Thursday, 17 November 2016

Jejak Langkah Penuh Kisah


Sebenarnya tidak ada yang istimewa dari autobiografi saya. Kisah perjalanan hidup saya tidak jauh beda sama manusia lainnya. Kalau mau diambil sisi menariknya pun sepertinya tidak ada. Bahkan mungkin bisa dibilang kisah perjalanan yang absurd. Garing. Tapi, sudahlah, itu mungkin basa basi dari saya.  he

Saya lahir disebuah daerah yang terkenal sampai hari ini dengan keburukannya. Yaitu Lampung. Orang sudah paham, disebut lampung pasti ngarahnya ke begal. Dikira Lampung isinya cuma begal saja. Padahal banyak orang-orang baik dan tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Menurut saya, begal adalah sebuah kerjaan dari oknum-oknum yang malas kerja dan kalau sekali kerja pengen hasilnya besar.
Pelakunya mayoritas bersuku Lampung. Begal itu seolah sudah seperti mata pencaharian bagi mereka.
Meski saya tinggal di Lampung, tapi saya memiliki darah sunda. Sayangnya sama sekali saya tidak bisa bahasa sunda. Menurut saya ada beberapa faktor. Pertama, karena orang tua tidak mengajarkan bahasa sunda. Kedua, lingkungan dimana saya tinggal sudah bercampur suku. Ada Lampung, Jawa, Padang dan Sunda. Kalau sudah berinteraksi kami menggunakan bahasa Indonesia. Ketiga, bagi saya bahasa Sunda susah dipelajari. Beda sama bahasa Jawa. Justru saya fasih kalau ngobrol pakai bahasa Jawa. Karena kebanyak teman dari orang jawa.

Satu hal yang menarik bagi saya dari memiliki darah sunda adalah suka lalapan. Bentuk lalapan apa saja bisa saya makan. Mentimun, kubis, terong bunder, daun singkong muda dan semua daunan yang bisa dilalap. Menurut pribadi saya lalapan dalam sebuah makanan itu sebagai penambah nafsu makan. Apalagi kalau sudah ada sambal terasi, makin tinggi nafsu makan saya. He.

Disaat kecil dulu tidak pernah berfikir akan tinggal jauh dari orang tua. Tapi mungkin karena terdorong dari keadaan dan kenyamanan, akhirnya saya tinggal jauh dari mereka berdua. Orang tua di Lampung saya tinggal di Depok. Di kampung sendiri saya lebih dikenal dengan orang yang suka pergi. Itu sebelum saya memutuskan tinggal di Depok. Entah kenapa saya kurang nyaman saja tinggal di kampung. Perasaan ada yang kurang kalau masih tinggal ditempat kelahiran. Cie…

Dari SMP sebenarnya saya sudah bisa dianggap orang yang “ngilang”. Karena saya sekolah disebuah pesantren yang lumayan jauh dari ortu. Lulus SMP lanjut ke Pesantren tingkat Aliyah yang tempatnya lebih jauh dari sebelumnya. Setelah lulus, ada tugas dari pesantren. Yaitu mengajar disebuah tempat yang sangat jauh dari kota. Tepatnya ditengah-tengah kebun karet. Sempat setelah selesai tugas saya kembali ke kampung halaman. Hanya 2 tahun tinggal bersama ortu, pergi lagi ke Bandar Lampung, kerja di air isi ulang. Tidak genap setahun, pergi lagi ke Demak. Ingin kembali merasakan suasana pesantren.
Tidak seperti pesantren sebelumnya. kalau pesantren ini gratis, tanpa dipungut biaya sepeserpun. Pesantren ini mendidik supaya para murid hafal 30 juz. Dibanding pesantren tahfidz lainnya, pesantren ini terbilang sedikit bebas. Tidak banyak peraturan. Yang penting saat setelah shubuh dan setelah ashar setor hafalan, berarti sudah termasuk murid yang rajin. Enak kan? bagi saya enak sekali. he.

Dari dulu yang saya dambakan adalah menghafal Qur’an. Nikmatnya bisa menjadi bagian dari para penghafal ayat-ayat mulia-Nya. Alhamdulillah saat itu terwujud. tinggal murojaah yang harus lebih kencang. Karena ternyata menjaga lebih susah dari pada menghafal.

Selesai hafalan, kemudian saya lanjut kuliah di sekolah tinggi. Tepatnya di Tambun. Padahal sebenarnya saat itu tidak ada niat untuk kuliah. Karena beasiswa, saya berfikir kesempatan emas tidak boleh dilewatkan. Syarat yang dominan biar lolos dapat beasiswa cuma satu. Yang penting pernah hafal Qur’an. Itu saja.

Nah, saya mulai merasakan aura dunia tulis menulis saat masuk didunia perkuliahan. Banyaknya tugas dari para dosen, menuntut saya untuk banyak bersinggungan dengan hal yang berbau tulisan. Karena saya termasuk dari murid yang masuk pada program percepatan S1 dalam setahun. Jadi tugas bajibun menumpuk tiap hari. Mau tidak mau harus selesai dan siap dipresentasikan di kelas.
Kenapa Tulisan saya lebih banyak berbentuk artikel? Mungkin bisa jadi terbawa saat di kuliah dulu. Dan saya gemar membaca majalah Islam bulanan saat aliyah. Makanya banyak karya tulisan saya di blog berbentuk artikel.
Yang menarik dari kampus ini bagi saya ada tugas dari kampus. Kalau dikampus lain disebut dengan PKL. Kepanjangannya bukan pedagang kaki lima ya, hehe. Tugasnya mengajarkan Islam tidak di "sembarang" tempat. Tugasnya dipelosok-pelosok desa terpencil dan terasing. Kakak kelas dulu ada yang tugas di Pelosok Maluku, Irian Jaya, Kalimantan, NTT, NTB dan perbatasan kalimantan malaysia. Bahkan sampai ada yang tugas di Timor-Timor. Meski masih berdampingan dengan Indonesia, tapi harus ada pasport kalau masuk daerah itu.  Jika sudah mendengar kisah-kisah mereka, rasanya sangat terharu dan memprihatinkan sekali.

Tapi sayangnya saya tidak ditugaskan dari daerah yang saya sebutkan diatas. Saya ditugaskan di pulau terpencil, perbatasan dengan kabupaten Karimun, Kepulauan Riau. Yaitu Pulau Terong. Dari sana saya sedikit banyak tahu bahasa Melayu. Karena memang mayoritas di Kepri masyarakatnya bersuku Melayu.

Setelah PKL usai, pernah berfikir ingin sekolah ke luar negeri lewat jalur visa kerja. Tapi mungkin  Allah cukupkan melanglang buana saya dan ditaqdirkan untuk menetap di Depok.
Ternyata Keinginan saya untuk melanglang buana tidak pernah padam. Saya punya cita-cita ingin mengunjungi dimana sejarah Islam pernah berdiri. Seperti di Makkah, Madinah (Hijaz), Andalusia (Spanyol hari ini), dan Turki. Sekarang lagi tahap mengumpulkan buku-buku sejarah Islam mengenai tempat-tempat tersebut. Juga tidak lupa menempelkan peta dunia di dinding kamar. Sebab kalau baca sejarah tapi tidak liat peta, rasanya aneh. Cuma bisa ngira-ngira aja tempatnya dimana.

Kalau melihat kondisi saya sekarang sepertinya mustahil bisa berangkat. Tapi rejeki Di tangan Allah. Dia yang mengatur rejeki manusia. Asal ada keinginan kuat, banyak berdo'a, dan ada usaha-usaha, saya optimis negara yang Islam pernah berdiri lama di negeri-negeri tadi akan saya kunjungi.

Amin

#OneDayOnePost

#Tantangan Odop minggu ini

16 comments:

  1. Semoga cita-citanya terkabul mas rohmat, aaamiin ya allah :)

    ReplyDelete
  2. Mulia bgt cita-citanya, mas Rohmat. Semoga disegerakan kesana.
    Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aminn mas bang heru..terima kasih udah mau doakan...moga terkabul cita2 saya

      Delete
  3. Subhanallah
    Perjalanan hidup yg luar biasa mas rochmat

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih bang fadli udah mau mampir...hehehe..pasti stiap kita punya crita2 dan cita2 yg mnakjubkan kok..cuma kadang kita aja jarang tau..

      Delete
  4. Subhanallah
    Perjalanan hidup yg luar biasa mas rochmat

    ReplyDelete
  5. Replies
    1. thankyu uncle udah mampir....hehe...mungkin tlisan saya ada yg perlu dikoreksi...mohon krisannya uncle..

      Delete
  6. Semoga diijabah Allah keinginanya mas. Br tau kl mas rohmat dr lampung. Kl sy dr padang tp tnggl di bandar lampung. Mas rohmat sunda ya? Wah kl saya suka bgt denger org sunda ngomong. Lembut. Dan kdg suka nyunda jg krn tertarik bhsanya jd saalit2 sy plajari.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aminn mbak...terima kasih sudah mmpir. Iya mbak saya sukuny sunda, tpi anehny gx bisa bhsa sunda..hehe..malah faseh kalo dah ngomong bhsa jawa.

      Delete
  7. jadi terharu...mas rohmat tolong doakan sy bisa juga menghafal qur'an...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin....iya mbak..saya doakan moga mbak bisa jdi bgian pnghafal qur'an...

      Delete
  8. Replies
    1. Moga mnginspirasi mbak Agustin... terima kasih dah mw mmpir di blog..hehe

      Delete