Naudzhubilla mindzalik.

Dari gambaran sebelum mati itu, kita dapat menilai seseorang apakah nantinya dia selamat dari adzab qubur atau tidak. Sebab nasib buruk atau baik, dilihat dari amalan dan ucapan didetik terakhir hidup seseorang. Rosulullah mengingatkan,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)

Dikabarkan dalam berita Saudi Arabia, ada anak muda yang meninggal karena penyakit tertentu. Kemudian proses mengurus jenazah anak muda itu hingga kepemakaman telah usai. Jarak beberapa jam, dari pihak dokter ingin melakukan otopsi. Dibongkarlah kuburannya. Maka para pembongkar kaget bukan main. Jasad anak muda yang baru beberapa jam dikubur telah berubah. Sekujur tubuhnya memar-memar. Kulitnya seolah kriput, putih pasi, seperti kulit lansia. Dari mulutnya mengeluarkan  darah segar. Wajahnya seperti habis dipukul benda keras berkali-kali. Rambut yang awalnya hitam, berubah warna menjadi putih semua. Padahal dia masih muda.
Belakangan diketahui bahwa dia sering mengakhirkan sholat.

Ketika peristiwa Tsunami menimpa Aceh, maka banyak para relawan yang datang untuk meringankan beban korban dari keluarga yang masih hidup. Selain itu pula mencari mayat yang tertumpuk-tumpuk disisa-sisa bangunan yang terseret gelombang Tsunami. Kemudian ada pengakuan dari salah seorang relawan bahwa ia melihat dua mayat yang masih berpakaian lengkap. Satu wanita dan satu laki. Bahkan kerudung wanita itu masih terpasang dikepalanya. Kemudian ia bertanya kepada orang yang mengenali jasad itu. Dia bilang bahwa dulunya semasa hidup rajin ibadah. Tidak jauh beda dengan laki-laki tersebut. Padahal dibandingkan dengan mayat yang lain, tidak ada satupun yang berbusana. Pakaiannya telah hilang bersama dengan nyawanya.  Kemungkinan besar Allah hendak menjaga aurat dari tubuhnya.

Jadi kondisi jasad bisa menilai seseorang bagaimana nasib nanti di alam barzakh.
Namun sebenarnya penilaian itu tidak mutlak selalu tepat hingga Allahlah yang memutuskan. Sebab manusia sangat terbatas kemampuannya. Hanya menilai apa yang dilihat. Apalagi menilai nasib manusia hingga dialam yang sangat jauh perbedaannya dengan alam dunia. Selebihnya Allahlah yang Maha mengetahui nasib akhir setiap manusia.

Apapun itu, kita dituntut untuk berusaha agar mati dalam husnul khotimah (akhir hidup yang baik). Bukan Suul khotimah (akhir hidup yang buruk). Banyak sekali manusia yang bersusah payah bagaimana agar mendapatkan hidup yang baik. Namun lupa berfikir untuk berusaha mati dalam keadaan yang baik. Hidup didunia hanya paling lama 100 tahun. Dan umur sebanyak itu termasuk  lama, karena batas maksimal bagi umat Muhammad antara 60 hingga 70 tahun, sebagaimana yang disebutkan dalam hadist. Jika ada yang lebih dari umur diatas, itu termasuk injury time dari Allah. Suatu bonus usia yang jarang manusia dapatkan.

Kenapa kita bisa menilai Para Nabi, Para sahabat, Tabiin, tabiut tabiin, adalah orang yang baik? Karena perkataan mereka sama dengan perbuatan. Dan saat kematian menjemput, mereka mati dalam keadaan baik. Ilmu yang mereka pelajari sejalan dengan aplikasi dalam kesehariannya. Memang saat mereka hidup tidak ada yang dapat menilai kecuali dari luarnya saja. Tapi saat mereka meninggalkan dunia, barulah kita mampu menilai luar dan dalam. Bisa kita katakan bahwa mereka adalah orang yang baik, manusia pilihan yang Allah hadirkan kebumi sebagai contoh untuk manusia setelahnya.

Semoga Allah anugerahkan kita selalu dituntun untuk mati dalam keadaan khusnul khotimah. 
Amin
#OneDayOnePost
Tulisan ke18




6 comments:

  1. Terima kasih tulisannya, Mas. Saya pembaca setia tulisanmu. Banyak ilmu yang saya dapatkan juga pengingat sampai bisa mengucurkan air mata saya membacanya.

    Tetap semangat menulis untuk kebaikan banyak orang ya Mas. Semoga kita semua bisa meninggal dalam keadaan yang khusyuk khotimah ... Aamiin ...

    Syukron katsiiron tulisannya Mas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2 mbak..moga brmnfaat dan doakan istiqomah tuk ttp nyebarin kbaikan lwat tlisan...

      Delete
  2. Aamiin Allahumma aamiin. Lagi, tulisan indh brmuatn ilmu. Mnfaat bgt buat saya. Ttp istiqomah mas

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih banyak udah mau mmpir mbak...smoga menginspirasi...
      doakan semoga istiqomah...

      Delete